
“Ayah.” David menyalami Teguh dan mencium punggung tangannya.
“Ibu.” Kemudian, ia bergantian menyalami Ratih dan mencium punggung tangannya juga.
Sari menghampiri sang suami yang baru saja pulang kerja. Ia membukakan jas dan memberikan suaminya air putih.
“Ayah dan Ibu sudah makan?” Tanya David yang ikut duduk sebentar bersama kedua orang tua Sari di ruang keluarga.
“Belum, kami menunggumu.” Jawab Ratih.
“Ya, ampun Ibu, Ayah. Tidak usah seperti itu. Saya jadi tidak enak.”
“Tidak, apa. Lagi pula kami masih menunggu Ardi dan Mommy mu kan.” Kata Teguh.
David mengangguk. Hari ini, memang semua keluarga berkumpul di apartemen Sari, karena mereka akan berangkat bersama ke kampung halaman David menggunakan jet pribadi.
“Saat ini Ardi sedang dalam perjalanan, sebentar lagi sampai.” Sahut Ratih.
“Oh, Oke. Kalau begitu saya pamit ke kamar untuk bersih-bersih dulu.” Ucap David.
“Mommy sudah kamu jemput, Mas?” Tanya Sari pada suaminya yang sudah berdiri dan hendak menuju kamar.
“Sudah. mungkin sebentar lagi juga sampai.”
Sari mengangguk.
Lalu, David berpamitan lagi untuk meninggalkan kedua mertuanya di sana. Sari pun ikut mengekori suaminya dari belakang.
Sesampainya di kamar, David duduk di tepi ranjang. Hari ini memang sangat melelahkan, ia harus memastikan pekerjaannya berjalan dengan lancar selama ia tinggalkan beberapa minggu. Sementara Sari dengan sigap menyiapkan air hangat untuk suaminya.
“Hey, capek ya?” Sari menangkup wajah sang suami dan berdiri dekat di hadapannya.
David tersenyum dan mengangguk.
“Tapi jika sudah sampai rumah, lelahnya hilang.”
Sari tersenyum, sambil mengelus wajah lelah suaminya.
“Aku tambahin supaya lelahnya semakin hilang.”
Sari ******* bibir tebal David. Kemudian, David langsung membalas pangutan itu. Sari sudah sangat lihai dalam berciuman, sepertinya kelihaian sang suami sudah menular padanya.
“Hmm...” Sari melepas pangutan itu.
“Semakin pintar sekarang?” David tersenyum, sambil mengelus bibir Sari yang basah.
Sari membalas dengan senyumnya yang manja. “Karena aku menikah dengan pakarnya.”
David tertawa.
“Temani aku mandi!” Ia menggenggam jemari Sari, ketika Sari hendak meninggalkan David untuk menyiapkan pakaiannya setelah mandi.
“Tapi jangan lama-lama, karena di luar, semua orang menunggu kita untuk makan malam bersama.”
David mengangguk.
Sari pun mengikuti keinginan suaminya. Ia memang tak pernah menolak apapun yang David minta, membuat David semakin mencintai sang istri.
****
Ting.. Tong...
Bel apartemen sari berbunyi dan Nina dengan sigap membukanya.
Ceklek
Persis di hadapan Nina berdiri seorang pria bertubuh tegap dengan rambut yang di pangkas cepak.
“Hai, Nin. Apa kabar?” Tanya Ardi denga senyum yang manis, membuat jantung Nina berdetak kencang.
Nina memang menunggu kedatangan adik Sari ini.
“Alhamdulillah, baik.” Jawab Nina menunduk malu.
Ardi masuk ke dalam dan berjalan pelan menuju Ratih dan Teguh yang sudah menunggunya di ruang kelurga.
__ADS_1
“Akhirnya, kita bertemu lagi, ya.” Ujar Ardi pada Nina yang masih malu-malu.
Nina mengangguk.
“Ayah, Ibu.” Panggil Ardi setelah melihat kedua orang tuanya duduk di sana di temani Melvin yang bermain di bawah karpet.
Ratih sangat senang bermain bersama cucunya, karena saat ini Melvin sudah mulai merangkak dengan jarak yang cukup jauh.
“Ardi.” Ratih langsung menghampiri putranya yang lama tak ia temui.
“Kamu sehat, nak?” Tanya Ratih sambil mengusap tubuh sang putra.
“Sehat, Bu.”
Ardi mencium punggung tangan ibunya, lalu beralih pada sang ayah.
“Kamu betah di sana, Ar?” Tanya Teguh.
“Harus betah, yah. Ini kan pilihan Ardi sendiri.”
“Syukurlah kalau begitu.” Teguh memeluk putranya.
“Mba Sari sama Mas David mana?” Tanya Ardi sambil celangak celinguk mencari kakanya.
“Masih di kamar.” Jawab Teguh.
“Mba Sari gimana sih? Tamu udah pada dateng masih ngamar aja.” Gerutu Ardi.
“Tadi, kakak iparmu juga baru pulang kerja.”
“Oh.” Pikiran Ardi sudah melanglang buana, mengingat ia pernah menginap di sini dan sering melihat sang kakak yang tak keluar kamar hingga seharian. Waktu itu ia tak tahu, apa yang di kerjakan pasangan suami istri itu di dalam kamar. Tapi kini Ardi sudah lebih mengerti.
Lalu, Ardi mengambil Melvin yang sedang duduk setelah, berlarian merangkak ke sana ke mari.
“Eh, ini si ganteng, ponakan Mas Ardi.” Ardi tersenyum mengangat Melvin tinggi.
“Loh, Kok mas, harusnya tuh pak lek.” Sahut Ratih.
“Ardi ga mau di panggil Pak Lek, kesannya udah tua banget.”
Teguh hanya tertawa.
Tak lama, Nina keluar dan membawakan Ardi minum. Ardi dan Nina saling melirik dan memandang sambil tersenyum.
Di sebuah kamar mandi yang terletak di dalam kamar, Sari tengah melayani suaminya. Semula David hanya minta di temani dan di gosokkan punggung belakangnya sambil di pijat oleh Sari. Namun, lama kelamaan, Sari pun di minta untuk membuka bajunya. Alhasil, Ia harus melayani hasrat suaminya yang terlanjur menggelora.
“Mas.. Hmm..” Nafas Sari terengah-engah saat David masih melakukan penyatuan itu.
“Mas, jangan lama-lama. Ah.. Hmm..” Suara Sari terdengar sensual.
“Sebentar lagi, Sayang.” Ucap David yang sedang menikmati penyatuan itu.
Tak lama kemudian, David mengerang, hingga suaranya menggema di kamar mandi yang cukup luas itu.
Sari memeluk tubuh suaminya yang ambruk di dadanya. Mereka berada di dalam bath up yang cukup besar.
“Maaf, Sayang. Aku tidak tahan. Aku selalu menginginkanmu.” Ucap David yang memang semula tak berniat untuk meminta ini.
“Iya, tidak apa.” Sari mengelus rambut suaminya yang basah.
David sedikit bangkit dan mencium kening Sari.
"Terima kasih, Sayang. kamu sangat perngertian.”
Sari tersenyum dan mengajak David untuk kembali mandi, mengingat di luar kamar, semua keluarga pasti sudah berkumpul.
“Asslamualaikum.” Ucap Elvira yang baru saja tiba.
“Waalaikumusalam. Eh Mami El.” Jawab Ratih yang langsung menghampiri Elvira dan memeluknya.
“Sehat, Bu Ratih?” Tanya Elvira.
“Apa kabar, Pak?” Kemudian elvira menyalami Teguh yang juga menghampirinya.
“Sehat. Alhamdulillah. Ibu sendiri bagaimana?” Teguh kembali bertanya.
__ADS_1
“Sama, Pak. Saya juga sehat.”
“Panti asuhannya bagaimana, Bu?” Tanya Teguh lagi berbasa-basi.
“Baik, Pak. Semuanya lancar.”
“Syukurlah.” Jawab teguh dan David bersamaan.
“Ini pasti Ardi, ya?” Tanya Elvira saat melihat adik lelaki Sari, pasalnya ini adalah kali pertama Elvira bertemu dengan Ardi.
“Iya, Mam.” Jawab Ratih.
Ardi pun langsung menghampiri Elvira dan mencium punggung tangannya.
“Oh, iya ini tuan rumahnya kemana?” Tanya Elvira lagi.
“Tadi sih pamit ke kamar ingin bersih-bersih, karena Nak David juga baru pulang kerja. Tapi sudah satu jam belum keluar juga.” Jawab Ratih santai.
Elvira tertawa. Ia tahu persis bagaimana tingkah putranya, jika sudah bersama sang istri.
“Yah, namanya juga pasangan muda ya, Bu.” Kata Elvira.
“Ya, begitulah, di maklumi.” Ratih tertawa, begitu pun Teguh yang sudah mesam mesem.
Tinggal Ardi dan Nina yang bingung dengan arah pembicaraan para orang tua ini.
Di dalam kamar, Sari sudah rapih dengan memakai dres tanpa lengan dengan bagian leher berbentuk ‘V’ berwarna merah marun. Kulit Sari kini terlihat semakin cerah. Sedangkan David menggunakan kaos oblong dan celana cargo pendek.
“Mas, Aku keluar duluan ya.”
David mengangguk sambil tersenyum.
Perlahan sari membuka pintu kamarnya dan keluar menghampiri keluarga yang sudah menunggu di sana.
“Mommy.” Sapa Sari pada Elvira,
“Sayang.” Elvira tersenyum saat melihat rambut panjang Sari yang tergerai basah. Pasalnya tadi, sari tidak sempat mengeringkannya dulu. Lalu, mereka berpelukan,
“Mba, ga kangen aku.” Celetuk Ardi.
Lalu, Sari bergantian memeluk Ardi setelah selesai berpelukan pada Elvira.
“Hmm... Adiknya mba yang ganteng.” Sari memeluk erat sang adik, sambil menggoyangkan tuuhnya ke kanan dan ke kiri.
“Aku juga kangen mba Sari.” Ucap Ardi.
“Ekhem.” Di belakang tubuh Sari, David berdehem. Ia tak suka istrinya di peluk erat seperti itu, walaupun dengan adiknya sendiri.
“Eh, Mas David.” Ardi melepaskan pelukannya dan menghampiri kakak ipranya itu.
“Hei, kamu semakin dewasa saja, Ar.” Ucap David, saat mereka berpelukan.
“Iya donk, Mas.”
“Berarti sudah tidak boleh manja-manja lagi dengan mba Sari, tapi kalau sama mas David boleh.”
Sari mengeryitkan dahinya. Ia tahu apa maksud ucapan suaminya.
“Posesive banget, masa sama Ardi aja cemburu.” Ucap Sari pelan, ketika semua keluarganya tengah berjalan menuju ruang makan.
“Karena kamu punyaku, hanya aku yang boleh memeluk dan menyentuhnya.”
“Ish..” Sari mencubit perut David dengan sedikit keras.
“Aww..” Teriak David.
Teguh dan Ardi sudah duduk di meja makan, Nina dan Ratih menyiapkan minum dan berdiri di depan kitchen set, sementara Elvira menggendong Melvin. Lalu, semua arah mata mereka tertuju pada david yang berteriak.
“Kenapa, Nak?” Tanya Ratih.
“Tidak apa, Bu.” David melihat tatapan semua orang yang tertuju padanya. Ia nyengir dan kembali berdiri tegap, lalu berjalan menuju meja makan dan duduk di samping Teguh.
David tertawa ke arah Sari yang masih mengelembungkan pipinya dan membulatkan matanya.
Kedua keluarga ini, akhirnya menikmati makan malam, setelah menunggu lama si tuan rumah yang tak kunjung keluar dari kamarnya tadi.
__ADS_1