
Di ruang yang serba putih, terlihat seorang pasien dengan selang impus bergelantung di tangannya ditemani seorang pria dengan mata kelam beralis tebal. Wajahnya begitu tampan dengan cambang halus tumbuh di kedua sisi pipinya.
“Kamu sudah bangun? Apa kau ingat dengan namamu dan di mana tempat tinggalmu? Maaf karena supir saya tanpa sengaja menabrakmu.” Lelaki itu berjalan mendekati brankar tempat Adinda berbaring. Menatap wajah polos wanita yang terlihat masih diperban bagian dahinya karena cedera tabrakan karena supirnya yang mengebut atas perintahnya.
Adinda tidak menjawab melainkan menatap bingung dengan pria yang jujur mengatakan sebagai orang pemilik mobil yang telah menabraknya.
“Nama saya Akram! Mungkin kamu merasa bingung karena baru saja siuman, apa ada yang terasa sakit? Sebentar lagi dokter akan datang untuk memeriksa keadaanmu, jadi katakan apa ada yang terasa gak nyaman di tubuhmu?” tanya pria itu lagi dengan suara datarnya.
Adinda menggeleng. “Namaku Adinda, aku berasal dari kampung,” jawabnya dengan singkat karena apa Ini memberitahukan identitas yang sebenarnya sebab Adinda belum siap untuk bertemu lagi dengan sang suami yang baru saja memporak perandakan kepercayaan serta hatinya.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Adinda kembali teringat dengan surat perjanjian yang telah Ia tanda tangan, serta juga teringat dengan apa yang telah dilihatnya di kantor sang suami, adegan menjijikan yang membuatnya pergi hingga mengalami kecelakaan.
“Adinda?” Akram menatap lamat wajah perempuan yang langsung saja menundukkan kepala, terlihat begitu polos tetapi juga sangat menggemaskan. Namun dirinya bisa menangkap ada sesuatu yang sedang disembunyikan perempuan itu, jangan lupakan kalau sekretarisnya telah mengetahui latar belakang gadis yang mengakui namanya Adinda. Bahkan dirinya juga langsung mengetahui dari sang sekretaris, Kalau perempuan yang bernama Adinda sebenarnya mengalami kecelakaan setelah memergoki suaminya berselingkuh dengan wanita lain tapi Akram tidak akan memasuki ranah privasi perempuan yang sudah menarik sedikit kekosongan hatinya.
“I-iya, Tuan.” Gadis itu merasa gugup melihat ke arah kakinya yang diperban bagian sebelah kanan serta tangan kanan ternyata juga diperban dari pergelangan sampai ke siku, apa dia mengalami cedera yang begitu parah hingga begitu banyak perubahan yang menempel di tubuhnya?
Sepertinya cedera yang ada di tubuh Adinda sama sekali tidak terasa sakit tetapi kenyataan suaminya yang sudah mendua benar-benar membuat jiwanya terasa lara. Tiba-tiba saja Adinda mendengar suara langkah kaki dan ketika matanya menoleh ke arah pintu, ternyata seorang dokter bersama perawat sedang tersenyum ke arahnya. Bahkan Adinda baru menyadari kalau laki-laki yang tadi bernama Akram itu sudah berpindah duduk saja di kursi sofa ruangan ini.
Jangan salah, walaupun terlihat cuek dengan berwajah datar tetapi telinga dan matanya sangatlah awas mendengar dan melihat dari sudut kelopak matanya apa saja yang dibicarakan dan juga dikerjakan dokter itu terhadap wanita yang ditabraknya.
__ADS_1
“Sepertinya ada kesalahpahaman, kalau tuan Akram bukan suami saya tapi dia adalah orang yang menab– maksudnya yang menolong dan membawa saya ke rumah sakit ini,” jelas Adinda tak ingin terjadi kesalahpahaman hingga nanti bisa saja timbul suatu fitnah tapi dia juga tak ingin membuat lelaki itu terlihat buruk karena telah mencelakainya.
Adinda masih ingat kalau waktu dia berlari sama sekali tidak melihat ke kiri dan ke kanan, berarti kecelakaan ini terjadi hanyalah karena kesalahannya sendiri yang tidak hati-hati saat ingin menyebrang. Semua itu terjadi gara-gara hatinya yang sedang terluka dalam karena baru saja memergoki suaminya sedang beradegan panas di atas kursi sofa.
‘Dia suamiku hehehe Astagfirullah, mana mungkin orang setampan dan sepertinya kaya raya mau menjadi suamiku? Jangankan pria berkuasa seperti dia, Mas Reza yang mungkin tak ada apa-apanya dengan Tuan Akram ini sama sekali tak pernah menganggap sebagai istrinya.’ Adinda membatin di dalam hati.
Ketika Adinda melihat secara sepintas lalu, pria itu sangatlah tampan dan juga berkarisma bahkan cara bicaranya saja begitu sangat irit hanya terdengar sekali-kali saja, apalagi bibir lelaki itu sepertinya sangat sulit untuk menyunggingkan seutas senyum.
“Astagfirullah … kalau begitu saya minta maaf ya, Nona karena telah lancang mengira bahwa Tuan Akram adalah suami Anda sebab sepengetahuan Dokter dan suster yang menangani sejak Anda dirawat, beliau tak pernah meninggalkan ruangan ini!” cerita dokter itu dengan memperlihatkan gigi putihnya tersenyum begitu ramah.
__ADS_1
Adinda sampai melongo dibuatnya saat mendengar cerita dokter itu, membayangkan seorang pria dingin yang sama sekali tak pernah dikenalnya bersedia menunggui nya bahkan Gadis itu melihat sebuah laptop terletak indah di atas meja dekat kursi sofa tempat lelaki itu sedang duduk saat ini. Sepertinya pria yang bernama Akram itu melakukan pekerjaannya sambil menunggunya siuman.
“Papa, mana bunda yang dibilang cama Om Lehan cedang cakit?” tanya seorang gadis kecil berusia sekitar dua tahun.