Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 104


__ADS_3

Adinda terkekeh kecil mendengar pertanyaan dari Reno, “Bagaimana mungkin saya masih mengharapkan cinta dari mas Reza jika rasa cinta itu saja belum sempat tumbuh dan berkembang,” sahut Adinda dengan santai.


Wajahnya sengaja dipalingkan ke luar kaca mobil, teringat masa-masa menyakitkan dari sang mantan suami dadakannya — tepatnya suami yang menginginkan pernikahan kontrak dengannya. Hati wanita mana yang tak akan merasa sakit kala suaminya berani membawa wanita lain di depan mata kepalanya? Tidak ada seorang istri yang bisa berdamai dengan hatinya ketika seseorang itu telah sah menjadi suaminya tapi masih saja tak lepas dari wanita lain.


“Maaf, kalau saya telah menyakiti hatimu. Saya sama sekali tak ada niat untuk membuatmu kembali membuka luka lama tapi saya hanya ingin tahu kebenarannya!” tegas Reno yang langsung bisa melihat luka dari gesture yang dilakukan Adinda dengan cara sengaja mengalihkan pandangan melihat keluar.


Reno sangat yakin jika luka itu tak akan bisa sembuh dengan cepat tapi dirinya juga percaya, jika Adinda pasti bisa melewatinya dengan mudah karena wanita itu berterus terang belum sempat jatuh cinta pada suaminya tapi sudah terluka oleh tingkah Reza.

__ADS_1


“Saya membuka Cafe sejak tak lagi bekerja dengan Pak Reza. Saya sebenarnya Berusaha meminta alamatmu sama Tuan Roland, asisten pribadinya Tuan Akram tapi lelaki sombong dan dingin itu sama sekali tak pernah memberitahukan di mana tempatmu bekerja. Padahal saya benar-benar ingin bicara banyak hal denganmu, termasuk ingin mengajakmu bekerja di kafe saya, walau mungkin gajinya tak setinggi uang bulanan yang pernah diberikan Pak Reza padamu,” lanjut hari ini yang tak ingin menghilangkan kesempatan bicara dengan Adinda dan kalau perlu janda itu selalu berada di dekatnya mulai dari sekarang.


“Uang bulanan?” beo Adinda yang ternyata sudah lupa dengan perjanjian hitam di atas putih yang pernah sama-sama ia tandatangani dengan Reza, bahkan mantan suaminya itu menjanjikan uang 30 juta untuknya setiap bulan agar gadis itu bisa tetap kuliah walau mereka sudah menikah, asalkan dirinya harus mau menjadi istri kontraknya sampai setahun kedepan.


“Astaghfirullah … saya sempat lupa kalau Mas Reza berjanji pada saya akan memberikan uang bulanan itu sebagai istrinya dan juga biaya kuliah tapi saya sama sekali tak pernah memeriksa rekening, bahkan jika Mas Reza mengerti kewajiban seorang mantan suami yang juga harus tetap menafkahi mantan istrinya di masa iddah … maka kemungkinan besar Mas Reza masih mengirimi saya uang,” terang Adinda berbicara dengan menatap wajah lelaki yang masih fokus menyetir di sampingnya.


“Dugaan Pak Reno tepat sekali hehehe. Jangankan saya punya akun banking, tabungan atas nama saya saja waktu itu Mas Reza yang mengurusnya, jadi saya hanya tahu memegang buku tabungan dan atm-nya saja,” imbuhnya menceritakan karena memang gadis itu sejak dulu merasa belum membutuhkan kartu ATM karena memang setiap ibunya mengirimkan uang selalu diterima lewat Tetangga Sebelah rumahnya.

__ADS_1


“Kita makan dulu karena saya sedang lapar,” ucap Reno tiba-tiba saja membelokkan mobil yang ia kendarai ke salah satu restoran yang berada di sisi kiri jalan. Adinda hanya diam mengikut saja apa yang disampaikan oleh Reno barusan karena memang dirinya hanya seorang penumpang dadakan.


Reno dan Adinda masuk ke dalam restoran tanpa mengetahui ada sekelompok orang mengenakan seragam coklat yang duduk di salah satu meja panjang berjumlah lima orang. Reno menarik salah satu kursi dan mempersilahkan Adinda untuk menempatinya.


“Makasih, Pak,” ucapnya memperdengarkan suara lembut yang membuat salah seorang kelompok mengenakan seragam coklat tadi mengangkat wajahnya, menatap seorang gadis berhijab yang duduk bersama laki-laki tak dikenalnya.


Bibirnya langsung terangkat ke atas membentuk senyum yang begitu sumringah karena dirinya ingin sekali berjumpa lagi dengan sang gadis tapi terhalang oleh pria arogan yang selama ini berstatus sebagai sahabatnya.

__ADS_1


“Adinda!” serunya dengan nada sedikit keras, membuat semua pengunjung restoran tentu saja mengarahkan pandangan pada sosok yang telah berdiri dan melangkahkan kaki mendekati Reno dan Adinda.


__ADS_2