
‘Jika aku pura-pura mengambil es krim punya Adinda dan memakan persis bekas bibirnya, kira-kira apa yang bakal terjadi ya?” Romeo pun kembali berkutat di dalam hati lalu tersenyum lebar membayangkan apa yang bakal ia lakukan sebentar lagi.
Dengan cepat dan tanpa pemberitahuan terhadap Adinda, Romeo meraih pergelangan tangan Adinda dan mengambil es krim yang sejak tadi dimakan janda tersebut, melahapnya tanpa dosa hingga membuat kedua bola mata Adinda terbelalak membola seketika. Bagaimana mungkin pria itu dengan berani memakan es krim bekas mulutnya sendiri, bukankah seharusnya lelaki yang tak punya hubungan apapun dengannya itu merasa dingin? Adinda benar-benar dibuat merasa tak percaya dengan tingkah sahabat dari majikannya yang benar-benar terasa sangat aneh saat ini.
“Pak Romeo, kenapa mau memakan es krim bekas saya?” Adinda mengerutkan dahi merasa tak mengerti karena tiba-tiba saja lelaki itu dengan sengaja mengambil es krim yang ia pegang, padahal sejak tadi jelas-jelas es krim itu sudah dimakannya tapi entah kenapa pria yang berprofesi sebagai polisi itu tanpa rasa canggung dan juga malu memakan bekas yang sudah ia makan, persis di dekat gigitan yan sama dengannya.
__ADS_1
Romeo yang sudah mengetahui di mana titik berdirinya Akram langsung saja menyeringati tipis, membayangkan sakit hati yang sedang dirasakan sahabatnya itu tapi masih saja tetap dengan egonya yang tinggi karena terlalu gengsi untuk mengakui isi hati.
“Maaf Adinda bekerja sama lah sebentar! Saya hanya sedang mengerjai Akram yang sudah membuat saya bolak balik masuk toilet umum di pantai ini. Apa kau tak melihat majikanmu itu sedang berada di bagian barat tubuhmu, tepatnya bersembunyi dengan berpura-pura ikut sebagai wisatawan yang mwnikmati keindahan pantai?” tanya Romeo dengan pemberitahuan tentang keberadaan Akram.
“Kamu jangan melihatnya dengan kentara, berpura-puralah kalau kita ini sedang melakukan pendekatan satu sama lain, kalau bisa saat pulang ke rumah nanti, kau bisa berpura-pura baru saja menjadi kekasih saya! Saya ingin memastikan satu hal tentang perasaan duda nakal itu!” lanjutnya tersenyum tipis.
__ADS_1
Lelaki itu masih saja merasa kesal dengan sifat Akram yang rela menahan sakit hati demi menjaga gengsi. Tapi apa mau dikata karena Akram terlalu menjunjung tinggi sifat arogan yang ia miliki bahkan rela sakit hati, jadi mari buat hatinya merasa semakin sakit parah. Romeo mendekatkan wajahnya pada wajah Adinda dan Akram yang melihat itu semua hanya bisa mengepalkan kedua tangannya.
“Dasar pembohong, tak satupun ucapan lo kali ini bisa dipercaya! Apanya yang mau nganterin Adinda dan anak gue pulang ke rumah tapi malah ingin PDKT dengan modus murahan jalan-jalan ke pantai. Lo benar-benar pagar makan tanaman! Ternyata bukan hanya Reza yang menjadi suami sampah untuk Adinda tapi lo juga seorang sahabat sampah!” umpatnya dengan aura mematikan dengan tatapan seperti dejavu karena adegan yang sama hampir saja membuat nama baiknya tercoreng setelah memukul Romeo di taman hiburan.
Mengingat hal itu kembali, tentu saja Akram dengan cepat merogoh ponsel yang ada di dalam sakunya untuk menghubungi Roland, memberitahukan pada sang asisten agar segera menemuinya di salah satu warung tenda yang sedikit tertutup dengan mengirimkan lokasinya.
__ADS_1
‘Gue pastiin, lo nggak bakal bisa mendekati Adinda lagi!’ gumam Akram melihat Romeo yang terlihat seperti hendak menyapu wajah Adinda dengan bibirnya.
"Dasar Sialannn!!"