
“Dasar anak tak tahu diri, bikin malu Mama saja sama Adinda! Ayo buruan minta maaf sama Adinda kalau kamu hanya pura-pura sakit saja!” raung nyonya Ramindra dengan jari yang sudah melekat di daun telinga Akram.
“Aww, sakit ma! Siapa yang pura-pura sakit sih, orang Akram sakit beneran, Ma!” Akram berusaha menarik tangan mamanya agar terlepas dari daun telinganya yang terasa lumayan perih bercampur sakit karena wanita paruh baya itu bukan hanya sekedar menjewer telinga putranya yang bersifat kekanak-kanakan tetapi juga memilin telinga anaknya yang sudah menjadi duda itu.
Nyonya Ramindra benar-benar merasa sangat malu karena tidak pernah menyangka ada sifat sang putra yang sudah memiliki seorang putri malah seperti anak kecil. Sementara Akram sendiri merasa dirinya sudah tak punya muka di depan pengasuh putrinya karena sang mama memperlakukannya seperti anak kecil melakukan kesalahan dan mendapatkan hukuman.
Adinda masih saja diam tapi matanya masih memindai apa saja yang sedang dilakukan sepasang anak dan ibu di dalam kamar itu.
__ADS_1
“Kamu masih saja bohong sama mama padahal sudah jelas ketahuan juga. Ayo buruan minta maaf sama Adinda! Enak aja gangguin kesenangan cucu mama hanya demi egomu itu! Kamu pasti cemburu kan melihat kedekatan Romeo dengan Adinda? Ayo ngaku!” bentak nyonya Ramindra kekeh memaksa Akram untuk minta maaf sama Adinda.
Nyonya Ranindra melepaskan jeweran tangannya di telinga sang putra, membuat Akram dengan cepat menjauhkan kupingnya yang sudah terlihat merah dari tangan wanita paruh baya yang sekarang berubah bagai monster dalam alam imajinasinya. Apalagi sang Mama saat ini berkacak pinggang memarahi dirinya.
“Astaga mama, ngapain juga Akram cemburu sama janda pengasuh ini? Adinda bukan levelnya Akram, Ma. Jangan bicara yang aneh-aneh deh, sama saja namanya Mama menjatuhkan harga diri anak sendiri dengan mengatakan Akram suka sama seorang pembantu!” elak Akram masih saja tak mau mengakui kalau dirinya memang sedang cemburu pada temannya itu.
“Anda benar, Tuan Akram! Saya memang hanya pengasuh Putri anda dan saya juga dipaksa oleh seseorang untuk bekerja mengasuh anak perempuannya dengan banyak janji manis sebagai pekerja di sini sayangnya semua bohong! Apa anda tahu siapa orang itu? Dia adalah anda sendiri, jika anda tak amnesia! Jika kehadiran saya di rumah Anda ini hanya menjatuhkan harga diri Anda saja, maka mulai hari ini juga saya berhenti bekerja jadi pengasuh Putri anda. Terima kasih karena Anda sudah mengingatkan status saya yang hanya sebagai seorang pembantu di rumah ini!” tegas Adinda dengan wajah penuh amarah serta tatapan yang seakan-akan menusuk jantung Akram.
__ADS_1
Lelaki itu menelan salivanya begitu berat saat mendengar kalimat yang terlontar dari bibir pengasuh Caca itu. Ada ketakutan tersendiri menyelimuti jiwanya kala Adinda ingin berhenti kerja jadi pengasuh anaknya.
‘Astaga kenapa mulut ini tak bisa menjaga sedikit pun perasaan Adinda? Mati aku kali ini, pasti Mama akan menghabisiku jika sampai Adinda pergi lagi dari rumah ini karena Mama sangat menyayanginya!’ batin Akram di dalam hati.
“Mama akan mendukung keputusanmu untuk kembali ke Sukabumi daripada kamu tinggal serumah dengan putra munafik ini. Sepertinya mama sama Caca ingin ikut denganmu, apa mama boleh ikut, Dinda?” tanya Nyonya Ramindra dengan mimik penuh harap.
“Ma! Apa-apaan sih pake acara kayak anak kecil mau ikut segala?” geram Akram yang tak suka sang mama selalu ingin bersama Adinda.
__ADS_1
“Memangnya kenapa kalau mama kayak anak kecil? Kamu aja lebih parah dari anak kecil, kalau suka sama Adinda itu bilang, Nak! Jangan kamu berpura-pura benci tapi dalam hati sebenarnya cinta! Kamu bakal menyesal kalau sampai Adinda didapatkan sama kawanmu yang polisi itu!”