
“Adinda!” serunya dengan nada sedikit keras, membuat semua pengunjung restoran tentu saja mengarahkan pandangan pada sosok yang telah berdiri dan melangkahkan kaki mendekati Reno dan Adinda.
Janda perawan itu tentu saja reflek mencari dan menoleh pada arah sumber suara yang baru saja memanggil namanya. Adinda sedikit kaget, tidak pernah menyangka jika orang yang memanggilnya ternyata adalah seorang polisi yang selama ini sering kali melakukan pendekatan padanya. Adinda sebenarnya Bukannya tidak tahu jika Romeo berusaha mendekatinya karena memiliki tujuan tertentu tapi Gadis itu hanya berpura-pura tidak mengerti karena tak ingin dua manusia yang saling bersahabat berakhir dengan saling bermusuhan karena Gadis itu juga tahu sang duda arogan memiliki rasa yang selalu coba di elakkannya.
"Pak Romeo, anda ...?" Adinda langsung saja membekap mulutnya dengan tubuh yang langsung saja bergetar karena merasa takut bertemu dengan sahabat dari duda yang sekarang ini ingin sekali dijauhinya.
"Pak … Pak Romeo?" ulang Adinda memanggilnya karena memang perempuan itu masih merasa belum yakin, jika orang yang sekarang berdiri di hadapannya adalah Romeo — sahabat karib dari Akram Julian Ramindra.
Rasanya gadis itu ingin tenggelam di perut bumi yang paling dalam karena merasa kesialan sebentar lagi akan menimpanya sebab dirinya menganggap Romeo pasti sebentar lagi akan menghubungi sang duda arogan. Romeo bisa menangkap kegelisahan yang terpatri di kedua bola mata Adinda.
"Ini siapa, Adinda? Apakah dia ini kekasihmu?" Romeo bertanya dengan gestur tubuh mengarahkan wajahnya pada Reno yang terlihat sangat tidak suka dengan kehadiran bapak polisi itu.
“Tentu saja bukan, Pak Romeo ini ada-ada aja,” sahut Adinda cepat.
Adinda yang mengerti arah pembicaraan dengan isyarat yang disampaikan Romeo, tentu saja langsung sedikit merasa tak enak hati karena sebenarnya dia sangat takut kalau sampai Romeo menyampaikan pada Akram tentang keberadaannya saat ini di restoran yang sama bersama si polisi itu, sementara dirinya baru saja kabur dari rumah duda satu anak temannya Romeo.
__ADS_1
"Oh ya, maaf saya lupa.” Adinda menolehkan pandang pada Reno, “Pak Reno. Kenalkan, ini Pak Romeo temannya majikan saya," jelas Adinda tanpa mengatakan kalau polisi itu sebenarnya adalah teman dari Akram Julian Ramindra karena dia merasa ragu, sebab Reno bisa saja kembali mempertanyakan keberadaan dirinya yang berjalan kaki di jalan raya, apalagi dia sangat yakin jika Reno sepertinya sama sekali tidak mengetahui bahwa dirinya baru saja keluar dari rumah besar milik sang duda beranak satu itu.
Adinda juga tidak ingin jika sampai Reno memberitahukan pada mantan suaminya, kalau sebenarnya Adinda saat ini sudah luntang-lantung di kota Jakarta dan itu bisa saja menjadikan mantan suaminya itu kembali mengemis dan meminta rujuk padanya, padahal jelas-jelas Gadis itu tak ingin lagi bertemu dengan sang mantan suami.
‘Sepertinya nanti aku harus bicara sama Pak Reno untuk merahasiakan pertemuan kami ini karena aku tak ingin dia menceritakan tentang keberadaanku pada Mas Reza, cukup sudah aku mengenal lelaki sang mantan suamiku sekejap mata daripada nanti kembali berbuntut dengan hal-hal yang tidak ku inginkan.’ Gadis itu berniat untuk berterus terang sama Reno, mana tahu saja lelaki itu bisa membantunya untuk mencari pekerjaan yang layak untuknya.
Adinda tidak tahu saja, kalau sebenarnya lelaki itu sendiri malah tak ingin memberitahukan pada mantan atasannya tentang keberadaan Adinda yang sekarang bersamanya. Adinda terlalu berpikiran panjang sehingga tentu saja membuat Reno menjadi sedikit curiga dengan tatapan Gadis itu yang terlihat gugup.
"Romeo!" Tangan Romeo terulur yang langsung disambut oleh Reno.
"Reno?" beo Romeo seolah-olah pernah mendengar nama lelaki itu.
Namun, beberapa detik kemudian ingatannya tetap saja tak bisa diajak untuk bekerja sama, tapi dia sangat yakin pernah mendengar nama lelaki itu hanya saja dia lupa di mana mereka pernah bersua.
“Teman lama? Sepertinya saya sedang beruntung bisa berkenalan langsung dengan salah seorang teman gadis hebat seperti Adinda,” lanjut Romeo menoleh ke arah Adinda yang langsung saja mengalihkan pandang pada arah lain Kenapa ingin bertatap wajah dengan lelaki itu.
__ADS_1
Sayangnya, baru saja Romeo menarik kursi dan ingin mendudukinya tapi ponsel lelaki tampan yang sudah matang tersebut berbunyi dengan nada suara lirik lagu lawas.
“Tumben Akram menelepon.”
Adinda langsung menoleh ke arah Romeo di mana lelaki itu juga sedang memandang wajahnya, sesaat Romeo sedikit bingung dengan isyarat yang diberikan Adinda menggunakan telunjuk di antara kedua bibirnya diiringi gelengan kepala.
“Halo, selamat siang. Apa ada yang bisa saya bantu, Bapak Akram yang terhormat?” sapa Romeo bicara sangat formal, bukan karena dirinya yang sedang mengenakan seragam tetapi pria itu masih kesal dengan sahabatnya yang berpura-pura sakit hanya demi Adinda terpisah darinya saat di pantai.
[Ke mana Adinda kamu bawa kabur?! Cepat kembalikan Adinda atau persahabatan kita putus!] tuduh Akram secara langsung tanpa bertanya terlebih dahulu disertai kata-kata ancaman.
Romeo kembali melihat sorot mata Adinda yang berharap, ditambah lagi gadis itu memberikan isyarat genengan kepala agar Sang Bapak Polisi tidak menyampaikan tentang keberadaannya. Bahkan Adinda menyatukan kedua telapak tangan ke arah dadanya dengan gerakan bibir sembari berucap, “Help me, please …!”
Polisi itu membalikkan tubuhnya, “Kamu jangan asal menuduh karena saya sama sekali tak ada melihat Adinda!”
[Jangan kau buat kesabaranku hilang, Romeo! Atau kamu akan menyesal seumur hidup karena aku sama sekali tak pernah takut denganmu!]
__ADS_1
"Saya tak takut denganmu! Coba saja kalau kau punya nyali, saya tunggu kamu di restoran Mak Mey ... tapi jangan menyesal kalau sampai Adinda akan semakin membenci duda arogan sepertimu!"