Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 106


__ADS_3

[Jangan kau buat kesabaranku hilang, Romeo! Atau kamu akan menyesal seumur hidup karena aku sama sekali tak pernah takut denganmu!]


"Saya tak takut denganmu! Coba saja kalau kau punya nyali, saya tunggu kamu di restoran Mak Mey ... tapi jangan menyesal kalau sampai Adinda akan semakin membenci duda arogan sepertimu!" Romeo kembali membalikkan tubuhnya dan mematikan panggilan telepon itu secara sepihak.


Sementara Adinda dan Reno langsung saja jadi saling pandang mendengar ucapan polisi itu. Reno sedikit menarik lengan tangan anda dan bertanya lewat gerakan kedua alis matanya yang terangkat ke atas, selaras diiringi dengan gerakan bibirnya, “Bagaimana ini? Apa kita harus pergi sekarang?”


‘Jadi ternyata orang ini temennya si Akram Arogan itu?’ batin Reno yang masih saja teringat akan sosok lelaki bernama Akram Julian Ramindra, di mana dirinya sempat diberi kesulitan saat ingin bertemu dengan sang janda.


‘Aku tak akan membiarkan Adinda ketemu lagi sama lelaki siallan itu! Aku yakin telah terjadi sesuatu sama Adinda makanya Tuan Akram itu sibuk mencarinya,’ duga  Reno yang juga sedang bertekad di dalam hati tak akan membiarkan Adinda kembali bertemu dengan mantan atasannya.

__ADS_1


“Adinda, ayo kita pergi dan cari restoran lain saja!” ajak Reno tanpa menunggu jawaban dari perempuan itu, meraih pergelangan tangan Adinda dan menyeret sang janda keluar dari restoran hingga membuat Romeo melongo beberapa detik.


Namun, sesaat kemudian pria yang masih mengenakan seragam warna coklat tersebut dengan cepat berlari mengejar Adinda dan Reno sembari menyerukan nama sang janda.


“Adinda, tunggu sebentar! Beri aku kesempatan untuk bicara, dan aku minta maaf karena memang sehingga dia tahu kalau kamu sekarang berada di restoran ini,” serunya dengan suara sedikit lantang hingga kembali membuat atensi beberapa pasang mata terarah pada mereka berdua.


“Maafkan saya, pak Romeo … Saya sedang tak ingin bertemu dengan Tuan Akram dan saya harap pengertian dari anda, please …!” ucap Adinda dengan suara lirih penuh permohonan agar lelaki itu tak memaksakan dirinya untuk tetap mempertahankan Adinda di restoran tersebut sembari menunggu kedatangan lelaki berstatus Duda Anak satu yang sangat menyebalkan.


“Permisi, Pak Romeo … kami harus segera pergi karena Adinda tak mungkin bisa bertemu dengan Tuan Akram saat ini,” sela Reno ikut bicara lalu kembali menarik tangan Gadis itu yang mau tak mau terpaksa mengikuti langkah kaki panjang sang pria yang sedang mengarahkan mereka berdua pada mobil yang tadi dikendarai.

__ADS_1


Reno dengan cepat membukakan pintu mobilnya di samping pengemudi, memastikan Adinda yang telah masuk dan duduk dengan nyaman bahkan lelaki itu langsung menutup pintunya, serta sedikit berlari setengah lingkaran untuk segera masuk dan duduk di belakang kemudi. Reno hanya tak ingin berdebat di depan umum dengan laki-laki berkuasa bernama Akram.


“Sepertinya lebih baik kita langsung ke cafa saja, daripada nanti kamu sendiri yang merasa tidak nyaman akibat rasa was-was ditemukan sama Tuan Akram,” beritahu Reno yang hanya di angguki oleh wanita yang duduk di sampingnya.


Adinda melihat keluar, menetap wajah penuh sesal yang diperlihatkan oleh Romeo. ‘Apakah aku ingin gadis yang cantik? Aku hanya tak mau Tuan Akram memaksaku lagi.’ gadis itu menyeka sudut matanya yang sedikit berair.


“Apa kamu sudah sangat lapar?” tanya pria itu dengan mata tetap fokus ke arah jalan dan tangan yang memegang setir kendali mobil.


‘Rasa laparku langsung saja hilang setelah mendengar perbincangan Pak Romeo dengan Tuan Akram!’

__ADS_1


__ADS_2