
“Dari mana pun juga saya mengetahuinya itu kan bukan urusanmu, sangat mudah untukmu mencari jawabannya karena rumahmu itu sangat kecil, bahkan orang ngorok di dalam kamar aja bisa terdengar keluar. Memangnya kamu lupa kalau saya dan mantan suami sampahmu itu tidur di luar alias di ruang tamu yang banyak nyamuknya?” Akram menaikkan sebelah alisnya, melihat perempuan itu sedikit kikuk dengan menggaruk-garuk salah satu pelipisnya.
Sifat pongah dan arogan yang dimilikinya, sungguh kembali keluar dari sarangnya sampai lelaki itu lupa jika Adinda bukanlah wanita yang mudah terintimidasi. Bahkan lelaki itu tanpa sadar sudah mulai terseret lumayan dalam pada kehidupan Adinda. Terseret akan perasaan yang sudah lama tak pernah singgah di dalam jiwanya, mengisi ruang kosong yang sudah lama dingin tanpa ratu dan kini ratu itu seolah akan memiliki jarak yang sangat jauh dengannya jika sampai dirinya tak mampu menaklukan hatinya.
“Alhamdulillah, walaupun rumah itu kecil tapi kami nggak ngontrak, apalagi numpang sama orang dan Itu sudah merupakan salah satu nikmat yang tak terkira dibandingkan orang-orang di luar sana yang harus mengeluarkan biaya jutaan setiap tahun hanya untuk membayar kontrakan rumah. Jadi Tuan jangan sok mengatakan rumah saya sangat kecil karena walaupun begitu kecil tetap saja Anda sampai menyusul saya datang ke sana! Sepertinya Anda juga nggak bakalan pernah lupa bagaimana Anda memohon untuk membawa saya balik ke Jakarta,” ucap Adinda telak membuat Akram menjadi bungkam.
__ADS_1
Adinda tidak mengundangnya datang ke rumah Bunda Hannum dan juga tak pernah menyuruhnya untuk mampir, ataupun sekedar singgah melihat keadaan tempat tinggalnya, tapi dia sendirilah yang uring-uringan tak jelas setelah kepergian perempuan itu — ketika mengetahui sang calon pengasuh putrinya pergi tanpa pamit. Namun, coba lihatlah sekarang lelaki itu dengan sangat arogan menghina tempat tinggalnya sejak kecil, walaupun rumah itu sudah sangat jauh berubah lebih besar daripada sebelum dirinya menikah dengan Reza Madani.
“Tuan bisa mengatakan rumah saya itu kecil karena rumah yang anda miliki lebih mirip seperti istana. Itu semua terjadi karena anda merupakan orang yang kaya raya. Sementara seorang Adinda Kinanti itu hanyalah anak dari pelayan tapi kami bersyukur masih bisa hidup dan makan serta mencicipi bangku pendidikan. Jadi kalau anda merasa malu … sebaiknya jangan pernah bicara lagi dengan saya. Apalagi status kita jauh berbeda! Cukuplah saya ini hanya seorang pengasuh dari Caca!” lanjut Adinda memberikan kalimat yang terasa begitu tajam menusuk jiwanya.
Akram terdiam merasa cinta yang kalimat yang ia ucapkan malah menang para wajahnya sendiri. Untuk apa dia menghina tempat tinggal wanita itu kalau akhirnya dirinyalah yang akan repot karena Adinda akan membuat tembok yang sangat tinggi sebagai batas antara dirinya dan Adinda. Mulutmu adalah harimau maka apa yang telah diucapkan lidahmu bisa saja akan memakan dirimu sendiri, ternyata sekarang pepatah itu berlaku untuk dirinya.
__ADS_1
Brak!
Pintu kamar Adinda sedikit dibanting membuat perempuan itu terjengit kaget, “Tuan Akram aneh banget, ngomongnya ngelantur nggak jelas, jawabannya juga malah nggak nyambung sama sekali! Ngapain juga aku harus jalan kaki dari sini ke Sukabumi? Lagian mana ada jarak daerah disamakan dengan status? Astagfirullah … itu manusia kanebo sebenarnya bisa nangkap omongan orang lain apa nggak sih?” Adinda sibuk bermonolong sendiri, mengingat cara bicara Akram seperti orang kesal pada diri sendiri, apalagi pembahasannya sama sekali tak mampu untuk dimengerti.
Sungguh Adinda tidak paham sama sekali dengan sikap dan sifat Akram selama ini yang sebenarnya diam-diam sudah mencuri hatinya. Sesaat mata Adinda melirik ke samping melihat seorang bocah Yang Sudah terlelap, ada rasa damai yang menelusup ke dalam jiwanya saat menatap wajah gadis kecil dan polos tanpa dosa yang sejak lahir tak pernah melihat sosok ibunya.
__ADS_1
“Sepertinya Bunda benar-benar jatuh cinta sama kamu, Caca. Akan ku buat kamu merasakan arti dari kata seorang bunda.”