Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 95


__ADS_3

“Kau mau ke mana?” Akram bukannya minta maaf tapi malah langsung bertanya karena dia sama sekali tidak menginginkan gadis itu pergi dari kehidupannya. Lalu dirinya harus bagaimana sekarang?


“Pergi!” ketus Adinda kembali ingin menutup pintu kamarnya. Akram tentu saja mengerti arti kata pergi yang diungkapkan Adinda barusan karena Gadis itu menjauh dari dirinya yang tak pernah bisa berubah dengan cara menjaga lidah dan juga sikapnya.


“Kamu jangan pergi, Ayo kita bicara!” ucap Akram kali ini dengan tegas bahkan kaki pria itu sengaja dibiarkan terjepit daun pintu karena Adinda tetap meneruskan niatnya Ingin menutup pintu walau sang duda berusaha mendorongnya.


“Pergilah, Tak ada yang perlu kita bicarakan lagi karena semuanya sudah jelas, jangan ganggu kehidupan saya lagi karena saya hanya seorang pengasuh anak anda alias pembantu!” Adinda dengan sengaja menginjak-injak kaki Akram yang sengaja ia jepit dengan daun pintu tetapi sepertinya lelaki itu sama sekali tidak merasakan, karena di dalam benak Akram hanya ingin bicara berdua secara baik-baik dengan Adinda.


“Maaf ....”

__ADS_1


Satu kata itu lolos dari bibir Akram, bahkan dirinya rela kaki kanannya yang sejak tadi dijepit begitu keras oleh Adinda menggunakan daun pintu, serta diinjak-injak menggunakan tenaga sang gadis, asalkan dirinya bisa mencegah pengasuh Sang Putri agar jangan pernah pergi dari rumahnya.


Kaki Adinda yang sejak tadi sibuk menginjak-injak kaki Akram, berhenti seketika, bahkan tangannya terasa lemas untuk mendorong pintu sehingga Akram pun bisa menerobos masuk dan malah dengan sengaja menutup pintu itu karena dia tak ingin sang Mama mendengar apa yang ingin Ia bicarakan dengan Adinda.


“Maaf karna saya membuatmu tak betah di rumah ini,” lanjut Akram lagi yang sudah duduk di bibir ranjang dengan mata tak lepas menatap reaksi Adinda yang diam terpaku.


Sementara Adinda tidak tahu harus mengucapkan kata seperti apa untuk menghadapi duda arogan yang sangat menyebalkan. ‘Orang ini lagi kesambet apa ya? Kok bisa-bisanya dia mengeluarkan dan minta maaf padaku, biasanya kan tahunya cuma membully orang dan mengataiku janda serta pengasuh atau yang lebih parahnya menganggapku seorang pembantu. Padahal jelas-jelas dia sendiri yang memaksaku bekerja dengannya, dasar menyebalkan!’ rutuk Adinda di dalam hati menatap wajah Akram dengan pandangan malas.


Melihat Adinda yang bergeming di dekat pintu, membuat lelaki itu menoleh pada gadis itu lagi, menatap Intens dari ujung rambut hingga ujung kaki Adinda. Akram berdiri menghampiri, menyisakan jarak beberapa cm sebelum tubuhnya benar-benar bisa menempel dengan tubuh sang janda perawan.

__ADS_1


“Anda mau apa, stop dan jangan mendekat!” peringat Adinda ingin mundur tetapi punggungnya sudah terbentur dinding. Adinda menatap tajam wajah yang duda itu saat ini, entah kenapa tiba-tiba saja terlihat begitu sendu dan lesu?


“Tolong Adinda … kamu nggak bakalan pergi meninggalkan Caca, bukan? Saya tahu kalau selama ini selalu menyakiti hatimu, tapi tolong jangan pergi meninggalkan rumah ini!” pinta Akram dengan suara lembut karena dia tak ingin memancing emosi gadis di hadapannya.


'Karena aku tak ingin kehilanganmu,' lanjutnya di dalam hati.


Dirinya sudah pasti akan kesepian ditinggalkan semua orang sebab sang Mama juga telah memberikan ancaman yang akan ikut pergi bersama pengasuh putrinya itu. Apalagi Akram sudah terbiasa melihat mata teduh milik Adinda sebagai penghilang penat sehabis bekerja.


“Bukankah anda sendiri yang telah meminta saya untuk pergi dari rumah ini? Saya akan tetap pergi karena saya memiliki harga diri yang selalu anda injak-injak setiap hari, padahal seharusnya Anda bisa berpikir kenapa saya bisa ada di sini sekarang? Anda sendiri yang minta izin pada Bunda saya agar bekerja untuk mengasuh anak anda … tapi kenapa sikap Anda langsung berubah setelah saya bekerja di sini? Jadi untuk kebaikan semua orang maka sebaiknya saya memang menjauh dari kehidupan Anda, Tuan Akram Julian Ramindra yang terhormat.” Adinda menolehkan wajahnya ke samping karena tidak ingin menatap wajah pria itu begitu lama, apalagi dirinya juga merasa sangat aneh dengan tubuhnya sendiri yang tiba-tiba saja ada detak jantung yang semakin bertalu-talu ketika lelaki itu semakin memperkecil jarak diantara mereka.

__ADS_1


“Saya mohon jangan pergi ... apa yang harus saya lakukan supaya kamu tak pergi dari rumah ini?”


Jika pembaca selesai membaca bab, tolong beri like and komen ya karena uni melihat alhamdulillah yang baca hampir 3000 orang tapi yang like sangat menyedihkan, makanya jadi kurang semangat untuk lanjut. Tadinya udah mau tamat tapi melihat antusias pembaca, jadi senang melihatnya, makanya tinggalkan jejaknya ya, kasih bintang lima, komentar dan like. syukron semuanya.


__ADS_2