
Kini, Sari sudah mencoba melupakan apa yang di katakan Bianca beberapa waktu lalu. Melihat dan merasakan kasih sayang serta perhatian David yang tulus, membuatnya bertekad akan melupakan apapun tentang masa lalu, tentang kejadian pada malam petaka itu, tentang David yang pernah menyukai Inka, dan tentang dirinya yang pernah menjadikan Rama sebagai pria satu-satunya yang pernah ada di hatinya.
Saat ini, Sari hanya ingin menatap hidupnya ke depan bersama anak dan suaminya. Bahagia bersama keluarga kecilnya itu.
Pada malam harinya, Ardi mengemasi barang-barang di kamarnya, sudah hampir sepuluh hari dia di sini, menemani sang kakak hingga suaminya pulang.
“Ar, titip salam buat ibu dan ayah ya.” Ucap Sari.
Rambut Sari di biarkan terurai. Saat ini ia pun tengah memakai piyama lengan panjang dan celama panjang. Ia tak mau Ardi dan Nina melihat banyak tanda merah di semua bagian tubuhnya yang mungkin dapat terlihat jika hanya mengenakan dres batik selutut dengan lengan pendek, seperti yang biasa ia kenakan.
“Iya, Mba.”
“Jadi, akhirnya kamu ambil akademi militer? Tidak jadi Teknik?”
Ardi mengangguk.
“Loh, kenapa? Apa ini keinginan ayah ya?” Tanya Sari lagi.
Ardi mengangguk. “Ardi hanya ingin melihat ayah bangga.”
Sari memeluk tubuh sang adik.
“Mba juga bangga sama kamu. Adik kesayangan mba yang baik hati dan penurut.”
Nina tersenyum, sikap Ardi memang manis terhadap siapapun apalagi terhadap keluarganya.
“Beruntung sekali wanita yang mendapatkan lelaki seperti dia.” Gumam Nina sambil tersenyum memandang Ardi yang tengah berpelukan dengan sang kakak.
****
Keesokan paginya, David dan Sari bersiap mengantarkan Ardi ke bandara, setelah itu, ia ingin mengajak Sari mampir ke panti asuhan milik Elvira dan bertemu dengan sang ibu.
“Bu, saya boleh ikut mengantar mas Ardi?” Tanya Nina yang sudah rapih mengenakan rok jeans di bawah lutut dan kaos putih polos lengan pendek.
“Kamu cantik sekali, Nin.” Ucap Sari yang melihat Nina dengan wajah naturalnya.
Nina tersipu malu, karena di ruang makan itu sudah ada Ardi dan David yang juga sedang menatapnya.
Kemudian David menatap Ardi yang tak berkedip memandang Nina.
“Ssst... “ David memberikan isyarat pada Ardi yang duduk di sebelahnya.
Ardi menoleh ke arah David.
“Bukannya kamu punya pacar?” Tanya David pada Ardi. Lalu, Ardi langsung menunduk.
****
“Daah Ardi.’ Sari melambaikan tangannya, ketika ia berdiri di tempat yang tak bisa lagi untuk masuk ke dalam.
“Hati-hati, Ar. Kaabri jika sudah sampai.” Ucap David, sambil merangkul pundak Sari.
“Siap, Mas.”
Lalu, arah mata Ardi tertuju pada Nina. Kemudian, ia menghentikan langkahnya dan menghampiri Nina.
“Oh iya, ada sesuatu untuk kamu.” Ardi memberikan gantungan berbentuk princes.
“Ini untukmu, sampai ketemu lagi.” Ucap Ardi lagi dengan senyum mengembang.
__ADS_1
Nina menerima benda itu dan tersenyum.
David dan Sari hanya melihat adegan anak abege itu dengan senyum.
Setelah mengantar Ardi. David membawa Sari dan Nina ke panti asuhan milik Elvira. Sari pun sudah rindu dengan wanita paruh baya itu.
“Mommy..” Panggil Sari saat melihat Elvira yang berada di ruang tengah panti, sambil menggendong balita.
“Sari..” Elvira mengembang senyum saat melihat menatunya datang, di iringi oleh sang putra di sampingnya
Elvira melihat david yang tengah tersenyum kepadanya. Kemudian, Elvira memberikan balita yang tadi sedang ia gendong ke patugas yang lain.
“Mom.” Sari mengecup punggung tangan Elvira, begitu pun David.
“Dav..” Elvira memeluk putranya.
“Maafkan dav, Mom. Maaf selama ini David membenci Mommy.” David menangis di pundak Elvira.
“Mommy juga minta maaf, sayang. Maaf mommy meninggalkanmu saat kamu masih kecil, karena mommy tidak punya pilihan.” Elvira menangis sesegukan.
Sari dan Nina hanya memandang haru.
“David mengerti, Mom.”
“Terima kasih, Sayang. terima kasih karena kamu mau mengerti dan mau memaafkan Mommy.”
Kemudian, david melonggarkan pelukan itu dan menghapus air mata yang membasahi pipi sang ibu.
“Mulai sekarang, Mommy tidak boleh menangis lagi, okey.” David memberi senyum manisnya pda sang ibu.
Elvira pun tersenyum.
Sari pun menghampiri Elvira dan David.
“Terima kasih, sayang. ii juga berkat kamu. Mommy beruntung mempunyai menantu yang baik sepertimu.” Elvira memeluk sari erat.
Sari menerima pelukan itu dan tersenyum.
David pun memeluk kedua wanita yang berdiri dekat di depannya.
“Aku yang beruntung memiliki dua wanita baik dan hebat.”
****
Satu minggu berlalu, kini Sari tak lagi mempermasalahkan tentang perkataan Bianca, karena semua itu tertutupi dengan sikap David yang manis dan perhatian. David pun tak pernah absen untuk mengantarkan Sari periksa kandungan di setiap minggu.
Sari merebahkan diri di sofa, setelah mengantarkan David berangkat kerja hingga depan pintu apartemennya. Hari ini ia sangat lelah, karena hampir tiap malam David menggempurnya. Hal ini David lakukan setelah mendapat tips dari dokter agar memudahkan bayi yang ada di perut Sari keluar. Kemudian, David langsung mempraktikkannya.
Tring..
Sari meraih ponselnya, karena sedari tadi ia sibuk melayani David dan tak memegang ponselnya sama sekali. Ternyata di sana banyak sekali notifikasi yang muncul, ada dari media sosial dan pesan dari wahtappnya.
“Met ulang tahun, Sari.. Wish you all teh best.” Isi pesan whatsapp yang ia lihat dari Inka.
“Mbaku yang cantik, selamat hari lahir, semoga lancar lahirannya dan bahagia selalu. Maaf Ardi mungkin ngga bisa nengok ponakan Ardi kalau mba lahiran.” Isi pesan dari sang adik yag sudah mulai tinggal di asrama militer.
Sari tersenyum membaca pesan-pesan itu.
Lalu dari Mila dan salsabila yang mengirim ucapan dengan gambar-gambar lucu dan kata-kata yang mengandung doa.
__ADS_1
Sari juga melihat beberapa akun media sosialnya sudah penuh dengan berbagai kata ucapan dan doa.
Sari kembali mengembang senyum dan erharu dengan semua ucapan itu.
Dret.. Dret.. Dret..
Tiba-tiba ponselnya berdering, menampilkan panggilan video call dari “Ibu.”
“Sari..” wajah Ratih muncul di layar ponsel Sari.
“Wah, Ibu udah bisa video call sekarang?’
“Iyo, Ibu di ajarin ayah, supaya bisa melihat kamu dan Ardi langsung, kalau ibu kangen.”
Sari tersenyum, begitu pun Ratih yang terlihat sumringah.
“Sar, selamat ulang tahun yo, panjang umur, murah rezeki, langgeng pernikahanmu, dan lancar lahirannya. Jangan lupa kabari ibu yo, kalau sudah melahirkan.”
Sari mengangguk. “Iya bu, terima kasih.”
Setelah bercengkrama, Akhirnya Ratih menutup panggilan itu.
Sari terus mengembang senyum, pasalnya ia sendiri tak ingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Namun, orang-orang yang ia sayangi masih mengingatnya. Hanya saja ada satu yang belum memberinya ucapan, entah ia tahu atau tidak. Dia adalah David suaminya.
Siang harinya, Sari bersiap pergi ke mall yang berada di bawah apartemennya. Ia ingin membeli kue untuk acara kecil-kecilan malam nanti.
“Nin, aku ke mall bawah ya.” Ucap Sari yang melihat Nina masih sibuk di ruang laundry.
“Saya antar, Bu.” Kata Nina yang sudah siap berdiri.
“Tidak usah, kamu lanjutkan saja pekerjaanmu, lagi pula nanti sore kamu sekolah kan?”
Nina mengangguk. Lalu, Sari pamit lagi dan pergi.
Sari berjalan sendiri di mall itu. Ia singgah di toko bakery yang cukup terkenal dan enak.
Lama, Sari memilih-milih makanan di sana. Sedangkan di kasir, Rama tengah memperhatikan sosok mantan kekasihnya yang sedang berulang tahun.
Beberapa minggu ini, Rama memang berada di rumah Sofia, menemani sang ibu yang sedang sakit. Namun, hari ini sang ibu sudah sangat pulih dan Rama pun ingin kembali ke apartemennya. Sebelum itu, ia mampir ke sebuha toko bakery yang sama dengan yang Sari masuki. Rama ingat betul hari ini dalah hari ulang tahun Sari, ia ingin membeli kue untuk di rayakannya sendiri di dalam apartemennya. Tetapi, karena ia melihat sari di sana. ia pun menghampiri sari dengan kue yang sudah ada lilin yang menyala di dalamnya.
“Happy birthday to you.. Happy birtday to you.. Happy birtday.. Happy birtday.. Happy birthday.. to.. you..” Rama menyanyikan lagu itu di iringi orang-orang yang ikut bertepuk tangan menyanyikan lagu yang sama ke arah Sari.
Sari menoleh ke suara bergerumuh itu, tepukan dan pandangan mereka tertuju padanya. Sontak Sari melihat Rama yang sedang berjalan dengan pelan menuju ke arahnya sambil mebawa kue dengan lilin yang banyak sedang menyala.
Perlahan Rama mendekat. Ini memang seperti dejavu, Rama memang selalu membuat suprise ini saat sari ulang tahun.
Sari yang kini memiliki status yang berbeda, hanya diam mematung. Ia bingung harus senang atau tidak.
“Kebetulan, tadinya aku akan merayakan ulang tahunmu sendiri. Namun, kita di pertemukan di sini.”
Semua orang bertepuk tangan dan tersenyum melihat keromantisan Rama pada Sari. Orang-orang berpikir Rama adalah suaminya yang memberikan istrinya kejutan.
“Selamat ulang tahun Sari.” Rama tersenyum dan Sari pun membalas senyum itu.
Fuh.. Fuh.. fuh..
Sari meniup lilin itu setelah make a wish. Ia tersenyum manis ke arah Rama.
Di luar toko itu, ada pria yang tengah membawa sepuket bunga memandang sinis Rama dan Sari di sana. Pria itu pun ingin membeli kue ulang tahun untuk sang istri. Ia sengaja memundurkan semua agenda pekerjaannya di siang ini, saat tahu bahwa sang istri tengah berulang tahun. Namun, apa daya, saat kakinya melangkah masuk ke toko bakery itu, suara sorak orang banyak tengah menyanyikan lagu untuk istrinya di sana, di tambah sosok pria yang membawakan kue itu adalah pria yang sangat ia benci.
__ADS_1
David berjalan meninggalkan toko itu dengan rahang mengeras. Ia pun membuang satu puket bunga dengan ukuran yang lumayan besar itu ke tong sampah.