Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
bisa licik juga


__ADS_3

Sari memegang tas Hermes limited edition.


“Kamu suka?” Tanya David persis di belakang telinga Sari.


Sari menggeleng. “Mahal.’


“Sudah aku bayar.” Kata David, membuat Sari membulatkan matanya tak percaya.


“Itu hadiah dariku untukmu.” David berkata lagi.


Lalu, tiba-tiba terdengar suara riuh di kasir. Sari menoleh, ia melihat sosok calon ibu mertuanya dulu. Sari menghampiri Sofia.


“Mama..” Panggil Sari, membuat Sofia pun langsung menoleh ke arah suara itu.


Sari meninggalkan David yang masih berdiri di sana. David melihat Sari yang tengah menghampiri wanita paruh baya dan mencium punggung tangannya.


“Apa kabar, Ma?” Tanya Sari di iringi senyum yang manis.


Sofia menerima uluran tangan Sari. Ia tahu persis kronologis batalnya pernikahan Sari dan anak laki-lakinya itu. Ia tahu ulah sang putra yang telah selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Sisy menceritakan apa yang di lakukan adiknya dan sahabatnya itu pada ibunya. Namun, saat itu Sofia justru terlihat senang dengan kejadian itu dan mendukung Anita. Tapi sikap Sofia, malah membuat jarak antara ibu dan anak itu, karena Rama lebih menginginkan Sari.


“Baik.” Jawab Sofia setengah melirik ke arah Sari.


“Mama ingin tas ini ya?” Tanya Sari dengan memegang tas yang sudah di berikan suaminya.


Sofia terdiam dengan wajah angkuhnya.


“Mbak, tolong bungkus ini untuk mama saya.” Ucap Sari pada kasir itu.


Sofia menganga, di tambah teman-teman Sofia yang berada di sana.


“Luar biasa, calon mantumu yang tidak jadai itu. Dia masih tetap menganggapmu orang tuanya.” Ucap salah satu teman Sofia di telinganya.


“Iya loh, sayang sekali Rama tidak jadi memiliki istri seperti dia.” Ucap salah satu temannya yang lain yang berada dekat dengan Sofia.


Sofia masih terdiam.


“Ma, sari pamit ya. Salam untuk kak Sisy dan mas Ihsan.” Sari kembali mencium punggung tangan Sofia dan meninggalkannya.


David hanya mengikuti langkah sang istri. Lalu bergandengan keluar dari tempat itu.


Sesampainya di mobil, David masih terdiam.


“Mas, maaf ya. Tas yang kamu berikan tadi, aku berikan lagi ke mamanya..” Sari tak lagi melanjutkan perkataannya. Ia enggan untuk menyebut nama Rama di depan David.


“Mamanya mantan tunanganmu.” David melanjutkan perkataan Sari yang terpotong.


“Kok kamu tahu?”


“Apa sih yang tidak aku tahu tentang kamu.”

__ADS_1


“Curang.” Sari menepuk bahu David dari samping.


“Apanya yang curang?” Tanya David, menoleh ke arah Sari kemudian beralih ke depan lagi.


“Curang karena kamu tahu semua tentang aku, sementara aku tidak tahu apa-apa tentangmu.”


“Itu sih deritamu.” Ledek David.


“Eh si bule, bisa ngebully orang juga.” Gumam Sari, lalu mencubit pinggang David.


Sontak David langsung meringis dan memegang pinggangnya. “Aww.. sakit, beib.”


“Rasain.”


****


Kini David dan Sari berada di sebuah mall di daerah Pondok Indah. David mengajak Sari untuk makan di sebuah resto di sana.


Sari melihat David yang masih terlihat diam dan dingin.


“Kamu masih marah ya?”


“Tas itu aku belikan untukmu, malah di kasih ke orang lain.” Jawab David santai.


Mereka menduduki kursi yang sudah David pesan.


“Apa saja, aku suka.”


Lalu, David memesan beberapa makanan. Ia juga mulai hafal dengan menu makanan kesukaan istrinya.


“Mas..” Panggil Sari manja.


“Hmm...” Jawab David sambil tetap memainkan ponselnya.


“Aku hanya ingin membalas mamanya Rama. Dia itu sering sekali menghinaku di depan teman-teman dan saudara-saudaranya. Makanya aku berbuat seperti itu di depan teman-temannya tadi. Aku hanya ingin membuktikan bahwa orang yang telah dia hina, bisa memberikan sesuatu yang berharga.” Ucap Sari, membuat David langsung menoleh ke arahnya serius.


David tersenyum. “Ternyata kamu licik juga.”


“Bukan licik, hanya sebuah perasaan puas saja.”


David kembali tertawa.


“Kalau begitu ada imbalan yang harus kamu bayar untuk kepuasanmu.” Kata David dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.


“Apa?”


“Memuaskanku nanti malam.”


Sari langsung menimpuk David dengan bulatan tissu yang ia pegang.

__ADS_1


“Dasar mesum, pemaksa.”


David tertawa dan terus tersenyum.


Kemudian, mereka melanjutkan kebersamaan hari ini dengan menonton bioskop.


Sari masih berdiri di depan pembelian tiket. Matanya masih melihat-lihat film apa yang akan ia tonton. Sedangkan David menempel seperti perangko, ia berada persis di belakang Sari sambil memeluk pinggangnya dari belakang.


Keduanya sedang berdiri antri di tengah-tengah pengunjung yang lain.


“Kakimu pegal?” tanya david tepat di telinga belakang Sari.


Sari menoleh ke belakang sambil menggeleng dan tersenyum.


“Kalau pegal, biar aku yang antri dan kamu duduk di sana.” David menunjuk kursi tunggu di seberangnya.


Sari menggeleng. “Aku ingin di sini.”


“Tidak bisa jauh dariku?” Ledek David.


Untuk pertama kalinya Sari mengangguk, membuat senyum David semakin mengembag. Pasalanya tadi ia hanya sekedar meledek Sari. Namun, sari malah memberi jawaban serius.


“Nonton film apa?” Tanya petugas tiket, saat mereka sudah berdiri di depannya.


“Hmm...” sari masih berpikir.


“Film horor.” Jawab David.


“Jangan!” Teriak Sari.


“Tidak apa , ada aku.”


Kemudian David memesan dua tiket film horor.


“Uh, tau begini kita ngga usah nonton.” Kesal Sari.


“Kenapa?”


“Aku penakut.”


David kembali tertawa.


“Atau kamu sengaja memilih film ini?” Tanya Sari kesal


David mengangguk. “Aku suka kamu peluk saat kamu ketakutan dan aku suka di bangunkan saat kamu minta di temani ke dapur tengah malam.”


“Iya, terus berujung aku yang harus melayani nafsumu, karena kamu tidak bisa tidur lagi.”


Sontak David tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


__ADS_2