
Sari menjalani kesibukannya sebagai ibu baru, di bantu Nina dan Ratih. Sedangkan David hari-harinya begitu bahagia karena selalu bersama anak istri yang ia sayangi. Sebelum berangkat kerja, David selalu menyempatkan untuk menggendong Melvin, dan di kantor pun rasanya ia ingin cepat pulang untuk melihat buah hati tercinta juga ibunya. Hingga saat ini, Sari masih menjaga jarak terhadap David. Perkataan dan perlakuannya itu masih membekas dan belum bisa di lupakan, walau ia sudah memaafkan.
Di tempat berbeda, Rama kini sudah bisa merelakan wanita pujaannya, walau ia masih belum bisa membuka hati pada wanita yang lain. Rama kembali menyibukkan diri dengan bekerja dan bekerja.
****
“Malik..” David mencari keberadaan asistennya itu di ruangannya, tapi tak juga ia temukan.
Lalu, ia beralih ke pantry. Ternyata benar, asistennya itu tengah berciuman mesra dengan sekretarisnya.
“Ekhem..” David berdehem di pintu, sambil menyilangkan kedua tangannya di dada dan menyandarkan tubuhnya di sana.
Sontak Malik dan Angel menghentikan aktifitasnya. Angel yang tengah duduk di kitchen set itu pun langsung berdiri dan merapihkan rok serta kemejanya yang berantakan.
“Teruskan di apartemen kalian. Di sini tidak enak.” Ucap David, membuat Malik dan Angel malu.
“Maaf, Bos.” Jawab Malik, sementara Angel hanya menunduk.
“It,s oke. Oh iya, Saya ke sini hanya ingin memberitahumu, sepertinya besok aku akan mengantar istriku ke rumah sakit, jadi handle semua yang sudah di jadwalkan, kalau perlu ajak Abram untuk menemanimu bertemu Mr.Hang.”
‘Siap bos.” Malik mengagguk dan masih menunduk.
Lalu, David menghampiri kedua sejoli itu dan meelwatinya karena ia hanya ingin mengambil air mineral di sana. Sementara, Malik dan Angel sudah dag dig dug, khawatir David akan marah karena mereka memiliki hubungan dan melakukannya di area kantor.
“Sudah berapa sering kalian melakukannya?” Tanya David santai sambil meneguk air yang berada di gelas yang ia pegang.
“Kamu harus menikahi Angel. Apalagi kalau dia nanti hamil. Sekretarisku adalah wanita baik-baik.” Kata David lagi, sambil menepuk bahu Malik dan pergi.
Malik mengangguk, karena selama yang David tahu, Malik adalah tipe pria yang sama dengannya, suka bersenang-senang dan tak mau berkomitmen apalagi menikah.
David memang suami yang siaga, ia selalu membantu Sari dalam mengurus buah hatinya tanpa di minta, ia pun tidak pernah absen mengantar Sari untuk kontrol jahitan paska operasi. Jika menyangkut keperluan Sari dan Melvin, David langsung meng-cancel semua jadwal pekerjaannya, walau jadwal iu adalah pertemuan penting, ia akan tetap mendahulukan keluarganya, dan hal itu sangat membuat Malik kelimpungan. Melihat bosnya yang seperti ini, membuat Malik semakin membenarkan keputusannya untuk tidak mau menikah, karena menikah hanya akan membuatnya repot.
****
David langsung mengendarai mobilnya untuk pulang.
__ADS_1
Sesampainya di apartemen, ia langsung memarkirkan mobilnya di basement dan melangkahkan kakinya cepat menuju flat besar apartemen yang ia beli atas nama Sari. Walau hingga kini, Sari tidak pernah tahu bahwa apartemen itu miliknya.
Ceklek.
Perlahan ia membuka pintu itu dan tak terdapat siapapun di sini.
Kaki David langsung menuju kamarnya dan melihat Sari yang sedang duduk di sofa dan tengah menyusui Melvin di pangkuannya. Ia menghampiri Sari.
“Bagaimana keadaan jahitan di perutmu? Sudah di bersihkan?”
Sari menggeleng. “Belum sempat.”
David dengan cepat mengambil kotak obat yang menempel ada sudut dinding kamarnya.
“Ayo, aku bersihkan dulu.”
“Kamu baru pulang kerja, bersihkan dulu badanmu dan makanlah. Nanti aku bisa bersihkan sendiri.” Kata Sari, melihat David yang terlihat lelah.
“Tidak apa, sini aku bersihkan dulu lukamu.” Kata David lagi.
David menggendong Melvin yang terlelap di tangan Sari, setelah di beri ASI. Kerjaan Melvin hanya minum ASI dan tidur. Setelah itu, ia meletakkan Melvin di ranjangnya dan beralih lagi ke arah Sari.
“Berbaringlah.” David berjongkok di hadapan Sari.
Sari pun langsung membaringkan tubuhnya di sofa itu. Perlahan, ia membuka dres miliknya dari bawah. Kebetulan saat ini Sari hanya menggunakan dres selutut tanpa lengan dengan kancing busui di tengah dadanya, sehingga ketika harus memperlihatkan bagian perut, ia harus membukanya dai bawah. Alhasil David harus menelan ludahnya, saat melihat bagian paha Sari yang mulus dengan segitiga tipis yang ia kenakan.
“Tahan Dav, dia akan kembali jadi milikmu, kamu akan bisa merasakan tubuh itu lagi.” Gumanya dalam hati, sambil menatap bagian bawah perut Sari.
“Kamu mau mengobatiku atau hanya melihatnya?” Tanya Sari kesal, saat melihat arah mata David. Ia tahu apa yang ada dalam pikiran pria bule mesum ini.
“Oh, maaf.” David kembali fokus dengan apa yang harus ia lakukan.
Sari hanya mendengus kesal dan menghelakan nafasnya kasar.
Dengan telaten, David membersihkan luka itu.
__ADS_1
“Apa masih sakit?” Tanya David.
“Hmm.. Sedikit.” Sari melenguh dan terdengar seperti seorang yang tengah mendesah.
David ikut menegang mendengar suara itu, di tambah ketika ia melihat ke arah Sari, Sai tengah menggigit bibir bawahnya, membuat David semakin tidak tahan untuk bisa menggigit bibir itu juga.
“Sepertinya, luka ini sudah semakin mengering.” Ucap Sari yang ikut melihat lukanya dengan sedikit membangunkan tubuhnya, membuat David tersadar.
“Ah, Iya. beberapa hari lagi lukanya akan sembuh.”
Sari mengangguk.
Lalu, David emnutup kembali luka itu dengan kassa putih, setelah selesai di bersihkan. Tanpa ia Sadari, ia memajukan bibirnya untuk mengecup lembut luka itu, membuat mata Sari spontan terpejam.
“Maafkan aku telah memberikanmu banyak luka. Di sini.” David mengecup lagi luka di perut Sari, lalu menelusuri hingga ke bagian dadanya.
“Juga di sini.” David mengecup dada itu lagi dengan lembut.
“Aku berharap kamu bisa memaafkanku.” Kata David lagi lirih. Kali ini wajah David semakin dekat.
Namun, Sari tetap memejamkan matanya, hingga air mata itu mengalir dari sudut matanya. Ia tak berani untuk membuka mata dan melihat wajah itu tanpa jarak, karena ia sadar pria ini sudah sangat dekat dengannya saat ini.
Ibu jari David menghapus jejak air mata yang mengalir di sudut mata Sari.
“Bagiku pertemuan denganmu bukanlah kesalahan, tapi anugerah. Walau awalnya kamu bukan orang yang kuharapkan hadir pada malam itu. Tapi sekarang, kamu adalah orang yang tidak ku harapkan pergi. Aku mohon, jangan tinggalkan aku dan Melvin. Kami sangat membutuhkanmu.” Ucap David lirih.
Mata Sari tetap tertutup, walau telinganya mendengar jelas apa yang David ucapkan.
Lalu, David mengecup kening, kedua mata, hidung, dan yang terakhir bibir Sari.
“Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.”
Kemudian, David bangkit dari posisinya. Lalu, pergi menuju kamar mandi. Di sana, ia menangis sejadi-jadinya. Ia tak bisa membayangkan harus kehilangan wanita yang sangat ia cintai ini.
Di sofa, sari pun menangis sejadi-jadinya. Pernyataan cinta suaminya tadi, masih terngiang jelas di telinganya. Perlahan Sari bangkit dan duduk di sofa itu. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. kemudian ia menangis lagi.
__ADS_1
“Aku pun tak bisa meninggalkanmu. Entah mengapa kamu selalu bisa meluluhkan hatiku, tapi beri aku waktu.” Ucap Sari sambil menutup wajahnya yang tengah menangis.