Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
om-om mesum


__ADS_3

Matahari mulai menguning, hari semakin sore. Sari segera membersihkan tubuhnya dan bagian kedua gunung kembarnya untuk memberikan Asi pada sang putra. Elvira sudah pamit untuk pulang, sementara David memilih ke ruang kerjanya dan Nina juga sudah pamit untuk berangkat sekolah.


Sari keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handungnya di dada. Ia pun menggelung rambutnya ke atas. Sari terlihat sexy dengan balutan handuk yang memperliatkan bagian punggung serta kaki dan pahanya. Bagian kewanitaannya pun hanya tertutup sedikit karena handuk itu lumayan kecil.


Sari menghampiri box Melvin, ia ingin melihat apa putranya sudah bangun? Karena Sari meninggalkan Melvin yang sedang tertidur.


“Hey, kamu masih tidur? Mau mimi susu ngga? Sudah lama kamu tidak mimi langsung dari mama.” Sari terus mengelus pipi Melvin sambil berkata sendiri.


“Kalau Melvin tidak mau mimi langsung dari mama, biar papa saja yang menggantikan. Bagaimana?” Suara David tiba-tiba mengagetkan Sari.


Sedari tadi, David memperhatikan istrinya yang sangat sexy ini dari belakang. Kemudian, ia langsung menempelkan tubuhnya.


Sari pun menoleh. “Tuh kan nanti keduluan om-om mesum loh, Vin. Ayo bangun!”


David terkekeh geli. Ia semakin menempelkan tubuhnya pda Sari dan mulai membuka ujung handuk yang Sari selipkan di bagian dadanya.


Sari merasakan sesuatu yang mengeras di antara kedua pahanya. Ia mengerti suaminya menginginkannya lagi. Sari langsung menahan tangan David yang akan memebuka handuknya.


Sari menggeleng. “Sebentar lagi maghrib, nanti malam saja.”


“Sebentar, sebelum maghrib.”


“Melvin dulu.”


“Aku dulu, lagian Melvin juga masih tidur.”


“Uhuk..Uhuk..Uhuk..” Tiba-tiba Melvin tersedak dan dengan cepat David menepuk pelan bokong Melvin agar putranya tertidur lagi.


“Biar saja, biar bangun.” Sari menepis tangan David yang mencoba meninabobokan Melvin lagi.


Akhirnya, kedua mata Melvin terbuka dan langsung tersenyum ke arah kedua orang tuanya bergantian.


“Akhirnya, anak mama bangun juga. Ayo, mimi susu dulu!” Kata Sari sambil mengambil Melvin dari boxnya.


David hanya menelan salivanya dan menghela nafasnya kasar. Ia pun mengikuti langkah Sari menuju sofa. Perlahan Sari membuka ujung handuk dan menampilkan dua gunung kembarnya itu. Ia memberikan Melvin ASI di salah satunya, sementara satunya lagi di tutupi. Namun, dari arah belakang David membuka penutup itu dan ikut memegangnya, bibir David pun tak tinggal diam. Bibir itu menelusuri pundak dan leher Sari yang terbuka. Sari benar-benar seperti mengurus bayi kembar, karena bayi besarnya tidak mau mengalah.

__ADS_1


“Hmm.. Mas..” Sari merengek saat David menggingit pelan bahunya dan tangan yang menggerayangi satu gunung kembarnya yang menganggur dan bagian pahanya yang terbuka.


“Sayang, kamu ngga jadi ke Paris kan?” Tanya David. Ia mulai menghentikan aktifitasnya dan satu tangannya beralih pada pipi Melvin.


“Ya, mau bagaimana lagi? Berkas-berkasnya tertinggal di sana. harusnya aku kirim dokumen itu hari ini supaya tiga hari ke depan bisa sampai, karena tiga hari lagi jadwal terakhir pengumpulan dokumen. Jika aku tidak mengirimnya hari ini, berarti tidak ada berkas yang masuk kesana dan langsung dinyatakan gugur.”


“Alhamdulillah.” David mengucap syukur.


“Lagian, aku ngga bisa kemana-mana, Aku punya dua bayi yang harus di urus.”


“Dua bayi?” Tanya David, menatap wajah Sari dari samping dengan jarak yang sangat dekat.


“Iya, dua bayi.” Sari menunjukkan dua jarinya ke atas.


“Melvin dan kamu. Lihat saja ini nempel terus dan manja banget sudah seperti Melvin bukan?” Sari membalas tatapan David, membuat David langsung tertawa.


“Udah, mandi sana!” Sari menggoyangkan bahunya yang masih di tempel oleh dagu David.


David menggelengkan kepalanya.


“Ih, dasar om-om mesum.” Ledek Sari.


Melvin tertawa dan melepaskan mulutnya dari p*t*ng Sari. Bayi tampan itu tertawa pada sang ayah yang sedang menggodanya dari balik bahu Sari.


Sari kembali menggoyangkan bahu dan sikunya agar David menjauh.


“Tuh kan, Melvin jadi ikut ngga konsen nyusunya. Kamu gangguin aja. Ish..” Sari mendorong tubuh David dengan satu tangannya.


“Sana mandi.”


David masih tertawa walau saat ini posisinya sudah sedikit menjauh.


“Pelit.” Kata David sambil tersenyum dan menjauh.


“Biarin. Dari kemarin udah kamu terus, sekarang gantian sama anaknya.”

__ADS_1


“Oke, yang penting nanti malam. Fix.” David mengedipkan satu matanya dan menggigit bibir bawahnya, menunjukkan gaya sensual sambil menunjuk tangannya ke arah Sari.


****


Malik menyerahkan berkas-berkas di tangannya pada David.


“Ini bos, sepertinya bukti-bukti ini sudah cukup jelas.” Kata Malik.


David yang sedang duduk di kursi kebesarannya pun tersenyum licik, sambil memegang berkas yang Malik berikan.


“Good. Eksekusi sekarang, Lik. Serahkan bukti yang kita punya pada pihak yang bersangkutan. Biar mereka menangkap Dito dengan caranya.” Jawab David dingin.


Malik langsung menelepon instansi pemerintah yang menangani kasus korupsi. Lalu, mengajaknya untuk bertemu.


“Sir, saya sudah mengatur pertemuan dengan ketuanya langsung.” Kata Malik, setelah menutup teleponnya.


“Kapan?” Tanya David seirus.


“Nanti malam, kebetulan hari ini mereka free.”


“Good, kerja bagus. Boy.” David dan Malik mengadukan ujung kepalan tangannya, sambil tersenyum.


“Oke, Bos. Saya permisi dulu.” Pamit Malik untuk keluar dari ruangan David.


“Oh, ya. Kapan kalian menikah?” Tanya David saat Malik hendak membuka pintu ruangannya.


“Saya? menikah dengan siapa?” Tanya Malik menujuk dirinya sendiri.


“Ya, sama Angel lah. Kasian sekretarisku, melayanimu tapi tidak di beri status.”


Malik menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


“Oh, itu. Masih belum ada rencana, Bos.”


“Nanti di tikung orang, baru merasa kehilangan.” Ucap David.

__ADS_1


“Tidak mungkin, Bos. Dia sangat mencintaiku.” Jawab Malik tersenyum, lalu ia kembali berpamitan keluar dan David mengangguk.


__ADS_2