
Dalam perjalanan sewaktu mereka pulang ke rumah, mobil itu hanya memperdengarkan suara celotehan Caca yang tidak mau berhenti berbicara. Bocah itu menceritakan apa saja yang dia lakukan di dalam supermarket tadi, terutama bocah kecil itu begitu semangat menceritakan sosok perempuan yang bernama Reviana, bahkan Caca menyebutnya sebagai tante ondel-ondel. Memang terkadang seorang anak kecil sama sekali tidak bisa membohongi apa yang dia lihat, karena hatinya masih terlalu polos dan selalu berkata jujur sesuai dengan sinkronisasi otaknya
"Tadi kita nggak jadi makan, apa Bunda mau makan sebelum kita pulang?" tanya Akram begitu santai tetapi gadis yang ditanyakannya langsung melotot padannya sehingga membuat duda satu anak itu hanya bisa tersenyum kecut karena melakukan kesalahan disengaja ikut-ikutan memanggil Adinda dengan sebutan Bunda. Memangnya sejak kapan Adinda menjadi istrinya?
"Bunda kok diem aja ditanya cama Papa tuh? Caca juga lapel, tapi Caca mau makan coto. Bunda, mau ndak nemenin Caca makan coto? Caca menarik lengan baju Adinda agar perempuan itu mengalihkan atensinya yang harus melihat pada si bocah kecil, jika Caca sedang berbicara maka bocah kecil itu seolah ingin merebut seluruh perhatian orang padanya.
Caca memang turunan papanya sendiri yang sama sekali susah untuk didekati. Termasuk kadang-kadang sifat Arogansi dari sang papa sangat terlihat di dalam tingkah laku Caca Sasmita Ramindra.
“Kalau Caca laper tentu saja Bunda bakalan ikut dengan Caca, sepertinya makan soto memang segar sebelum kita pulang dan nanti kita bungkusin untuk Oma juga," sahut Adinda tak lupa memberikan senyum yang sangat sempurna terhadap bocah kecil yang telah mampu mencuri hatinya hingga membuat Gadis itu jatuh cinta.
__ADS_1
Sayangnya lelaki yang berada di belakang kemudi merasa sangat iri terhadap perlakuan Adinda pada putrinya, ‘Kenapa dia hanya mau berlembut-lembut pada anakku sementara ketika bicara denganku Adinda selalu saja menjaga image-nya, atau apa dia diam-diam sebenarnya sudah jatuh cinta padaku tapi tak berani mengungkapkannya?’ Batin Akram merasa penasaran karena Adinda sama sekali tidak memperlihatkan respon seseorang yang menyukainya, padahal di luaran sana banyak sekali wanita yang selalu menggodanya bahkan ada yang secara terang-terangan bersedia menghabiskan malam panjang di atas ranjang panas bersamanya.
Seperti itulah nasib menjadi seorang duda taipan kaya raya yang super ganteng dan juga terlihat sangat seksi, banyak sekali resiko yang harus ia dapatkan ketika ke luar dari rumah tanpa ada seorang pendamping.
"Apa itu berarti sekarang kita akan mencari penjual soto?" Akram menoleh sesaat pada Adinda, meminta kepastian terhadap Gadis itu apakah mereka memang akan berhenti di restoran yang menyediakan soto untuk memenuhi keinginan Putri kecilnya yang terkadang seperti wanita yang sedang hamil muda saja. Ngidam!
"Saya ngikut aja kok, Tuan. Bagaimana pun juga, saya akan selalu melakukan apa saja asalkan yang diinginkan sama Caca masih hal-hal yang bersifat wajar, apalagi ini masalah makanan. Selagi Caca mau makan apa saja yang penting sehat maka saya akan selalu mendukungnya.” Adinda menjawab seperti itu tanpa menoleh pada lelaki yang duduk di balik kemudi setir
"Waaah, Papa kelen. Jadi Papa ndak cuka cama Caca, kalau gitu Papa ndak ucah pulang-pulang ke lumah oma, bial Bunda aja yang jagain Caca!" Protes bocah kecil itu memberikan tatapan menghunus seolah-olah ingin membunuh sang papa karena menganggap dirinya menjengkelkan.
__ADS_1
"Lagian Tuan ini ada-ada aja ngomongnya. Mana ada orang tua yang menganggap sifat anaknya itu menjengkelkan karena sebenarnya sifat itu didapatkan oleh si anak dari lingkungan yang ia temui setiap hari. Misalnya nih, Tuan Akram suka membentak-bentak di dalam rumah maka bisa dipastikan suatu saat Caca juga akan membentak anda! Atau … Anda yang suka mabuk-mabukan bisa jadi suatu saat nanti akan dicontoh sama Caca karena merasa penasaran dengan yang namanya dugem! Kira-kira gimana perasaan Tuan jika saat remaja nanti Caca pulang ke rumah dalam kondisi mabuk?" Adinda sengaja menyampaikan persis di depan putri tuannya agar sang duda merasa malu, itu pun kalau masih punya malu.
“Caca masih tergolong anak kecil dalam masa pertumbuhan emasnya, di mana apapun yang sedang dilihat dan didengarnya akan direkam jelas dan disimpan dalam otaknya. Sayang seribu sayang, sepertinya pola asuh putri Anda yang tidak mendapatkan kasih sayang dari ibu kandungnya ini, hanya dipasrahkan pada pengasuh yang ada. Apa dugaan saya salah? Kasihan sekali Caca punya papa tapi tak peduli padanya!” lanjut Adinda dengan gelengan kepala.
“Apa ini artinya kamu nyalahin saya dalam mendidik Caca? Saya sudah menyerahkan segala waktu dan tenaga untuk perusahaan keluarga. Sementara mama dan papa yang punya banyak waktu di rumah dalam mendidik putri saya, jadi wajar jika pola asuh yang didapatkan Caca sesuai dengan apa yang ajarkan mama saya. Intinya saya tak ada andil jika Caca jadi seperti ini!” sergah Akram merasa Adinda sedang menyalahkannya sebagai seorang ayah.
Andai saja yang bicara ini bukan seorang Adinda mungkin kata-kata kasar sudah meluncur dari bibirnya, karena merasa kesal dengan ucapan Adinda yang terasa seolah-olah menjadikannya seperti seorang ayah yang gagal mendidik anaknya.
‘Dasar janda sok tahu, dia belum paham bagaimana sibuknya aku selama ini mencari uang untuk keluarga tapi bisa-bisa yang menyalahkanku atas kerancangan cacah berbicara!’ gumamnya jengkel di dalam hati.
__ADS_1
“Oh ya? Kalau Anda tak ada andil maka Caca tak mungkin hadir di dunia ini!”