
Ketika orang sedang terlelap begitu nyenyak dan terbuai di alam mimpinya, Adinda malah dengan sengaja bangun dari tidurnya, melangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk sekedar membersihkan diri dan mengambil air wudhu sebelum menghadap sang Ilahi. Adinda benar-benar tidak tahu lagi harus mengadu kepada siapa, kecuali kepada sang maha pencipta.
Gadis itu mulai larut dalam linangan air mata setelah menunaikan delapan rakaat shalat tahajud diiringi dengan tiga rakaat witir yang mampu membuat hatinya jauh terasa lebih teduh dan tak lagi membuat kepalanya berdenyut nyeri kala mengingat perbuatan sang suami.
Tok! Tok! Tok!
Seseorang mengetuk pintu kamarnya membuat Adinda menjadi bertanya-tanya, soalnya ketika mata Gadis itu melirik ke arah jam yang ada di dinding, jarum pendek benda berbentuk bulat itu masih menunjuk ke arah angka tiga.
‘Apa mungkin itu nyonya Ramindra?’ terkanya di dalam hati.
__ADS_1
Gadis itu melangkahkan kaki menuju ke arah pintu lalu membukanya. Betapa terkejutnya sang gadis yang masih mengenakan mukena kala melihat seorang lelaki jangkung yang masih mengenakan piyama tidur sedang berdiri menjulang tinggi di depan pintu kamarnya.
“Tuan Akram?” Dahi Gadis itu berkerut, merasa bingung dengan kedatangan Akram yang tiba-tiba saja di depan pintu kamarnya pada dini hari seperti saat ini. Apakah pria itu tak bisa tidur ataukah Akram ingin menyampaikan sesuatu padanya? Entahlah, Adinda merasa bingung harus melakukan apa karena tidak mungkin Gadis itu mempersilakan masuk seorang laki-laki yang bukan mahramnya ke dalam kamar tempatnya beristirahat.
“Saya tak bisa tidur memikirkan jawaban darimu besok,” ucapnya tanpa ditanya.
Kalimat yang baru saja dilontarkan Akram, tentu saja langsung membuat kedua bola mata Adinda membulat penuh karena merasa tak percaya, jika lelaki yang merupakan seorang pimpinan perusahaan besar seperti Akram Ramida — bisa-bisanya tak bisa tidur hanya karena memikirkan jawaban yang akan diberikan Adinda esok hari sesuai janjinya. Ssebuah jawaban apakah dirinya mau menjadi pengasuh putrinya atau tidak, apa sepenting itukah dirinya hingga membuat seorang Akram tak mampu memejamkan mata?
“Hehehe, wajah Tuan lucu banget deh, maaf saya bukan hendak mengejek tetapi cara Tuan bertanya itu, mirip banget sama anak kecil hehehe,” ucapnya dengan cepat membekap mulut karena tak ingin dianggap dengan sengaja menertawakan seorang Akram.
__ADS_1
Melihat Adinda yang tertawa begitu renyah, tentu saja membuat Akram menjadi salah tingkah, pria itu bahkan menggaruk kepala yang sama sekali tidak gatal, sekedar untuk menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba saja melanda jiwanya.
“Jadi?” Lelaki itu menaikkan kedua alisnya hingga dahi Akram berkerut seketika, menunggu jawaban dari perempuan yang masih berusaha menghentikan tawanya.
“Apa sikap saya barusan benar-benar terlihat seperti anak kecil di matamu?” Akram melangkahkan kakinya ke depan selangkah demi selangkah, hingga tanpa sadar Adinda terpaksa ikutan mundur dan mereka sudah berada di dalam kamar, bahkan Adinda hampir saja terjatuh karena kakinya membentur kaki ranjang jika Akram tak segera meraih pinggang rampingnya.
“Apa jangan-jangan kamu memang hanya menganggap saya seperti anak kecil yang sudah bisa menghasilkan seorang bayi?” tanya pria itu lagi.
Adinda menggeleng cepat. Gadis itu merasa ada yang tak beres dengan tuan pemilik rumah dan ini sungguh tak boleh dibiarkan. Apalagi suasana sangat hening karena semua penghuni rumah sedang terlelap indah. Ditambah lagi mereka sedang berada di dalam kamar hanya berdua. Ingat, sekarang mereka cuma berdua.
__ADS_1
“Tu-tuan, apa yang ingin anda lakukan?” tanya Adinda tergagap.
“Saya hanya ingin —” Lelaki itu menjeda ucapannya tetapi tatapan kedua bola mata itu terlihat sedang berkabut.