
‘Aku akan masuk saja karena aku yakin kalau Adinda tidak mengunci pintunya!’ tekad Akram di dalam hati dengan tangan yang sudah memegang knop pintu dan mulai membukanya perlahan. Namun tubuh sang duda langsung mematung kaku ketika melihat pemandangan yang belum pernah dilihatnya seumur hidup itu.
Bagaimana seluruh tubuh Akram tidak membeku ketika melihat seorang perempuan yang selama ini selalu menutup seluruh auratnya, tiba-tiba saja terlihat hanya mengenakan handuk yang melilit sebagian tubuhnya, apalagi rambut hitam sang gadis terurai meneteskan bulir-bulir kristal hingga beberapa terlihat jatuh menetes ke lantai kamar dan Akram hanya bisa membuka mulut lebar-lebar karena tidak pernah menyangka jika Adinda bagai bidadari yang turun dari surga.
‘Giila … ternyata Adinda benar-benar sangat cantik!’ Akram hanya bisa menelan ludah lalu mengedipkan matanya berulang kali untuk memastikan, jika yang ia lihat memang bukanlah hantu jadi-jadian yang turun dari langit atau mungkin dari alam lain, tapi ternyata benar-benar seorang pengasuh putrinya yang selama ini tak pernah memperlihatkan bentuk tubuhnya.
Akram kembali menutup pintu dengan perlahan karena takut diketahui oleh sang perempuan penghuni kamar. Namun, sial bagi Akram karena barusan sang mama baru saja melihat dirinya yang menutup pintu kamar janda itu secara perlahan.
“Akram! Apa kau sudah membujuk Adinda untuk tetap tinggal di rumah ini dan minta maaf padanya?” tanya Nyonya Ramindra dengan kening berkerut saat melihat Akram menggelengkan kepala.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu tentu saja bingung karena sang putra terlihat jelas baru keluar dari kamar Adinda, lalu apa yang dilakukan nya sampai tak jadi bicara? Otak nyonya Ramindra bekerja dengan cepat dalam memikirkan apa saja kemungkinan yang terjadi barusan.
‘Apa jangan-jangan Akram malah berbuat kasar sama Adinda?’ batin Nyonya Ramindra kembali merasa penasaran hingga akhirnya dengan sedikit mendorong tubuh sang putra agar menyingkir untuk dirinya masuk ke kamar sang pengasuh cucunya.
“Assalamualaikum Adinda, apa mama boleh masuk?” tanya nyonya Ramindra setelah beberapa kali mengetuk pintu kamar sang janda muda dan langsung membukanya sedikit tanpa menunggu jawaban dari sang pengasuh.
Adinda yang berada di dalam kamar tentu saja langsung mengenali suara nyonya Ramindra dan tanpa sungkan mendekat pada daun pintu dengan hanya melongokkan kepala sebab dirinya takut jika nanti ada orang lain yang mengikuti wanita paruh baya itu.
“Loh, ini kamu kok hanya menggunakan han —” ucapan nyonya Ramindra terputus begitu saja kala melihat penampilan Adinda yang ternyata hanya mengenakan handuk penutup sebagian tubuhnya saja.
__ADS_1
Wanita yang telah melahirkan Akram itu, tentu saja langsung teringat dengan sikap sang putra yang ia pergoki saat keluar dari kamar Adinda secara perlahan dengan sedikit mengendap-endap, seperti seorang maling. Bahkan wanita paruh baya itu masih bisa mengingat Bagaimana warna wajah sang Putra yang terlihat bersungu merah seperti sedang menahan malu serta salah tingkah. Pikiran buruk seorang ibu yang telah melahirkan anaknya tentu saja bisa langsung dengan mudah menebak apa yang telah dilihat oleh Putranya.
‘Oh jadi ini toh yang dilihat sama Akram! Dasar anak nakal, bukannya langsung minta maaf tapi malah seperti seorang pencuri yang takut ketahuan dengan kabur sebelum mempertanggungjawabkan ucapannya sendiri!’ batin nyonya Ramindra yang meruntuki tingkah putranya, padahal sudah menjadi seorang ayah tapi masih saja bersifat seperti kekanak-kanakan.
“Iya, Ma, kebetulan Dinda baru saja selesai mandi setelah tadi membereskan pakaian untuk dibawa pulang balik ke kampung!” jawab adinda apa adanya sembari menyerahkan jari telunjuknya pada koper yang terlihat sudah penuh berisi pakaian dan juga peralatan yang ia miliki.
“Ap-apa? Jadi kamu bakalan tetap pulang kampung?” tanya Akram yang tanpa sadar refleks masuk di kamar Adinda padahal gadis itu masih terlihat berpenampilan yang sama.
Agghh!
__ADS_1
Dinda memekik histeirs sembari berlari ke dalam kamar mandi karena Akram masuk ke dalam kamarnya