
Pagi-pagi sekali bahkan sebelum Adinda melaksanakan shalat subuh, perempuan itu mendatangi kamar Nyonya Ramindra untuk berpamitan, gadis itu sengaja pergi sebelum adzan berkumandang dengan niat melakukan subuh di perjalanan saja agar dirinya tidak sampai harus bertemu dengan Tuan Akram ataupun Caca.
"Kalau begitu ayo kita ke depan, karena memang mama sudah menyuruh seseorang yang bisa dipercaya untuk mengantarmu sampai ke rumah yang satunya! Ingat satu hal, jagalah dirimu baik-baik dan nanti ketika sudah sampai di sana, jangan lupa langsung hubungi Mama, ya!" Nyonya Ramindra memeluk gadis sudah memegang satu koper besar dan satu ransel yang kemarin dibawakan sama Akram dari rumahnya dan Reza.
"Sedangkan untuk masalah pengajuan gugatan cerai mu, Mama akan langsung mengutus salah seorang pengacara datang ke tempatmu sekitar dua hari lagi! Pokoknya kamu tinggal beres saja!" lanjut perempuan paruh baya itu, seolah-olah Adinda sudah merupakan anak kandungnya sendiri.
"Mama juga jaga kesehatan ya, jangan telat makan tapi kalau misalnya nanti Caca kangen, Mama video call aja, biar nanti kami bisa bicara asalkan tuan Akram sudah berangkat kerja, Dinda benar-benar tidak ingin membuat Putra Mama itu menjadi salah paham, apalagi status Adinda saat ini masih istri orang!" pesan Dinda sembari mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan perempuan itu, sebelum dirinya menaiki mobil sesuai dengan perintah Nyonya Ramindra.
“Adinda pamit ya, Ma, assalamu’alaikum,” lanjutnya.
__ADS_1
“Wa’alaikumussalam warahmatullah. Kamu hati-hati di sana dan jaga diri baik-baik!” pesan wanita paruh baya itu lagi. Nyonya Ramindra mengalihkan pandang pada sang lelaki yang dimintainya tolong.
"Ingat ya Fadil, antar Adinda ke rumah saya yang di Jakarta Selatan. Jangan lupa nanti berhenti dulu di masjid ketika adzan telah selesai karena Adinda mau shalat di masjid, katanya!" Perintah Nyonya Ramindra pada seorang lelaki sekitar umur 40-an bernama Fadil.
"Tenang aja, nyonya, insya Allah anak perempuannya bakal saya antarkan dengan selamat sampai tujuan, kalau begitu saya pamit dulu, assalamualaikum." Lelaki yang bernama Fadil itu pun memasukkan koper milik Adinda ke bagasi mobil bagian belakang, serta memasukkan tas ransel ke jok bagian belakang yang diikuti Adinda juga masuk ke dalamnya setelah melambaikan tangan pada nyonya Ramindra.
Wanita paruh baya itu pun membalas lambaian tangan Adinda saat mobil mulai bergerak. Wanita itu juga berpesan pada satpam yang menjaga rumahnya agar kepergian Adinda jangan sampai diberitahukan pada Akram bahwa dirinya mengetahui kepergian perempuan yang ingin dijadikan pengasuh oleh anaknya itu.
Wanita paruh baya itu kaget saat tiba-tiba saja sang cucu masuk sambil menangis ke dalam kamarnya karena tidak bisa bertemu dengan wanita yang beberapa hari ini selalu dipanggilnya Bunda dan suara lengkingan tangisnya tentu saja membuat seisi rumah menjadi gaduh, hingga Akram pun terbangun dibuatnya.
__ADS_1
"Ada apa Sayang, kenapa putri cantik papa ini menangis pagi-pagi sekali?" Akram meraih tubuh mungil putrinya lalu menggendong Caca yang masih sesenggukan menangis meminta Bunda.
Pria tampan itu merasa bingung melihat putrinya yang menangis sampai sesenggukan sembari memanggil nama Bunda.
“Coba kasih tahu Papa dulu dan berhenti nangisnya sebentar. Memangnya kenapa sayang papa kok nangis begini? Cup cup cup!" bujuk Akram sembari menghapus air mata putrinya yang menetes tak berhenti bagai sungai kecil mengaliri pipi mungilnya
"Bundanya nggak ada, Papa … bunda pelgi ninggalin Caca, ndak tahu ke mana?"
Hoa! Hoaa!
__ADS_1
“Bunda pergi …?”