Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 94


__ADS_3

“Ap-apa? Jadi kamu bakalan tetap pulang kampung?” tanya Akram yang tanpa sadar refleks masuk di kamar Adinda padahal gadis itu masih terlihat berpenampilan yang sama.


Agghh!


Dinda memekik histeirs sembari berlari ke dalam kamar mandi karena Akram masuk ke dalam kamarnya.


“Akraaamm!!” teiak Nyonya Ramindra yang langsung berdiri mendorong tubuh sang putra agar segera keluar dari kamar Adinda.


Wanita paruh baya itu merasa sangat malu dengan perbuatan putranya yang sudah menjadi duda itu, apalagi Akram seperti seorang anak yang tak punya etika ataupun tidak tahu sopan santun ketika memasuki kamar seorang perempuan. Bahkan duda satu anak itu masuk nyelonong tanpa pemberitahuan dengan mengetuk pintu terlebih dahulu.


Blam!

__ADS_1


Daun pintu ditutup sedikit dengan bantingan oleh Nyonya Ramindra akibat kekesalannya terhadap sang putra yang masih saja bertingkah seperti remaja.


“Kamu ini benar-benar nggak ada akhlak, udah tahu Adinda itu belum pakai baju mah pakai acara ngeliatin segala, apa matamu itu mau bintitan?” wanita paruh baya itu mulai mengarahkan tangannya yang begitu mungil ke arah telinga sang putra hingga Akram terdengar mengadu minta ampun karena kesakitan akibat jeweran maut dari sang mama.


“Ini hukuman untuk duda nakal seperti kamu! Seharusnya kamu bertanggung jawab karena kedua bola matamu itu sudah melihat harta berharga milik seorang wanita! Dengar kamu, Akram?” Sang nyonya dengan sengaja memutar jarinya membuat telinga lelaki beranak satu itu terpilin seketika, sehingga Akram mau tak mau terpaksa mengiyakan ucapan sang mama.


“Iya, iya … ntar aku minta maaf sama janda itu!” sahut Akram ketus yang langsung membuat mamanya kembali mendelik marah.


“Apa kamu bilang?”


Nyonya Ramindra memukulkan sendal yang ia pakai ke pantatt Akram tapi buat lelaki itu lebih baik dipukul sendal dari pada dijewer karena pukulan sang mama sama sekali tidak terasa.

__ADS_1


“Jaga ucapan yang kamu lontarkan karena bisa saja kalimat yang kamu keluarkan dari mulutmu malah akan membuatmu makan omongan sendiri! Dasar, otak pintar tapi akhlakmu kemana, hah? Ngomongin Adinda janda tapi kamu sendiri saja seorang duda lapuk! Sadar kalau status kalian itu sama, bahkan Adinda itu janda paling cantik dan muda yang pernah mama temui, nggak kayak kamu!” Nyonya Ramindra kembali menarik telinga anaknya ke arah kamar Adinda setelah puas mengomeli Akram.


“Aduh-duh Maaa, kok dijewer lagi? Malu, Ma, kalau ada pelayan yang liat, harga diriku habis ditelan mereka semua, lepasin dong, Ma … bisa hilang wibawa Akram kalau begini,” mohon Akram yang berusaha melepaskan jeweran dari jari sang mama, tapi wanita paruh baya itu tak peduli dan tetap menarik kuping anaknya sampai mereka berada kembali di depan kamar Adinda.


Wanita itu sama sekali tak pernah menyangka kalau sang putra terlalu egois dan punya gengsi setinggi gunung Himalaya. Buktinya, wanita itu tau persis kalau Akram jatuh cinta sama Adinda tapi tak pernah mau mengakuinya.


Tok! Tok! Tok!


“Awas kalau kamu tak sampai minta maaf sama Adinda maka Mama akan pergi dari rumah ini bersamanya, camkan itu! Pokoknya mama nggak mau tahu, kamu harus bisa mempertahankan Adinda di rumah ini, jangan sampai Caca jadi sakit lagi hanya karena rindu pada bundanya!” tegas Nyonya Ramindra memberikan ancaman pada sang putra sebelum pergi untuk mengintip dari jarak yang sedikit jauh, tentang apa yang akan dilakukan putranya itu.


Ceklek!

__ADS_1


Adinda membuka pintu tapi kali ini gadis tersebut telah mengenakan hijabnya, serta gamis yang terlihat sangat rapi, membuat Akram menautkan kedua alisnya merasa jika ancaman perempuan itu yang ingin pergi dari rumahnya – bukanlah bualan semata.


“Kau mau ke mana?” Akram bukannya minta maaf tapi malah langsung bertanya karena dia sama sekali tidak menginginkan gadis itu pergi dari kehidupannya. Lalu dirinya harus bagaiman sekarang?


__ADS_2