
Sudah tiga hari Adinda entah berada dimana. Apakah gadis itu mengalami luka parah sejak mengalami kecelakaan di depan perusahaannya, ataukah perempuan itu sudah pulang dari rumah sakit dan pergi begitu saja meninggalkannya? Entahlah, Reza benar-benar tak bisa mencari keberadaan istrinya bahkan sudah melakukan hal konyol dengan mendatangi setiap rumah sakit terdekat dari perusahaan miliknya untuk menanyakan nama Adinda sebagai korban kecelakaan.
Namun sayangnya, setiap pegawai resepsionis rumah sakit yang ia tanyakan sama sekali tak ada satu pun yang menjawab ada korban kecelakaan bernama Adinda dan itu sungguh membuat Reza ingin mati saja kenapa bisa dirinya begitu susah untuk menemui istrinya lagi, apakah sekarang ini lelaki itu sedang menerima karma atas sikapnya yang setelah menikahi wanita itu tapi selalu mengabaikan perasaan nya? Reza semakin merasa bersalah, hatinya sangat gundah.
‘Apakah perkataan Adinda beberapa hari yang lalu benar-benar akan ia lakukan?’ Reza kembali teringat akan perkataan Adinda sebelum mereka berdua menandatangani surat perjanjian pernikahan. Reza masih ingat kalau Adinda tak akan pernah meninggalkan dirinya sedikit pun asalkan tak ada wanita lain di rumah tangga mereka. Adinda sudah menegaskan kalau dirinya akan pergi begitu saja, kalau sampai Reza berselingkuh di belakangnya tapi sayangnya … Reza malah seakan tak percaya hingga penyesalan itu timbul sekarang.
__ADS_1
Pria itu menganggap Adinda membutuhkan uangnya dan akan selalu bertahan berada di sisinya demi uang bulanan yang fantastis darinya. Lima puluh juta bukan uang yang kecil untuk seorang pembantu seperti Adinda, bukan?
Keesokan paginya Reza merasakan tubuhnya menggigil, entah karena jarang makan ataukah karena terlalu kelelahan sebab lelaki itu tak pernah berhenti sedikit pun mencari keberadaan istrinya. Bahkan bentuk wajah lelaki itu sudah tak terurus bagai anak ayam yang kehilangan induknya.
Bukan hanya sekedar tampilan Reza yang berbeda tetapi pelayan yang biasa datang ke rumah itu pun diberhentikan dan disuruhnya kembali pulang ke rumah orang tua. Rumah yang ditempati Reza saat ini sudah tidak seperti ada penghuninya saking berantakan isi di dalamnya. Bantal kursi yang berserak pecahan kaca yang juga ikut memperburuk keindahan rumahnya dan jangan lupakan berbotol-botol minuman keras terletak di lantai, mencerminkan lelaki itu menghabiskan waktunya yang berharga dengan sia-sia belaka.
__ADS_1
“Kamu di mana Adinda? Pulanglah maka aku akan berubah dan tak akan pernah bermain perempuan selain dirimu lagi!” lirih Reza berjalan gontai masuk ke rumah menghempaskan tubuh di atas kursi sofa yang terlihat mulai berdebu.
“Astaga, kenapa gue nggak kepikiran untuk melacak nomor ponsel Reno dan mengawasi pria itu. Bukankah Reno begitu menyanjung kehadiran Adinda dan selalu menyalahkan gue atas kepergian Adinda? Sangat mencurigakan karena sejak kemarin Reno tak lagi mempertanyakan tentang Adinda, dia pasti sudah tahu tentang keberadaan bini gue itu!” monolog Reza mengingat sifat sang asisten yang mulai berubah sejak kejadian kecelakaan yang menimpa Adinda.
Ditambah lagi pengunduran dirinya sama sekali tidak di-acc sama Reza karena lelaki itu tak mungkin bisa menjalankan perusahaan tanpa Reno disisinya, walaupun mereka bertengkar tetapi urusan pekerjaan akan tetap dijalankan dengan profesional meski komunikasi di antara mereka sudah tak hangat lagi seperti dulu.
__ADS_1
“Malam ini gue nggak boleh menyentuh minuman keras ini agar besok bisa mengawasi Reno!” tekadnya meyakinkan diri sendiri, berjalan masuk ke dalam kamar dan menghidu bekas pakaian terakhir milik Adinda yang diambilnya dari keranjang kain kotor, sebagai nyanyian pengantar tidurnya. Bukankah akal sehat seorang Reza mulai dipertanyakan? Ataukah lelaki itu mulai merasa jatuh cinta pada istri anak pembantunya itu?