
Reza masih terdiam di tempatnya, mematung dan mengingat kembali kalimat pedas yang selalu diselingi kata sampah meluncur dari mulut sang CEO terkenal dan berkuasa, membuat Reza merasa sangat direndahkan. Lelaki itu merasa tidak percaya kalau ternyata sekarang Adinda dan Akram sudah bagaikan pasangan suami istri dengan seorang anak kecil yang menggemaskan, sungguh pemandangan itu sangat menyakitkan!
‘Dulu kamu selalu bicara dengan sopan dan menghargai serta menghormatiku, Adinda tapi kenapa sekarang dirimu langsung berubah? Apa sebenci itukah dirimu padaku hingga tak mau memberiku kesempatan kedua sedikit pun?’ batin Reza merasa tersiksa penuh sesal.
Andai saja waktu bisa diputar kembali maka Reza tidak akan pernah melakukan kesalahan fatal dengan bermain perempuan di belakang istrinya. Walaupun mereka awalnya hanya melakukan pernikahan kontrak tapi dirinya juga menyadari kalau di dalam setiap poin yang telah mereka sepakati, memang tidak boleh ada perselingkuhan di antara mereka hingga satu tahun pernikahan berjalan.
‘Maafkan aku Adinda … karena kesalahanku sendiri membuat hati ini selalu merasa tersakiti. Dulu aku sama sekali tidak pernah ingin mengerti bagaimana rasa sakit hatimu ketika aku membawa wanita ke rumah kita dan kamu masih berdiam diri saat melihatku bermesraan dengan wanita lain di ruang tamu. Aku memang suami yang tak pantas untukmu tapi salahkah jika aku masih berharap agar suatu saat kita kembali bisa bersatu?’ Reza menyesal tapi waktu tak bisa lagi diputar yang tinggal hanyalah perasaan sedih, tersakiti oleh sifatnya sendiri dengan penuh rasa sesal mendalam ingin memperbaiki kesalahan, tapi asa yang putus tak bisa dirajut kembali.
Tanpa terasa tubuh lelaki itu begitu lemas hingga dirinya bersandar pada salah satu dinding, tubuhnya pun luruh ke lantai dengan beberapa tetes air mata mengalir melewati pipinya tanpa diduga hingga beberapa orang yang lewat ingin ke toilet memandang aneh padanya.
“Mas, Mas … apa Anda baik-baik saja? Apa Anda perlu bantuan saya? Kalau misalnya anda sakit biar saya antarkan ke rumah sakit, atau apa Anda ini terlalu lelah?” tanya seorang office boy supermarket ketika melihat tubuh Reza yang tadi sempat seperti orang yang kelelahan atau lebih tepatnya mirip orang yang akan pingsan, hingga lelaki yang sudah bekerja lima tahun di supermarket tersebut mendatanginya.
Reza mendongakkan kepala dengan sisa-sisa air mata yang masih menjejak di kedua pipinya, memberikan senyum dengan terpaksa diiringi gelengan kepala.
__ADS_1
“Saya nggak apa-apa kok, Pak. Tadi kepala saya hanya sedikit pusing saja, nanti setelah istirahat sebentar juga bakal baik-baik saja,” sahut Reza merasa sedikit malu karena ternyata masih ada orang yang memperhatikannya, padahal biasanya tak akan ada manusia yang peduli akibat sifat individu yang hampir mendarah daging di zaman sekarang.
Office boy itu melihat penuh sedikit dari ujung rambut hingga ujung kaki Reza, memperhatikan jika lelaki yang sedang ia tanya sekarang terlihat berkelas dan bukan orang sembarangan, tapi kenapa pria tampan itu malah menangis? Sang office boy bertanya heran di dalam hati.
“Apa Anda yakin? Jika anda butuh bantuan nggak usah sungkan, Insya Allah saya akan membantu anda kalau memang rasanya tidak kuat pulang ke rumah maka saya pun akan minta izin pada atasan saya untuk mengantar Anda, atau mungkin Anda mau saya panggilkan taksi?” Pria itu tersenyum tulus, terlihat sekali kalau lelaki itu memang tak ada niat lain kecuali lillahi ta'ala untuk membantu Reza.
Kenapa yang lebih peka itu selalu rakyat jelata seperti karyawan yang berstatus sebagai office boy? Inilah dunia zaman sekarang dimana rasa empati sudah susah untuk didapatkan, bahkan terkadang ketika terjadi kecelakaan, orang-orang malah sibuk memviralkan dengan cara merekam video dan menyebarluaskan, sangat jarang orang yang peduli dan ingin membantu korban.
“Terima kasih banyak, Pak tapi saya masih kuat kok mengendarai mobil sendiri,” sahut Reza mulai bangkit dari lantai dan berdiri sembari melengkungkan bibirnya, memberi senyum ramah pada lelaki dengan baju seragam warna hijau.
***
“Kamu kenapa diam saja dari tadi, apakah kamu masih memikirkan mantan suamimu itu?” tanya Akram yang duduk dengan santai di samping Adinda.
__ADS_1
Mereka berdua sedang menunggu Caca yang asik bermandi bola. Keduanya terlihat sangat serasi bak sepasang suami istri bahkan beberapa pasang mata meyakini, kalau mereka memang merupakan keluarga kecil yang sedang bermain bersama buah hati mereka.
Keduanya seolah terlihat sedang bersabar menunggu seorang anak yang asik bermain bola warna-warni. Terkadang Caca melambaikan tangan mungilnya dengan wajah berbinar pada Adinda dan Akram sembari memanggil papa dan juga bunda.
“Papa … Bunda … Caca di ciniiii!!” teriak bicah itu dengan tangan melambai pada keduanya.
“Bundaaa, becok kita ke cini lagi ya?!” lanjutnya masih berteriak senang.
Adinda membalas lambaian tangan si kecil dan juga memberikan senyum diiringi anggukan kepala walau dirinya tahu jika permintaan cacah tidak mungkin iya kamu kan karena apapun keputusan di rumah itu selalu harus mendapatkan izin dari si tuan bermata kelam.
“Papa, Caca aus, mau minum,” ucap Caca yang tiba-tiba saja berlari mendekati papanya.
Adinda memang sudah membawa tas berisi semua perlengkapan yang dibutuhkan si kecil, langsung saja meraih tas itu dan mengambil botol berisi air meniral untuk diberikan nya pada Caca, namun seseorang yang sangat dihindari Akram malah tiba-tiba saja datang menghampiri.
__ADS_1
“Eh ada putri cantik di sini, mau minuman punya tante, gak? Rasanya enaaak sekali.”
Jangan lupa beri like dan komentar ya, karena itu mempengaruhi performa novel ini, terima kasih sudah bersedia meluangkan waktunya, syukron wa jazakallahu khairon.