Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 75. Penguntit Nakal 2


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Romeo baru saja memasuki area taman hiburan berbagai permainan terlihat di sana, membuat si kecil Caca memperlihatkan wajah senang sumringah bahagia. Gadis kecil itu tentu saja merasa sangat bahagia karena selama ini dirinya hanya lebih sering ditemani Neni sang pengasuh sementara Oma dan Papanya sibuk dengan dunia sendiri bahkan seolah tidak mempedulikan kehadirannya.


Hal itu tentu saja membuat karakter bocah kecil bernama Caca itu merasa selalu senang ketika diajak keluar oleh orang lain tentu saja orang yang dia kenal karena tipenya 11 12 dengan sang papa yang sangat susah dekat dengan sembarang orang kecuali memang telah sering bertemu.


“Caca mau naik itu, Om!” seru Caca dengan mata berbinar mengarahkan jari telunjuknya ke permainan komedi putar.


“Memangnya Caca nggak takut kalau kita naik komedi putar? Apa Caca pernah naik benda itu dengan papa sebelumnya?” Romeo melirik ke arah Adinda yang malah reflek mengedikkan kedua bahunya karena memang gadis itu merasa tidak pernah mengetahui, jika tuannya mengajak Caca pergi ke luar tepatnya ke taman hiburan.


“Tanya dulu sama bunda, boleh apa nggak kalau naik permainan itu,” sahut Romeo dengan sengaja agar Adinda juga ikut andil bir mereka terlihat seperti keluarga kecil bahagia yang harmonis.

__ADS_1


“Boleh kan, Bunda?” Dengan polosnya si kecil membeo bertanya, berharap wanita itu mau menemaninya naik permainan yang sungguh terlihat sangat mengasyikkan.


“Sayang … bunda gak bisa naik permainan kayak begitu karena bunda tak bisa naik ketinggian. Maaf ya, Sayang … Caca naik sama om Romeo aja ya,” jawab Adinda jujur karena tidak ingin berpura-pura bisa naik benda berputar itu tapi akhirnya malah pingsan saking takutnya.


Romeo melipat dahi, tidak menyangka jika perempuan pengasuh Caca merupakan wanita yang phobia ketinggian bahkan gadis itu berkata jujur apa adanya tanpa tahu malu yang biasanya akan disembunyikan oleh seorang perempuan ketika berada di dekat seorang lelaki tampan seperti dirinya, apalagi Romeo sangat meyakini jika dirinya masih begitu terlihat sangat mempesona tapi kenapa Adinda sepertinya sama sekali tidak tertarik padanya.


“Dulu aku pernah jatuh setelah memanjat pohon kelapa sewaktu berumur 10 tahun dan berakhir di atas ranjang rumah sakit. Gara-gara menginginkan kelapa muda yang tumbuh di samping rumah, aku yang sedikit bandel memanjatnya tapi belum juga beberapa meter udah jatuh, jadi sejak itu entahkan setiap menaiki benda yang terlalu tinggi Pasti keringat dingin akan muncul di seluruh kulitku dan rasanya aku kayak orang mau pingsan aja. Sebaiknya Pak Romeo saja dengan Caca yang naik komedi putarnya karena aku benar-benar minta maaf tak sanggup untuk ikut,” pungkas Adinda dengan ekspresi takutnya.


Romeo terlihat kecewa tapi lelaki itu juga tak mungkin memaksakan kehendaknya hanya agar terlihat seperti memiliki sebuah keluarga kecil yang bahagia karena jelas-jelas bocah yang di bawahnya, merupakan anak sahabatnya sendiri.

__ADS_1


Tiba-tiba saja matanya yang memang sudah terbiasa sangat Awas untuk melihat sekitar menangkap keberadaan akar yang terlihat mengintip mereka bertiga. Seringaian iblis terbit di bibirnya yang sedikit menghitam akibat keseringan menggunakan nikotin yang dihisap.


‘Ckckck, Dasar gengsi ketinggian, saat Caca dan pengasuhnya kubawa jalan-jalan saja tingkahnya sudah seperti penguntit nakal saja! Aku sangat yakin kamu tak akan tahan berlama-lama untuk melihat apa yang bakal aku lakukan sebentar lagi,’ lirihnya yang baru saja menemukan ide gila untuk membuat Akram semakin kebakaran jenggot, karena ia sangat yakin tidak akan lama lagi lelaki itu akan memperlihatkan batang hidungnya sendiri.


“Aduh-duh-duh, mata saya kenapa ini?” ucap Romeo berpura-pura mengucek-ngucek sebelah matanya, membuat Adinda yang sejak tadi fokus melihat Caca bermain, langsung sontak menoleh pada sahabat tuannya it.


“Tolong tiup mata saya sebentar, Adinda … sepertinya ada debu yang masuk,” pinta Romeo dengan menarik garis bibirnya ke atas.


‘Kena kau, Akram! Makan tuh gengsi segede gaban!’

__ADS_1


__ADS_2