
“Hmm.. Sari pasti akan merindukan Ibu, Ayah, dan Ardi.” Ucap Sari saat menemani Ratih yang sedang mengemasi barang-barangnya.
Pagi-pagi sekali, David sudah berada di ruang kerjanya. Ia selalu memantau bisnisnya secara virtual. Bahkan, ketika Sari baru membuka mata, David sudah tidak ada di sampingnya. Pria itu memang penggila kerja, juga penggila wanita, begitulah julukannya selama ini.
“Ibu juga pasti merindukanmu.” Ratih menghampiri Sari yang duduk di tepi tempat tidur.
“Jaga rumah tangga kalian, urus suamimu dengan baik. Dalam rumah tangga pasti akan ada percecokan, itu hal biasa. Yang penting jalin komuikasi dengan baik.” Ratih berkata lagi dan sesekali mengelus pundak sang putri yang sudah tak lagi remaja.
“Ibu..” Sari memeluk ibunya.
“Nanti, sering-sering telepon ke rumah. Kalau Ibu yang telepon ke kamu kan mahal.”
Sari tertawa. “Iya, Ibu ku sayang.”
Ceklek
Teguh membuka pintu kamarnya.
“Sudah siap, Bu?” Tanya Teguh.
“Sudah, Yah.” Jawab Ratih.
Sari masih menatap kedua orang tuanya. ia pasti akan merindukan sosok mereka.
Teguh mendekati Sari. ‘Jaga dirimu baik-baik ya, Nak.”
Ia mengelus rambut putrinya.
“Kalau ada sesuatu yang terjadi, telepon ke rumah. Ayah akan menjemputmu.”
“Terima kasih, Ayah. Sari sangat menyayangi ayah.”
“Ayah juga, Nak. Jangan pernah kamu pendam masalahmu sendiri!” Ucap Teguh, yang merasa bersalah atas kejadian Sari sebelumnya.
“Iya, Nak. Kami selalu ada untukmu.”
Sari memeluk kedua orang tuanya. “Terima kasih, Ayah Ibu. Sari sangat menyayangi kalian.”
Di balik pintu kamar Teguh dan Ratih, berdiri David yang sedari tadi mendengar percakapan anak dan orang tuanya. Ia terharu melihat kedekatan Sari dan orang tuanya. Ia memang tidak salah pilih, Sari memang gadis yang baik, terbukti semua orang yang ada di sekelilingnya begitu menyayangi. Ia pun bertekad akan menjaga Sari dengan segenap jiwanya.
“Maaf, Yah, Bu. Ayo kita sarapan!” David mengajak langsung keluarga sari untuk sarapan. Ia sengaja meng-alarm ponselnya untuk makan pagi bersama.
David memang paling bisa mengambil hati keluarga Sari, khususnya Teguh. Ia bagaikan menantu idaman yang selalu ada kapanpun dan sangat perhatian, walau sesungguhnya memang itu tulus dari hatinya.
__ADS_1
David, Sari, Teguh, Ratih, dan Ardi sudah berada di meja makan. Mereka menikmati makan pagi bersama.
“Mba, belum mandi apa?” Tanya Ardi yang duduk di seberang Sari.
Sari menggeleng.
“Kebiasaan. Udah punya suami masih jorok.” Ledek Ardi.
“Apa sih kamu? Lagian aku ngga bau tau.” Sari mencium ketiak kiri dan kanannya.
“Aku ngga bau kan?” Tanya Sari pada David.
“Bau juga aku suka.” Jawab David.
“Haish.. aku padamu, Mas David.” Ardi tertawa meledek, sambil menunjukkan ibu jari dan telunjuknya membentuk hati.
David tersenyum, begitupun Ratih dan Teguh.
“Namanya juga pengantin baru.” Sahut Ratih.
Sari jangan di tanya. Ia menunduk malu, menyembunyikan wajahnya yang merona. Sungguh ia malu dengan sikap David yang menggodanya persis di hadapan keluarganya.
Setelah selesai makan siang, mereka duduk di ruang keluarga. Jadwal kepulangan Teguh, Ratih, dan Ardi ke Malang siang hari. Mereka masih ada waktu untuk bersantai-santai sejenak.
“Yeah, Ibu memang the best.” Riang Sari.
“Yah, nanti kalau kamu sudah jadi ibu juga akan melakukan apapun untuk anaknya, sama seperti ibu.” Jawab Ratih dan langsung di angguki Sari.
“Ya sudah sana mandi! Kebiasaan buruk tuh jangan di pelihara. Malu sama suami, untung tuh bule doyan walaupun istrinya jarang mandi.” Ledek Ratih.
Sari hanya membalas ledekan Ratih dengan nyengir kuda.
Memang jika di rumah, Sari paling malas mandi. Apalagi ketika libur, ia baru mandi ketika menjelang sore, atau tidak sama sekali dalam satu hari itu.
Sari melangkahkan kakinya menuju kamar. Ia memang ingin segera membersihkan tubuhnya. berbeda ketika berada di rumahnya, Sari akan cepat selesai jika mandi. Namun di apartemen ini, Sari bisa berlama-lama di kamar mandi, mengingat kamar mandi yang berada di kamar David adalah kamar mandi yang paling luas, mewah dan nyaman.
David melihat sang istri yang berjalan menuju kamar. Ia pun berpamitan pada Teguh untuk pergi ke kamarnya. Ia rindu menjahili istrinya, karena tingkah Sari yang lucu dan konyol menjadi mood boasternya sekarang.
Sari yang sudah berada di kamar mandi, membuka seluruh pakaiannya. Kamar mandi ini memang tidak di sertai kunci di dalamnya, karena memang ini merupakan kamar mandi pribadi yang terletak di dalam kamar.
David membuka perlahan pintu kamar mandinya. Ia melihat Sari yang sudah tak menggunakan apapun. Tubuh Sari yang mulai berisi dan sintal tengah berdiri di guyuran shower. Lagi-lagi David hanya bisa menelan ludahnya kasar. Ia menatap Sari tak berkedip. Jika Sari hanyalah wanita satu malam yang biasa ia bayar atau datang dengan sukarela, mungkin akan langsung dia terkam, hingga tak bersisa. Namun, wanita di hadapannya ini adalah Sari, yang dua hari lalu telah resmi di jadikan istri sahnya, yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya, yang akan menemaninya dalam suka dan duka, sakit maupun sehat. David juga sudah berjanji tak akan memaksa Sari dalam melakukan hubungan intim, karena ia mengerti apa yang di lakukannya dulu masih membekas dalam benaknya.
David membuka pakaiannya, dan hanya menyisakan celana boxer saja. Ia hanya ingin mandi bersama sang istri. Ia ingin Sari bisa menerima sentuhannya perlahan.
__ADS_1
David mendekati Sari yang sedang membelakanginya. Bokong Sari yang bulat, cukup membuat David bergairah. Telapak tangannya menyentuh pundak Sari yang polos.
Tiba-tiba tubuh Sari menegang. Ia langsung menghentikan gerakan tangannya yang semula sedang mengelus rambutnya yang panjang. Sari sadar ada tangan pria yang sedang menyentuhnya. Ia sadar pria itu adalah David, pria yang paling ia takutkan dan ia jauhi justru sekarang malah menjadi suaminya.
Sari terdiam, ia tak boleh pergi atau marah, karena lambat laun ini pasti terjadi. Ia mencoba menerima sentuhan itu.
Tangan David semakin menjelajahi tubuh itu, di tambah respon Sari yang hanya diam mematung. David meraba semua bagian tubuh Sari dan semakin menempelkan tubuhnya pada Sari.
“Aku hanya ingin memandikanmu. Aku tidak akan memintanya, jika kamu belum siap.” Ucap David persis di telinga Sari.
Sari masih diam mematung.
David mulai mencium leher dan pundak Sari dengan lembut. Kaki Sari terasa lemah, ia menempelkan kedua telapak tangannya di dinding. Sensasi yang di rasakan saat ini, jauh berbeda dari apa yang di lakukan David pertama kali menyentuhnya. Sari menggingit bibirnya dan memejamkan kedua matanya.
Tiba-tiba ingatan itu kembali muncul. Ingatan ketika David menerobos bagian kewanitaannya dengan paksa. Ingatan bahwa hal itu sangat menyakitkan, bukan hanya hatinya yang sakit tapi juga fisiknya.
“Sakit..” Sari bergumam lirih dengan tetap mata yang terpejam
“Aku tidak bisa berhenti, kamu begitu nikmat.” Ucapan David di malam itu, masih terngiang dalam ingatannya.
“Sakit.. Tolong Jangan!” Sari bergumam lagi.
Sontak membuat David berhenti dan membalikkan tubuh Sari. Ia pun menghentikan guyuran air itu.
“Sorry, I'm so sorry.” David memeluk tubuh mungil Sari yang masih memejamkan mata.
“Maaf, Sayang. aku tidak memaksamu. Aku hanya ingin..”
“Ssstt.. aku yang minta maaf karena belum bisa melaksanakan kewajibanku dengan baik.” Sari yang sudah membuka matanya saat David berkata, langsung memotong perkataannya.
“Aku hanya ingin kamu terbiasa dengan sentuhanku.” Kata David lirih.
Sari mengangguk dan tersenyum.
Cup
David mencium bibir Sari yang basah, bibir yang sedari tadi selalu di lihatnya.
Sari pun membalas pangutan itu. Ia membuka mulutnya dan membiarkan David mengeksplor seluruh bagian yang ada di sana.
David yang mendapat balasan dari Sari, tak menyia-nyiakan hal itu. Ia langsung ******* bibir itu lembut, terus tanpa henti, hingga pangutan itu menjadi agak sedikit liar. David mulai rakus ******* bibir Sari.
Setelah sadar Sari mulai kehabisan oksigen, David melepas pangutannya. Sari menghirup nafasnya dalam-dalam. Lalu, David kembali memangut bibir itu lagi, seolah tiada hari esok. Kali ini David menciumnya dengan rakus dan menuntut. Sari pun mencoba untuk mengimbangi ciuman lihai yang di lakukan David.
__ADS_1
Setelah puas mencium bibir Sari, David mulai menyabuni tubuh istrinya dengan lembut. Ia menepati janjinya yang tak akan memaksa, dengan segenap jiwa dia menahan gejolak yang sudah sangat memuncak, hanya karena ingin memulihkan trauma sang istri yang memang di sebabkan olehnya. David menjadi pria yang pernah merusak Sari, sekaligus menyembuhkannya.