
Satu minggu kemudian kondisi tubuh Adinda sudah sangat baik bahkan gips yang ada di kakinya pun sudah dilepas karena memang kaki perempuan itu sama sekali tidak patah hanya sedikit mengalami keretakan hingga dokter juga berjanji akan selalu memeriksa kondisi tubuh Adinda di rumah tuan Akram Julian Ramindra sesuai dengan permintaan lelaki bermata gelap dengan wajah datar itu.
Gadis itu benar-benar seperti berada di dalam sangkar pengakuan yang tak bisa melakukan apapun juga, bahkan Karya yang ia tulis di salah satu platform berwarna biru terpaksa ya hentikan sementara dan itu sungguh membuatnya merasa bersalah pada pembaca setianya.Bagaimana caranya agar dia bisa meminta maaf pada Leadernya sementara ponsel pun sama sekali tidak dimilikinya sejak mengalami kecelakaan waktu itu.
“Maaf, Nona Adinda … saya diperintahkan oleh Tuan Akram untuk menjemput anda karena beliau sedang tak bisa meninggalkan meeting penting saat ini,” jelas Arnold dengan membungkukkan kepala layaknya sedang berbicara dengan atasannya.
Adinda hanya bisa menanggapi dengan sedikit senyum meringis. Terpaksa menarik garis bibir padahal dirinya sama sekali tak ingin berada dalam situasi seperti sekarang ini.
“Bundaa, Caca datang buat jemput bunda, oma bilang bunda pulang hali ini. Apa Bunda nanti akan tidul baleng cam Caca?” tanya gadis kecil itu dengan pancaran mata polosnya.
Walau sebenarnya ocehan gadis kecil itu rasanya membuat kepala Adinda semakin pening karena ulah si tuan arogan yang dengan sengaja membuatnya masuk pada kondisi yang membuatnya semakin merasa sulit. Dirinya pun tak bisa sesuka hati menjawab perkataan si kecil karena bisa membuat anak mungil nan menggemaskan itu mengamuk dan bersedih. Ditambah lagi Adinda benar-benar tak mampu untuk menolak pancaran berbinar dari dua bola mata bening milik Caca.
Huftt!
Sebelum menjawab, Gadis itu sempat melirik pada nyonya ramindra, seolah meminta bantuan tentang Apa jawaban yang pas untuk dikatakannya pada gadis mungil itu. Nyonya tua itu hanya memberikan kode dengan anggukan kepala dengan arti tentu saja Adinda harus berpura-pura sebagai Bundanya Caca.
“Tentu saja sayang, nanti kita bisa tidur bersama!” jawab Adinda tanpa pernah memikirkan apa ide dari bocah kecil itu selanjutnya.
__ADS_1
“Belalti nanti kita bica tidul beltiga dan bunda halus baca celita bial aku dan papa bica tidul,” sambung gadis kecil itu tanpa pernah diduganya.
‘Hah? Yang benar saja kami satu ranjang bertiga, memangnya aku ini istrinya Tuan Akram?” Adinda menggigit Bibir bawahnya menoleh pada nyonya besar yang terkekeh geli melihat wajah kepanikan gadis yang dipanggil Bunda oleh cucunya.
Adinda semakin merasa frustasi. Apa yang harus dilakukannya?
“Bagaimana kabarmu hari ini,Nak? Apa udah siap untuk pulang ke rumah mama, kan?” tanya Nyonya Ramindra dengan senyum yang begitu ramah.
“Alhamdulillah sudah jauh lebih baik dari kemarin-kemarin, Nyonya,” jawab Adinda dengan perasaan sungkan karena memang perempuan yang selalu dipanggil nyonya besar itu sangat tidak pantas untuk dipanggilnya mama.
Nyonya Ramindra langsung mengerutkan dahi mendengar sebutan untuknya yang meluncur begitu saja dari bibir Adinda.
‘Memangnya dia Mama mertuaku? Rasanya sangat memalukan kalau sampai ada orang lain tahu jika aku harus memanggil Mama pada seseorang yang sama sekali tak punya hubungan apapun denganku kecuali gara-gara gadis manis yang kecil ini,’ lanjutnya di dalam hati.
‘Astagfirullah nggak anak nggak ibu sama-sama pemaksa!’ rintih Adinda di dalam hati tapi sama sekali tak berani mengungkapkannya hingga memperdengarkan kata-kata protes dari dalam jiwanya.
“Maaf nyo – eh Mama, bukankah sebenarnya ini sangat tidak pantas karena sama saja saya sedang membohongi seorang anak kecil.” Sungguh Adinda tidak pernah ingin melakukan semua sandiwara seperti sekarang karena menurutnya semakin ada dusta dengan dalih kebaikan maka akan semakin banyak dosa berikutnya yang bakal dilakukan untuk menutupi seluruh kebohongan sebelumnya.
__ADS_1
Seorang perawat datang membawakan kursi roda ke dalam kamar yang langsung diambil alih sama Arnold. “Ayo, Nona … saatnya kita pulang ke rumah!”
Adinda memberikan interupsi dengan mengangkat telapak tangannya, merasa bingung dengan ajakan pria bernama Arnold itu dengan kata ‘pulang ke rumah’ apa jangan-jangan dirinya memang bakal dipaksa untuk tinggal serumah dengan pria bernama Akram Julian Ramindra itu?
Namun, belum juga Gadis itu sempat mengucapkan apa yang ingin dikatakannya, tiba-tiba saja dari depan seorang pria jangkung dengan tinggi 187 cm berjalan melangkah tegak mengarah pada mereka semua dengan tatapan datar yang mampu membuat semua orang tertekan.
“Loh Tuan Akram … bukannya Anda tadi mengatakan sedang menghadiri meeting yang sangat penting?”
“Kamu pergi lah gantikan saya karena urusan kepulangan Adinda pulang ke rumah jauh lebih penting dari apapun!” Tanpa bertanya Akram langsung mengambil alih kursi roda itu dan membawanya ke arah brankar di mana Adinda sedang duduk.
Melihat gerakan yang seolah-olah bisa dibacanya, dengan cepat Adinda melangkah ke arah kursi roda yang di bawa Akram tapi sayangnya lelaki itu memang benar-benar kurang kerjaan, meraih tubuh sang gadis yang langsung berteriak karena tiba-tiba saja Akram menggendongnya dengan cepat dan meletakkan Adinda di atas kursi roda.
“Waaaw, Papa keleeen!” seru putrinya yang membuat Akram membusungkan dadda mendapat pujian dari sang anak.
“Keren apanya? Mana ada orang yang mengambil istri dari pria lain disebut keren?” cicit Adinda yang hanya bisa didengar sama Akram, membuat lelaki itu mengepalkan kedua tangan di samping tubuhnya.
Akram membungkuk sedikit dan mensejajarkan wajahnya di dekat pipi Adinda, “kamu pasti akan melihat bagaimana kerennya seorang Akram di atas tempat tidur!” balasnya dengan sengaja meniup wajah Adinda hingga terasa udara segar nan hangat menyapu muka gadis itu.
__ADS_1
"Dasar kurang ajar!"