
“Anak tante itu hanya bersandiwara saja karena ingin mengambil hati Adinda!”
Pyarr!
Nampan yang ada di tangan Adinda jatuh ke lantai ketika mendengar pernyataan dokter Raihan terhadap nyonya Ramindra. Keduanya menoleh seketika saat mendengar benda jatuh dari tangan sang pengasuh Caca.
“Dinda!”
“Adinda!”
Mereka berdua serentak memanggil nama pengasuh putri Akram tersebut secara bersamaan, “Maaf, saya tadi belum jadi membuat buburnya karena ingin menjamu Pak Dokter terlebih dahulu tapi saya minta maaf gara-gara tangan saya licin, nampannya jadi jatuh,” alibi Adinda untuk mengelak dari pertanyaan kedua orang tersebut.
__ADS_1
“Kalau begitu saya permisi mengambil sapu dan kain pel dulu!” Adinda dengan cepat berlalu tanpa disadari oleh nyonya Ramindra dan sang dokter yang masih terpaku karena tak menyangka kalau Adinda kembali begitu cepat dari dapur.
“Astaga, Tante … kayaknya Adinda mencuri dengar pembicaraan kita,” ucap Raihan sedikit panik karena sudah bisa dipastikan kalau Akram akan mengamuk ke apartemennya untuk melampiaskan rasa kesalnya.
“Apa yang harus saya lakukan, Tante?” tanya Raihan yang merasa heran dengan tingkah nyonya Ramindra tak terlihat banyak pikiran sama sekali.
“Kamu tenang saja, Raihan … Adinda itu gadis baik. Tante sangat yakin kalau Adinda barusan hanya mencari alasan Semata agar kita tidak menanyainya, padahal sebenarnya Gadis itu pasti sedang berusaha menghindar karena tante sangat yakin kalau saat ini dia pasti sedang merasa kesal sama Akram. Biar tante yang mengurus kelanjutan sandiwara dari duda gatell yang nakal itu!” ungkap Nyonya ramindra dengan sedikit mengetatkan rahangnya, merasa geram dengan tingkah Sang putra yang sudah tua tapi masih saja bersikap seperti anak kecil.
Entah kenapa juga perasaan dokter Raihan seolah-olah ada yang tertinggal di rumah Akram ini hingga lelaki itu dengan cepat membalikkan tubuhnya. Ternyata saat dokter itu membalikkan tubuh kekar atletis nan tinggi … Ternyata Adinda pulang sedang menatap kepergian dokter Raihan dengan satu yang masih dipegangnya.
“Sepertinya kamu akan merindukan kedatangan saya sebagai dokter di rumah ini!” goda dokter Raihan tapi sama sekali tidak ditanggapi sama Adinda sedikit pun, bahkan janda yang masih gadis tersebut menatap Raihan tanpa ekspresi.
__ADS_1
Dokter itu malah merasa semakin penasaran dengan cara pandang Adinda yang sama sekali tidak memperlihatkan ketertarikan terhadap dirinya, padahal jelas-jelas wajahnya begitu sangat tampan apalagi mengenakan pakaian putih-putih karena memang saat ini Raihan sedang mengenakan pakaian kerjanya sebagai seorang dokter di salah satu rumah sakit swasta terkenal di kotanya.
“Raihan pulanglah segera karena tante bakal menjewer kuping adik kelasmu itu!” Nyonya Ramendra mengalihkan pandang menoleh pada Adinda lalu tersenyum begitu sangat lembut karena wanita paruh baya itu mengerti kalau pengasuh cucunya pasti sa ini sedang merasa sakit hati karena acara jalan-jalannya bersama Romeo dirusak oleh putranya sendiri.
“Dinda, ayo ikut mama sebentar!” ajaknya tanpa ingin mendengar jawaban dari sang gadis lalu menarik pergelangan tangan Adinda menuju kembali ke kamar Akram.
Wanita paruh baya itu langsung masuk ke dalam kamar Akram tanpa menutup pintu terlebih dahulu, terlihat Akram sedang asyik berada di depan layar laptopnya sementara koyo cabe yang tadi sempat menghiasi dua pelipisnya telah pergi entah ke mana.
“Dasar anak tak tahu diri, bikin malu Mama saja sama Adinda! Ayo buruan minta maaf sama Adinda kalau kamu hanya pura-pura sakit saja!” Raung nyonya Ramindra Jema yang sudah melekat di daun telinga Akram.
“Aww, sakit ma!”
__ADS_1