
Brak!
Pintu itu ditendang sama Akram dari luar tetapi masih belum hancur, hanya saja di bagian tengah daun pintu jebol sebesar pijakan kaki sang lelaki yang sudah menendangnya karena kalut mendengar isakan tangis sang putri.
“Papa, Caca takuuut!!” Kembali terdengar lengkingan suara anak kecil.
“Tolongin bunda, Papaaa, hoaaa. Olang jahat pelgii!! Jangan ganggu bunda Caca!” teriak suara Caca yang semakin membuat Akram tidak sabaran ingin menghajar pria pecundang yang hanya berani bermain curang.
Brak! Pintu it kembali ditendang.
“Buka pintunya, bajingann! Atau akan saya hancurkan seluruh keluargamuuu!!” raung Akram mulai menggila di luar kamar.
“Buka, Reza! Jangan keras kepala, Nak, kasihan Adinda dan putrinya Tuan Akram!” pinta sang mama menyeru sambil menangis, Memohon pada putranya sendiri agar bisa segera mau membuka pintu.
Tubuh Ibu Suryo bahkan sudah bergetar sejak tadi karena merasa takut melihat sosok Akram yang sedang marah seperti iblis yang siap membunuh siapa saja yang telah mengganggunya.
__ADS_1
“Ckckck, dasar pengganggu rumah tangga orang!” Reza berdecak lidah kesal karena Akram bukannya pergi tapi malah merusak pintu kamar itu. Percuma juga dirinya akan tetap mempertahankan tidak mau membukanya karena dia yakin pria bertubuh kekar tersebut pasti akan merobohkan pintu kamar yang ditempati Adinda sekarang dengannya.
Ceklek!
Baru saja tangan Reza membuka pintu tapi satu bogeman mentah telah mendarat di bagian perutnya hingga lelaki itu terhuyung beberapa langkah ke belakang, tidak siap dengan hantaman mendadak dari Akram.
Agh!
Bugh!
“Kau!
“Apa?! Saya hanya ingin menjauhkan pria breng sek sepertimu dari anak saya dan Adinda! Dasar sampah! Enyah kau kalau tak mau mati hari ini juga!” raung Akram dengan mata nyalang.
Reza merintih dengan tangan yang memegang bagian perutnya bekas tendangan Akram, ternyata kekuatan pria itu tidak bisa diremehkan bahkan rasa sakit lumayan mengganggu bagian lambungnya. Belum lagi ada rasa asin menerpa bibirnya.
__ADS_1
‘Gilaa ini orang tenaganya dari Hercules apa? Sakit bener perutku,’ oceh Reza di dalam hati dengan wajah meringis menahan sakit.
Pria itu sama sekali tidak pernah menyangka kalau Akram dengan berani menendang pintu kamarnya, padahal jelas-jelas lelaki itu hanya merupakan seorang tamu di rumahnya. Bahkan Akram dianggap merupakan tamu yang datang tanpa diundang.
“Sayang, kamu ndak apa-apa, Nak?” tanya Akram yang langsung mengambil alih Caca dari gendongan Adinda. Pria itu juga memperhatikan keseluruhan tubuh wanita yang sejak tadi berusaha melindungi putrinya.
“Ayo sekarang tinggalkan rumah ini, sebelum nyawamu melayang di tangan setan seperti dia!” tunjuk Akram dengan tatapan bengis pada wajah Reza yang tak kalah menatapnya sinis.
“Apa Anda sedang berusaha merebut istri saya? Apa Anda setak lakunya hingga mau jadi seorang pebinorr?!!” Reza emosi. Pria itu melangkah semakin dekat ke arah Adinda tapi sang istri malah dengan cepat menghindar dan bersembunyi di belakang Akram. Perempuan itu seolah sedang meminta perlindungan dari sosok ayahnya Caca itu.
“Saya tidak pernah ingin ikut campur dengan urusan rumah tangga kamu breng sek, tapi jika Adinda sendiri yang sudah tak mau bersama suami ba jingan sepertimu, harusnya kamu tau diri. Sekali sampah maka sifatmu akan tetap menjadi sampah selamanya. Sekali tukang selingkuh maka kamu akan tetap menjadi suami yang akan selalu menyakiti hati istrimu, apa kamu nggak punya malu? Bahkan kau masih berbau junub dengan wanita lain di hadapan istrimu. Dasar pria sampah tak punya otakkk!!” maki Akram dengan rahang mengeras.
Duda satu anak itu meraih pergelangan tangan Adinda lalu menarik lembut perempuan itu meninggalkan kamar.
“Maaf, Pak Suryo. Mulai hari ini Adinda akan saya angkat jadi pengasuh anak saya. Dia akan menjadi orang saya dari sekarang, jadi ajari anak anda jika masih mau hubungan kerja sama perusahaan kita tetap berlangsung! Atau saya ratakan perusahaan Anda dengan lubang kuburan!” ancamnya dengan wajah datar.
__ADS_1