
Nyonya Ramindra akhirnya memutuskan untuk memanggil dokter keluarga yang datang ke rumah mereka untuk memeriksa keadaan Sang putra, dan parahnya Akram mengusir semua orang yang ada di dalam kamar itu saat seorang pria berkacamata bulat, memeriksa kondisi kesehatannya. Dokter terpaksa menutup pintu setelah Akram menyuruh pria berkacamata tersebut melakukan perintahnya sebelum diperiksa karena dia beralasan sangat tak pantas jika saat diperiksa orang lain melihatnya.
“Saya curiga kalau anda sebenarnya tidak mengalami apa pun, alias tidak sakit sama sekali, apa dugaan saya salah, tuan?” dokter yang bernama Raihan tersebut tersenyum dengan sedikit menaikkan sebelah alis matanya, merasa curiga sejak kakinya melangkah masuk ke dalam kamar lelaki yang terkenal arogan selama ini.
Siapa juga yang akan percaya, jika seorang Akram tiba-tiba saja mendadak sakit, karena sepengetahuan seorang dokter Raihan, lelaki yang terkenal sombong serta dingin pada siapa pun yang berpapasan dengannya di luar rumah itu, tidak mungkin bisa dengan dengan mudah mengalami sakit secara mendadak.
“Tutup mulutmu dan jangan banyak berkicau seperti burung murai batu! Pelipis saya sangat terasa panas dan sakit, jadi cepat kau lepaskan koyo setan yang menjengkelkan ini karena ternyata begitu sangat menyiksa!” titahnya menyuruh sang dokter yang sebenarnya memiliki usia lima tahun di atas Akram, tapi pria itu sama sekali tidak terlihat lebih tua dari Akram sedikit pun.
__ADS_1
“Dasar tukang pemaksa! Kenapa harus menyuruhku melepasnya, bukankah kau punya jari sendiri untuk menarik koyo setan itu? Siapa suruh berpura-pura sakit segala, apalagi sampai make koyo cabe selembar begitu? Jadi rasakan saja akibatnya, karena kau pasti sedang kena karma karena berusaha membohongi mamamu!” balas dokter Raihan tanpa dosa yang duduk dengan santai di bibir ranjang milik Akram, di mana duda satu anak itu ikut duduk dan bersandar di kepala ranjangnya.
“Diamlah Pak Tua! Saya sama sekali tak ada niat untuk membohongi mama, jadi jangan asal bicara … atau akan saya tendang bokongmuu dari kamar ini!” kesal Akram memberikan ancaman lalu benar-benar sedikit menendang pantatt dokter Raihan yang membuat sang dokter terkikik geli, karena kaki sang duda terlambat menyentuh bagian belakang tubuhnya yang montok itu.
Dokter Raihan semakin tertawa lebar karena pria itu tahu jika kamar seorang Akram memiliki sekat kedap suara yang tak bisa didengar oleh orang lain dari luar kamar.
“Hahaha, kau mengataiku sebagai pria tua padahal kamulah yang terlihat sudah tua karena umurmu jauh di bawahku tapi sudah menjadi seorang duda hahaha!” Dokter Raihan malah semakin menggoda Akram karena di matanya pasien yang satu ini begitu sangat menyebalkan sekaligus terasa sangat lucu karena tidak tahu apa guna dari selembar koyo cabe tetapi bisa-bisanya ditempelkan di kedua pelipisnya.
__ADS_1
“Dasar sialann kau, Pak Tua! Apa kamu tak bisa menarik koyonya pelan-pelan saja atau kau benar-benar ingin berhenti dan saya pecat jadi dokter keluarga Ramindra?” kesal Akram yang meringis saat koyo itu dilepas.
“Jangan lebay dan berlebihan, malu sama umur Karena ini salahmu sendiri! Jangan bilang ini semua karena udang yang tersimpan di Balik Bakwan, hem?” dokter itu kembali bertanya walau dia sangat yakin Akram tidak mau buka suara.
“Enyahlah dari kamar saya dan tinggalkan beberapa vitamin sebagai pengganti obat! Awas aja kau kalau sampai buka mulut pada mama dan juga Adinda!” ancamnya lagi, membuat Raihan kembali terbahak dengan tangan memegang tas kerja medis yang berisi peralatan medisnya serta obat-obatan.
Pria itu hanya bisa menggelengkan kepala, merasa seorang Akram begitu sangat kasihan karena ternyata melakukan semua sandiwara ini hanya untuk mengambil Simpati dari seseorang bernama Adinda.
__ADS_1
“Jadi nama gadis yang kamu tatap sejak tadi ketika aku masuk ke kamar ini … bernama Adinda?” dokter itu kembali menaikkan sebelah alis matanya.
“Wajahnya sangat cantik. Apa kamu yakin kalau dia tertarik pada pria sombong sepertimu? Apalagi sampai melakukan kebohongan besar dengan berpura-pura sakit, sekalian saja kamu berpura-pura mati, biar nanti dia histeris menangisi mayatmu hahaha!” dokter itu meletakkan beberapa vitamin di atas nakas lalu pergi meninggalkan Akram yang menatap tajam seolah sudah siap untuk membunuhnya.