
“Lepaskan aku, Mas Reza! Kita sudah bercerai dan kamu sudah menjatuhkan talak padaku. Kamu nggak pantes seperti ini, Mas, sadarlah kalau apa yang Mas lakukan ini salah,” ucap Adinda setelah berhasil menepis kuat genggaman tangan Reza yang sangat erat menyeretnya ke arah toilet pria.
Reza menatap nanar wajah perempuan yang ternyata tak mampu untuk dilupakannya. Cinta memang aneh, datangnya malah setelah ditinggal pergi oleh Adinda. Reza menyesal telah mengambil keputusan yang tergesa karena terprovokasi oleh kedatangan Akram di rumah Ibu Hanum – kala itu. Dirinya merasa sakit hati karena Akram selalu mengatainya sebagai pria sampah dan Reza tak bisa terima dengan penghinaan Akram.
“Maafkan aku, Dinda … aku sangat menyesal telah mengucapkan kata talak padamu waktu itu tapi bukankah kita masih bisa rujuk lagi? Lagian talak itu kujatuhkan dalam kondisi tergesa dan waktunya juga belum sampai sebulan. Aku ingin kita rujuk lagi, Adinda … aku janji akan berubah. aku janji akan menjadi suami sesuai dengan yang kamu inginkan,” ucap Reza penuh harap dengan tatapan memohon.
Adinda menatap dengan datar tanpa ingin menjawab pertanyaan sang mantan suami yang terlihat begitu mengharapkan dirinya untuk kembali lagi menjalankan rumah tangga yang pernah gagal. Sayangnya rasa itu semakin hilang setelah sedikit belajar untuk mencintai seorang tapi malah disakiti, akhirnya hati yang mulai terbuka itu pun tertutup sudah.
“Biarkan aku pergi Mas Reza karena aku saat ini sedang bekerja mengasuh anaknya Tuan Akram! Kamu jangan macam-macam padaku karena Tuan Akram bisa saja menghancurkanmu!” tegas Adinda akhirnya mengeluarkan suara setelah lumayan lama mematung karena bingung harus menjawab apa, sebab dari awal pernikahan itu terjadi memang tak pernah ada cinta di antara mereka.
__ADS_1
Bagaimana mungkin dirinya bersedia kembali dengan Reza setelah apa yang dilakukan oleh pria itu selama berjalannya pernikahan mereka yang tak pernah ada rasa saling menghargai di dalamnya, bahkan Reza begitu brutal mengeluarkan kata-kata pedas dan menyakiti perasaannya.
“Apakah kamu benar-benar tak mau memberiku kesempatan kedua, Adinda? Aku bersumpah takkan pernah menyakiti hatimu lagi dan aku juga janji akan selalu membuatmu bahagia. Apa kamu bisa memberikanku sedikit kesempatan untuk membuktikannya?” Tiba-tiba saja Reza menggenggam kedua tangan Adinda sembari menjatuhkan diri dengan berlutut, berharap penuh agar Gadis itu mau menerimanya kembali.
Hidup lelaki itu terasa begitu hampa setelah kepergian Adinda, bahkan tubuhnya juga sudah terlihat kurus dengan pipi tirus dan lingkaran mata sedikit hitam. Itu semua terjadi karena Reza terlalu sering begadang setiap malam untuk menyesali keputusannya, serta memikirkan bagaimana cara mendapatkan Adinda kembali untuk masuk dalam kehidupannya. Ketika Reza pulang ke rumah kedua orang tuanya bukan dukungan yang ia dapatkan tapi malah menerima cacian serta makian dari pak Suryo dan juga istrinya, akibat telah menceraikan Adinda tanpa diskusi terlebih dahulu.
“Adinda tidak akan pernah kembali lagi pada laki-laki sampah seperti anda!” Akram ternyata mendengar semua pernyataan Reza barusan, bahkan sang duda berusaha membujuk Caca agar tidak mengeluarkan suara dengan cara meletakkan telunjuk di bibirnya. Sebelumnya akram merasa bingung karena Adinda menghilang entah kemana, tapi salah seorang ibu mengatakan kalau istrinya sedang pergi ke toilet. Akram malah ingin sekali tersenyum bahagia kala ada orang yang mengira dirinya sebagai suami dari Adinda karena orang lain melihat mereka bertiga sangat layak bagai keluarga kecil bahagia,
“Bundaaa, tadi Bunda kemana? Caca cama papa nyaliin Bunda campai tanya-tanya olang.” Celotehan Caca sungguh membuat hati Adinda merasa terharu dan senang, seperti ada hiburan tersendiri kala mendengarnya.
__ADS_1
“Bunda tadi kebelet, Sayang makanya pergi ke toilet,” jawab Adinda memberitahukan.
Caca melirik lelaki tak dikenal yang seumuran dengan papanya, hatinya penuh tanya dengan menatap wajah Adinda.
“Telus olang itu ciapa, Bunda? Apa dia tukang bubul yang ada dekat simpang lumah kita?” tanya Caca dengan polosnya yang membuat Adinda hampir saja menyemburkan tawa.
Bagaimana mungkin bocah kecil itu menganggap mantan suaminya sebagai tukang bubur? Apa wajah Reza sekarang cocoknya untuk jualan bubur?
“Bukan, Sayang … dia itu —” Belum selesai Adinda menjelaskan semua tapi Akram langsung memotong kalimatnya.
__ADS_1
“Om ini bukan tukang bubur, Sayang … tapi dia ini tukang sampah!”
Jangan lupa berikan like dan komentarnya ya, terimakasih