
“Kalau begitu saya pamit dulu sebentar ya, Pak Romeo,” izin Adinda sebelum berlalu pergi meninggalkan dua sahabat yang saling memberikan tatapan permusuhan, seolah-olah mereka berdua saling membenci.
"Maksud lo apa ngomong kayak begitu sama anak gue? Lo mau nikung gue dari belakang?” tanya Akram dengan mata menjadi merasa kesal pada sahabatnya yang merecoki kehidupan keluarga kecilnya.
“Menikung? Emang apa lo yang gue tikung? Maksud lo, gue nikung Adinda dari lo gitu, yang bener aja kalau ngomong! Bukannya tadi lo ngomong kalau nggak bakalan mungkin nikah sama seorang pengasuh, kenapa sekarang jadi sewot? Kalau kayak gini kan jadi serba salah gue. Mana gue udah janji lagi sama anak lo untuk pergi ke taman hiburan, sementara lo nya sendiri sekarang malah dalam mode cemburu akut, hahaha!” ledek Romeo meledakkan tawanya yang terbahak-bahak membuat pakan semakin merasa kesal mendengarnya.
‘Mampusss gue kerjain, salah sendiri gengsi dipelihara segede gunung, giliran cewek gebetan dideketin sama orang lain ternyata keberkahan jenggot juga. Coba aja dah uring-uringan deh tuh sendirian ditinggal anak dan calon bini hahaha,’ lanjut Romeo tertawa iblis di dalam hati, merasa senang sekali melihat wajah cemberut Akram yang muram seperti cuka busuk sangat asam.
__ADS_1
Siapa suruh lain di mulut dan juga lain di hati, tak mau berkata Jujur hanya demi Gengsi, jadi jangan salahkan Romeo yang Ingin mencuri start mendekati Adinda dengan alasan mengajak Caca jalan-jalan ke taman hiburan.
“Om Lomeo, Caca dan Bunda udah ciap!” seru gadis kecil itu yang digandeng oleh bundanya dengan senyum ceria dan wajah bahagia, begitu pun yang terlihat di raut muka Adinda walau Gadis itu sama sekali tidak menyumbangkan senyum terhadap pria bernama Romeo.
“Oke, kalau begitu sekarang kita berangkat! Caca pamit dulu sama papa ya! Biar nanti nggak dikira Om sedang menculikmu hehehe,” titahnya menyuruh bocah kecil itu berpamitan pada Akram.
‘Kenapa juga Romeo bisa datang ke sini dan hanya bikin hidup gue jadi sial!’ gerutu Akram di dalam hati menatap tajam pria yang berpakaian dengan mengenakan seragam polisi bagian celananya saja.
__ADS_1
“Saya juga izin ya, Tuan Akram untuk mengantarkan Caca bermain ke taman hiburan bersama Tuan Romeo,” pamit Adinda dengan sedikit anggukan kepala walau hatinya masih merasa kesal mengingat kalimat yang dilontarkan Akram di depan mata kepalanya sendiri terhadap Romeo.
“Hati-hati menjaga anak saya jangan sampai ada lecet sedikitpun!” sahutnya dengan tidak rela.
“Insya Allah Caca akan baik-baik saja, kalau begitu saya pamit dulu, assalamualaikum.” Adinda membalikkan tubuh mengikuti langkah kaki Romeo yang telah duluan pergi ke arah teras rumah bersama gadis kecil yang sedang diasuhnya.
Sementara Akram benar-benar sangat tidak suka dengan kepergian Adinda yang dibawa Romeo, dirinya merasa menjadi orang bodohh sendiri karena tidak mengetahui ke mana anak dan pengasuh itu dibawa sahabatnya pergi. Dia merasa ingin ikut bersama mereka tetapi gengsi yang setinggi langit membuat mulutnya bukan tak bicara.
__ADS_1
“Gue nggak percaya sama Romeo, dia pasti hanya modus doang mengajak Caca untuk jalan-jalan, padahal aslinya Romeo pasti ingin mendekati Adinda dan menipu gue dari belakang! Sepertinya gue harus jadi penguntit nakal demi Adinda! Jangan sampai di hari pertama dia kenalan dengan Adinda, Romeo malah menembak perempuan itu menjadi kekasihnya, bakal gue habisin dia kalau sampai berani-berani naksir sama Adinda!”