
“Miss Inka.” Sari berteriak dari luar, saat melihat Inka yang baru saja tiba di butik dan tengah menutup pintu mobilnya.
“Sari.” Inka langsung menoleh ke sumber suara itu.
Ia mengunci mobilnya dan menghampiri Sari.
“Aaa.. Sari.” Inka melebarkan tangannya dan memeluk Sari.
“Wah, mentang-mentang sudah jadi istri David Osborne. Beda banget sekarang.” Ucap Inka setelah pelukan mereka terlepas.
“Beda gimana?” Tanya Sari bingung, melihat Inka yang mentapnya dari ujung kaki hingga kepala.
Inka tersenyum penuh makna.
“Ya, beda aja. Beda banget malah. Lebih cantik dan anggun.” Jawab Inka.
“Jadi sebelumnya, aku ngga cantik, gitu Miss?” Tanya Sari menyelidik.
“Bukan bbegitu, dari dulu juga cantik, tapi sekrang lebih cantik.”
“Halah, Miss bisa aja. Aku kan belajar dari Miss Inka.”
Keduanya tertawa.
“Ayo masuk!” Inka melangkah untuk memasuki butik miliknya.
“Wah, kamu ngajak Melvin juga?”
Sari mengangguk.
Inka menghampiri Melvin yang berada di strolernya dan di dorong oleh Nina. Lalu, Ia mengajak semuanya untuk masuk.
“Sari..” Ucap salah satu temannya di butik itu.
“Hai.”
Sari sungguh riang, ia memeluk semua teman-teman lamanya di sana.
“Sar. Lo beda banget sumpah. Gue pangling.”
“Apa sih yang beda? Tadi Miss Inka juga bilang gitu.”
“Lo tuh, makin cantik, Sar. Beneran deh.” Celetuk salah satu teman Sari di sana.
Tiba-tiba ada seseorang yang memangssil Sari.
“Sari.” Bianca berlari menghampiri Sari.
“Miss Bi.”
“Sari. maafin aku ya.” Kata Bianca lirih.
“Maaf kenapa, Miss?”
“Maaf, kalau aku pernah ngomong yang seharusnya ngga perlu aku omongin ke kamu waktu di bandara itu. Beneran aku kepikiran, pas aku ceritain pertemuan kita ke Dhani. Dhani menyalahkan aku kalau rumah tangga kalian terjadi masalah.”
Sari menggeleng
“Justru, aku yang terima kasih, Miss. karena dengan kejadian itu, aku sama mas David sudah tidak ada lagi rahasia-rahasiaan. Sekarang kami jadi lebih terbuka.”
“Syukurlah.” Bianca mengelus dadanya tenang.
“Aku tau kok Miss. Miss Bi ngga ada maksud apapun, aku tau Miss Bi waktu itu hanya mengungkap kebenaran.”
“Tapi tetap aku jadi ngga enak hati. Maaf ya.”
Sari mengangguk.
“Sar, Pak David sebelas dua belas ya dengan Pak Rio. Uuh.. lehermu penuh gigitan.” Celetuk salah satu teman Sari yang menyibak rambut miliknya.
“Ih apaan sih.” Sari berusaha meraih rambutnya dan menutupi kembali beberapa kissmark yang tercetak jelas di leher bersih miliknya.
“Ini tuh udah aku tutupin, masih di buka aja sih.” Protes Sari pada teman-temannya.
“Emang semua cassanova suka ngegigit ya, Sar?” Tanya meledek salah satu temannya, membuat teman yang lain jadi tertawa.
“Sepertinya begitu.” Jawab Sari.
“Bukan sepertinya lagi, Sar. Tapi memang begitu.” Celetuk Inka.
Lalu, semua yang ada di sana pun tertawa lagi.
Lama, Sari berada di butik Inka. Bercengkrama dengan teman-teman di sana. Teman-teman Sari pun senang dengan kedatangannya, di tambah Melvin yang tampan dan menggemaskan, menghibur karyawan Inka yang lain hari ini.
“Sar, sabtu besok makan malam di rumahku yuk!” Ajak Inka, yang kini tengah berdua berada di ruang fitting.
Inka menunjukkan hasil karya gaun terbarunya.
“Mau. Hmm.. Tapi Mas David mau ngga ya?” Tanya Sari ragu pada dirinya sendiri.
“Mau, bujuk dia suapya mau. Kamu kan pawangnya.”
Sari tertawa.
__ADS_1
“Benar-benar, kita kan pawang buaya darat.” Sari dan Inka tertawa lagi.
“Okee deh, sabtu besok ya, Miss. Kami akan datang setelah isya.”
“Siip.”
“Oke deh, Miss. Aku pulang dulu. Sepertinya aku sudah lama di sini, kalau kelamaan Miss Inka dan yang lain jadi ga bisa kerja karena keasyikan ngobrol terus sama aku.” Sari pamit.
“Tidak apa, aku senang malah. Lagian jarang-jarang kan kamu ke sini, Sar.”
“Atau kamu mau kerja lagi di sini?” Tanya Inka.
“Ah, lupa. Kamu sudah jadi milyarder, mana mau bekerja lagi di sini.” Kata Inka lagi.
“Ah, Miss bisa aja.” Sari tersipu malu.
“Sepertinya, Miss Inka tau banyak tentang aku.” Ucap Sari lagi.
Inka mengangguk.
“Kak Rio sering cerita tentang teman-temannya, termasuk suami kamu.”
“Sama, Mas David juga sering cerita tentang teman-temannya, tapi tidak cerita tentang Pak Rio, karena sepertinya dia masih segan.”
Inka tertawa, begitu pun Sari.
“Okelah, Miss. Kalau begini, aku tidak pulang-pulang.” Kata Sari berusaha mengakhiri kunjungannya.
“Baiklah, Sampai ketemu weekend nanti.”
“Oke.”
Sari pun pamit dengan teman-temannya yang lain di sana. Lalu, mereka di jemput oleh supit David yang sudah menuggu di luar butik. Mereka pun beralih menuju supermarket besar, sambil mengajak Melvin dan Nina jalan-jalan.
****
“Hmm.. harum sekali.” Mario memghirup aroma masakan dari belakang tubuh Inka.
Ia melingkarkan kedua tangannya di perut Inka dan menempelkan dagunya di bahu itu.
“Iya, kan nanti mau ada tamu istimewa.”
“Memang kamu yakin mereka akan datang?” Tanya Mario ragu.
“Kalian sudah berbaikan kan?” Inka balik bertanya dan membalikkan tubuhnya.
Mario mengangguk. “Ya, kami biasa saja.”
Inka tersenyum dan membalikkan kembali tubuhnya.
“Memang Sari sebegitu bisa menaklukan David. Setahuku, wanita-wanita yang pernah menjadi mainan David tidak seperti Sari.” Mario masih tidak percaya, jika Sarilah orang yang telah membuat teman brengseknya itu hidup normal.
“Eh jangan remehkan Sari. Dia tuh cantik dan baik.”
“Iya, teman-temanmu memang baik.” Mario mengangguk.
“Iya tidak seperti teman-temanmu yang b*jin*an ya.” Ledek Inka.
Mario tertawa.
“Kata Brian, David sekarang bucin parah.” Kata Mario.
“Seperti kamu.”
Ting.. Tong..
Tiba-tiba percakapan Mario dan inka terputus karena bel rumahnya berbunyi.
“Nah, tuh orang yang di bicarakan datang.”
Pelayan di rumah Inka, membuka pintu rumah besar Mario. Di sana juga terlihat Maher dan Mahria yang tengah bermain.
Perlahan Sari dan David yang tengah menggendong Melvin, masuk ke rumah sahabatnya itu untuk kali pertama.
“Hai, Sari.” Inka dan Mario keluar menghampiri tamunya.
Inka dan Sari berpelukan, sementara Mario dan David pun melakukan hal yang sama.
“Hai, Bro. Apa kabar?” Tanya Mario pada David.
“Baik.” Jawab david tersenyum.
“Yeaa.. seneng deh, akhirnya jadi juga kita dinner bareng.” Kata Inka.
Mario menyapa Melvin dan menggendongnya.
“Maher.. Mahira, sini. Ada dede Melvin nih.” Mario memperkenalkan Melvin pada kedua anaknya.
Maher dan Mahira mencium punggung tangan David dan Sari.
“Hey, makin ganteng kakak Maher.” Kata Sari sambil mengelus rambut putra Mario itu.
“Mahira juga makin cantik.”
__ADS_1
Maher dan Mhira hanya tersenyum.
“Lupa ya kalian sama tante Sari.” Kata Sari lagi pada Maher dan mahira yang masih berdiri dan saling beradu pandang.
“Tante Sari ga pernah dateng ke sini sih, jadi Maher dan Mahira lupa.” Jawab Inka.
“Tante Sari itu, teman kerja Mimi di butik. Dulu waktu kalian masih seumur anaknya, kalian sering di gendong tante Sari.” Kata Inka lagi pada kedua anaknya sambil menunjuk Melvin yang masih kecil.
“Ajak main dede Melvin ya, Sayang.” Kata Mario yang meletakkan Melvin yang sudah bisa duduk dan sedikit berjalan bersama Maher dan Mahira di ruang keluarga.
Mahira sangat senang dengan kehadiran Melvin, begitu juga Maher. Mereka sangat antusias dengan teman barunya yang masih berusia hampir satu tahun itu.
“Ngga usah repot-repot, Miss.” Sari menghampiri Inka di dapur.
“Ih, apanya yang repot? Nggalah, Sar. Aku tuh seneng banget.”
“Makasih ya, Miss.” Sari merangkul Inka dari samping dan menempelkan kepalanya di bahu mantan biosnya itu.
“Apanya yang makasih?” Tanya Inka bingung, sambil tersenyum.
Sari nyengir. “Ya, buat semua kebaikan, miss.”
“Yuks, kita bawa makanan ini keluar!”
Lalu, Sari dan Inka membawa makanan ke meja makan dan melihat para suaminya yang sedang ngobrol ringan di meja itu. Sari dan inka tersenyum melihat kedua pria yang dulu brengsek itu, kini berbaikan.
“Mas, miss Inka buat cumi saos tiram, pdahal baru aja aku mau buat ini juga besok.” Ucap Sari pada suaminya.
David mengelus rambut Sari.
“Kamu hamil, Sar?” Tanya Mario.
“Iya pak.”
“Pantesan perutmu agak buncit, dari kemarin pas di butik aku mau tanya tai lupa saking asyiknya kita ngobrol.” Sahut Inka.
“Berapa bulan?” Tanya Inka yang menghampiri Sari dan mengelus perutnya.
“Mau empat bulan, Miss.”
“Wah..” Ucap Inka berbinar.
“Hmm.. sayangnya aku sudah tidak bis hamil lagi.” Ucap Inka lesu.
Mario meghampiri istrinya.
“Hey, yang penting Tuhan telah memberikan kita Maher dan Mahira.”
“Benar, Miss.” Sari menggenggam tangan Inka.
“Maaf ya, Miss. pas kejadian itu, aku tidak tahu.”
Inka terenyum.
“Tidak apa, lagian ada dia nih yang selalu menghiburku.” Inka memegang wajah suaminya.
Sari dan David tersenyum.
“Kalian hebat bisa melalui masa-masa buruk itu bersama.” Kata David.
“Semua ruamh tangga pasti ada ujiannya, Dav. Kamu juga hebat bisa melalui masa-masa buruk itu bersama.” Ucap Mario.
“Ya, benar.” David mengangguk.
“Ya, yang penting kuncinya adalah bersyukur, bukan begitu?” Kata Inka.
“Betul.”
“Benar sekali.”
Ucap Sari dan David bersamaan, begitupun Mario yang mengangguk tanda setuju.
“Ayo kita nikmati makan malamnya! Seadanya ya.” Kata Inka lagi.
“Ini bukan seadanya lagi, Miss.” Jawab Sari sumringah.
Sari berdiri dan hendak mengambil piring yang di berikan Inka.
“Mas, mau semua?” Tanya Sari pada suaminya.
“Kecuali cumi.”
“Ini enak, Mas. Coba deh.” Sari memaksa David untuk memakan cumi, tapi David masih menutup mulutnya.
David berbanding terbalik dengan Sari yang suka seafood tapi tidak dengan sayuran hijau.
“Hmm... bau amisnya, aku tidak suka.” Ucap David, tapi Sari tetap memaksa dan membuat mereka justru terlihat romantis.
“Hmm.. So sweet sekali mereka.” Kata Inka pada Mario yang berdiri tak jauh dari Sari dan David.
“Ya, aku turut senang melihatnya.” Jawab Mario tersenyum, yang juga menunggu sang istri menuangkan makanan untuknya.
Mario pun menghampiri kedua anaknya di ruang kekuarga dan menggendong Melvin untuk makan malam bersama para orang tua di meja makan itu.
__ADS_1
kedua keluarga itu, kini tengah menikmati makan malam, sambil berbincang hangat, di temani oleh buah hati mereka.