Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
bisa mengambil hati


__ADS_3

Sari bersemangat membuatkan makan siang untuk suaminya yang pertama kali. David pun telah mengirimkan alamat kantornya melalui whatsapp. Pria berdarah Inggris itu malah mengirimkan supir untuk sang istri, agar tidak kelelahan.


“Nin, Bagaimana rasanya?” Tanya Sari pada asisten rumah tangga yang mulai hari ini tinggal di apartemennya.


“Enak kok, Bu.”


Sari tersenyum, saat Nina memberi tanggapan yang menyenangkan.


Kemudian, Sari menata rapih makanan itu. Sulit-sulit gampang memang membuat makanan untuk suami yang berketurunan asing itu, walaupun David sudah lebih dari delapan tahun di negara ini, tapi lidahnya masih belum menerima makanan tradisional. Sehingga Sari harus menggooggling menu makanan luar yang berbahan dasar daging, karena David sangat menyukai daging dengan olahan apapun.


“Saya pergi dulu ya, Nin.” Pamit Sari pada asisten rumah tangganya itu, saat ia sudah rapih dan akan pergi.


“Iya, Bu. Hati-hati.”


Sari mengangguk dan keluar dari apartemennya. Di basement, supir David telah menunggu kedatangan Sari. Saat ini, Sari terlihat elegan dan sexy dengan balutan off shoulder dress korean motif kotak-kotak kecil berwarna Hitam abu-abu. Rambutnya di biarkan terurai dengan hiasan make up natural di wajahnya. Ia ingat bahwa hari ini adalah hari pertama di bukanya kantor pusat milik suaminya. Entah mengapa David tak ingin Sari hadir di sana, ia tak ingin Sari menjadi objek mata para pria di kantornya, possesive sekali memang dan Sari pun tak maslaah, ia pun tak menyukai keramaian.


Bip.


Mobil sedan berwarna hitam itu berhenti di lobby gedung.


“Ini kantor Bapak, Bu.” Ucap Danu, supir David yang sudah ikut dengannya sewaktu masih di Bali.


Sari tersenyum, “terima kasih, Pak Danu.”


Sari pun keluar dari mobil dan masuk ke dalam gedung. Tak lupa ia membawakan bekal makanan untuk suaminya.


Tut.. Tut.. Tut..


Sari mencoba menghubungi nomor ponsel David, tapi tak kunjung di angkat.


“Lurus, belok kanan, persis ada di sebelah kanan.” Gumam Sari, menerka-nerka ruangan suaminya, seperti yang David sebutkan di pesan ponsel miliknya.


Setelah sampai di depan pintu yang ia rasa benar, Sari langsung membuka pintu itu.

__ADS_1


Ceklek.


Semua mata tertuju pada Sari, setelah ia membuka pintu itu. Di dalam ruangan itu terlihat ada 3 orang pria termasuk suami dan asistennya, juga 2 orang wanita, termasuk sekretarisnya.


“Ups, maaf. Maaf saya mengganggu.” Sari mencoba ingin menutup kembali pintu ruangan itu.


Namun, tiba-tiba suara David menghentikan langkahnya.


“Tunggu!”


Sari berhenti dan kembali menatap suaminya. David pun sejak tadi menatap intens Sari, ia terkesima dengan penampilan Sari saat ini, karena biasanya Sari selalu menggunakan pakaian sederhana. Kini, ia mulai memakai pakaian yang David belikan.


“Ini adalah istriku.” Ucap david pada ke empat pegawainya di sana.


Sari melangkah menghampiri David dan berdiri di samping suaminya. Ke empat orang di dalam ruangan itu adalah orang-orang kepercayaan David yang mengelola bisnisnya di sini, termasuk Abram, teman dekatnya selama tinggal di Bali


“Wah ternyata ini nyonya Osborne.” Ujar Abram seraya mengulurkan tangannya.


Sari menerima uluran tangan itu sambil tersenyum.


“Possesive sekali bos kita ini.” Ledek Abram.


“Saya hanya memperkenalkan bahwa ini adalah istri saya. Dan ini” David menunjuk pada salah satu wanita di sana yang bernama Angel.


“Dia adalah sekertarisku, Sayang. Namanya Angel.” Ucap David pada Sari.


Angel mengangguk hormat, begitupun Sari.


“Well, sekian instruksi singkat saya. Silahkan kalian kembali ke ruangan masing-masing.” David kembali duduk di kursinya, sementara para karywannya keluar dari ruangan itu satu persatu.


Abram menghampiri David dan berkata persis di telinganya.


“Pantesan lo kejar terus tuh cewek, dasar b*st*rd.” Ledek Abram pada David, sambil mencubit kecil pinggangnya.

__ADS_1


“Sopan sama atasan.” Teriak David, saat Abram mengeluyur keluar.


Abram hanya membalas dengan mengedipkan kedua matanya. Ia tahu persis sepak terjang dan karakter David, karena selama di Bali, David tinggal bersamanya dalam satu atap.


Sari mengiringi langkah orang-orang yang keluar dari ruangan suaminya. Ia pun mennutup kembali pintu ruangan itu.


“Sini!” Ucap David pada Sari.


Sari menghampiri suaminya.


“Aku bawakan makan siang untukmu.”


Sari berdiri persis di samping David dengan menunjukkan bekal makana yang ia bawa.


“Letakkan ini di sini, dan kamu duduk di sini.”


David menuntun tangan Sari untuk meletakkan bekal makanan itu di meja, sementara tangan David sudah berada di pinggang Sari untuk menyuruhnya duduk di pangkuannya.


“Apa yang kamu buat?” Tanya David, setelah Sari duduk di pangkuannya. Ia menempelkan wajahya pada bahu sari yang terbuka karena dress yang ia pakai.


David memperhatikan Sari yang sedang membuka makanan itu tepat di meja yang berada di hadapannya, dengan bibir yang terus menelusuri bahu dan leher jenjang yang terbuka itu.


“Kamu belum makan kan? Ayo makan dulu!” kata Sari menoleh ke arah David.


“Suapi.”


Sari menarik nafasnya kasar. “Baiklah.”


Ia meraih sendok dan menyuapi makan itu ke mulut suaminya. Sesekali Sari pun mengelap sisa makanan yang berada di bibir David dengan ibu jarinya.


David tersenyum dan terus memandangi istrinya, memakan dengan lahap hingga makanan itu tak tersisa.


Sari memang paling bisa mengambil hati pria bule ini, selain tubuh Sari yang membuatnya ketagihan, ternyata makanan yang Sari buat pun membuatnya ketagihan.

__ADS_1


“Love you.” Gumam David lirih, saat Sari membereskan bekal makanan yang sudah tak tersisa itu, membuat sari tak mendengar apa yang David ucapkan.


__ADS_2