Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 101


__ADS_3

Merasa kesal melihat Akram yang tak keluar juga dari kamarnya, Adinda pun akhirnya menoleh pada koper yang telah Ia persiapkan, lalu menyeret benda berbentuk kotak itu keluar kamar tanpa mengindahkan Akram yang masih tidur telentang di lantai kamarnya sambil menghayalkan sesuatu. Sejenak perempuan itu menoleh ke belakang, tersenyum dengan diiringi gelengan kepala, saat kakinya benar-benar telah berada di ambang pintu kamar.


“Dasar lelaki Omes, ngomong doang yang besar buktinya malah sibuk menghayal! Semoga Tuan mendapatkan apa yang anda inginkan. Selamat tinggal dan assalamu’alaikum,” pungkas Adinda pergi meninggalkan lelaki yang masih setia antara mimpi dan halusinasi.


Adinda berlalu tanpa menutup pintu kamar itu, pergi tanpa pamit karena dia tak ingin mendapatkan drama baru lagi, memutuskan untuk menemui temannya yang dulu sempat memberikan peringatan agar bersabar saat menikah dengan Reza. Namun, sejenak ada keraguan di dalam hatinya untuk menemui sang sahabat yang sejak beberapa terakhir ini tak pernah ia hubungi lagi.


‘Apa kira-kira Maryam mau menerima aku dan mendengar semua penjelasan tentang kehidupanku yang sudah menjadi seorang janda?’ batin Adinda mengingat sahabat terbaiknya (tentang tokoh ini ada dalam bab 10) Adinda akhirnya memberanikan diri mengirim pesan lewat aplikasi warna hijau untuk mempertanyakan apakah Maryam masih tinggal di alamat yang sama seperti dulu pernah Ia berikan.


[Assalamualaikum Maryam, Gimana kabarmu sekarang? Maaf karena aku sudah lumayan lama tak pernah menghubungi dirimu, apa kamu masih ngekos di tempat lama?]


Beberapa saat Adinda melihat pesan yang dikirimnya itu hanya centang dua warna abu-abu seperti kehidupannya saat ini yang tak menentu.

__ADS_1


“Ya sudahlah, aku akan pergi ke terminal aja,” monolognya yang baru saja telah sampai di dekat pos satpam depan rumah Akram.


“Eh, non Adinda kok bawa koper segala, emangnya mau kemana?” tanya sang satpam yang merasa penasaran.


“Saya mau ke rumah teman Pak, mungkin untuk beberapa hari ke depan,” sahut Adinda dengan santai tanpa membuat curiga si satpam yang terlihat hanya manggut-manggut seolah mengerti.


“Apa perlu diantar supir, Non? Menurut  saya sebaiknya Nona diantar saja sama sopir biar lebih cepat sampainya daripada harus menunggu taksi yang sangat jarang lewat di sini,” lanjut Pak satpam menawarkan agar Adinda pergi dengan sopir seperti yang pernah diperintahkan oleh Akram setiap Adinda punya keperluan maka boleh menggunakan sopir yang selalu setia setiap saat mengantarkan janda itu kemanapun pergi.


Hanya saja Adinda merasa ragu untuk pergi ke Sukabumi karena dia sangat yakin, kalau Akram pasti akan menyusulnya ke sana seperti yang pernah terjadi saat dirinya kabur dulu.


“Tolong bukain pintu gerbangnya ya, pak!” pinta Adinda dengan lembut karena melihat satpam itu masih saja melihat tak berkedip.

__ADS_1


“Ah iya, baik non! Non Adinda hati-hati di jalan, nanti kalau urusannya sudah selesai sama temannya dan butuh dijemput saat mau kembali ke sini ... tinggal telepon bapak saja, ya!” ucap satpam itu langsung menawarkan diri karena memang dirinya sudah bisa memahami, jika Adinda adalah seorang gadis yang sangat baik tanpa mengetahui kalau Gadis itu adalah seorang janda yang masih sangat muda bahkan bersegel lengkap.


“Insya Allah saya akan baik-baik dan hati-hati kok pak, terima kasih banyak ya, Pak,” ucap Adinda ketika satpam itu kembali menutup gerbang nan menjulang tinggi.


"Sama-sama, Non ... kayak udah mau pergi tak kembali aja Non Adinda ini hehehe," jawabnya dengan kekehan kecil tanpa tau jika Adinda memang berniat tak kembali lagi ke rumah yang sama.


"Selamat tinggal ya, Pak ... assalamu'alaikum," pungkas Adinda dengan mengucap salam.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, jangan lupa kalau udah sampai di sana kabari Bapak ya Non!” seru satpam itu.


Adinda hanya tersenyum tanpa menjawab.

__ADS_1


__ADS_2