
Roland baru saja turun dari mobil berwarna merah nyala secerah hari ini tetapi sayang raut wajahnya berbanding terbalik dengan kendaraan yang dibawanya ke perusahaan gedung berlantai 20 itu.
“Selamat pagi, Pak. Hari ini anda harus menggantikan Tuan Akram untuk meeting dengan klien PT Lin tentang perencanaan pembangunan apartemen 10 lantai di Jakarta Selatan,” lapor seorang perempuan yang menjabat sebagai sekretaris bernama Parwati.
Roland belum menjawab, pria itu sedang memijat kedua pelipisnya sembari kaki tetap berjalan menuju ruang kerjanya. Jam di dinding baru memperlihatkan angka 07 : 30 WIB. Sejak sang atasan sibuk dengan mainan baru yang membuat hidupnya berwarna, pekerjaan Roland semakin menumpuk saja. Belum juga pria itu memberikan jawaban terhadap Parwati, tiba-tiba ponsel di dalam sakunya bergetar. Terlihat nama Akram tertera di layar utama benda pipih miliknya.
“Halo selamat pagi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?” sahut Roland di saat setelah menerima panggilan telepon dari sang bos.
[Adinda pergi dari rumah saya dan tugasmu mendapatkan informasi kemana tujuannya! Saya mau mendapatkan hasilnya dalam dua jam dari sekarang!]
__ADS_1
Klik!
Roland benar-benar semakin frustasi, belum juga selesai pekerjaan yang ingin dikelarkannya hari ini, bertambah lagi pekerjaan yang membuat kepalanya semakin pusing. Ingin resign tetapi sayang gaji yang ditawarkan sebagai asisten pribadi seorang Akram Julian Ramindra tidak akan mungkin dengan mudah didapatkannya di perusahaan lain.
“Kamu reschedule meeting itu dulu! Ada hal yang jauh lebih penting harus saya kerjakan saat ini dan kalau ini tidak bisa saya selesaikan, mungkin saya tak akan bisa lagi berdiri di perusahaan Ramindra Group.” Asisten itu terpaksa meninggalkan perusahaan untuk melaksanakan titah baru dari sang pemilik gedung berlantai 20 itu.
Sementara Adinda, setelah sampai di rumah yang diarahkan oleh nyonya Ramindra, gadis itu mengenal sepasang suami istri yang tinggal di sana sebagai penjaga sekaligus pelayan yang bekerja di rumah itu.
“Baik, Neng Adinda. Nanti Bibi sampaikan kalau nyonya menanyakannya,” sahut Bibi Siti sembari melangkah menuju ke gang depan rumah. Menunggu datangnya taksi online yang akan membawa Adinda pulang ke Sukabumi, bertemu dengan bunda dan kakaknya.
__ADS_1
“Kalau begitu, Adinda pamit dulu ya Bi. Assalamualaikum!” ujar Adinda setelah menciumi punggung tangan wanita paruh baya itu sebelum memasuki taksi online yang sudah dipesannya.
Hampir tiga jam perjalanan ditempuhnya menuju kampung halaman hingga rumah yang dulu hanya sepetak kecil, sempat membuatnya terkejut karena sudah ada ruko lumayan besar berdiri kokoh di halaman rumahnya. Bahkan rumah Bunda Hanum saat ini terlihat menjadi rumah yang paling megah di antara perumahan lainnya.
Baru saja gadis itu keluar dari taksi yang disewanya hingga ke Sukabumi, tiba-tiba saja satu mobil sport berwarna hitam, ikut berhenti setelah taksi yang ditumpanginya pergi. Adinda yang tidak menyadari kehadiran laki-laki itu tetap berjalan setelah menenteng buah tangan yang sengaja dibelinya untuk keluarga kesayangannya.
Begitupun dengan pria yang ada di mobil warna hitam tersebut, dirinya juga ikut turun dari mobil setelah mengambil beberapa box Bakery sebagai buah tangan untuk keluarga Adinda.
Saat Adinda baru saja menginjakkan kaki di atas teras rumah, tiba-tiba saja suara bariton yang sangat familiar di telinganya memanggil namanya. .
__ADS_1
“Adinda!”