Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 57. Rencana Akram


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Akram baru saja memasuki pekarangan rumah mewah berlantai dua. Pria itu dengan cepat turun dari mobil, sedikit berlari setengah lingkaran hanya untuk membantu Adinda membukakan pintu mobil.


Adinda turun dari mobil dengan perasaan yang terasa aneh karena sikap Akram yang sangat berbeda dengan apa yang dikatakan lelaki itu ketika berada di dalam mobil beberapa saat lalu.


"Terima kasih, Tuan," ucap Adinda saat tubuhnya sudah kembali menginjak pekarangan rumah nyonya Ramindra.


Sekarang dirinya tidak boleh salah lagi dalam menyapa sang empunya rumah, sebelum kembali mendapat teguran dari wanita paruh baya itu yang sama sekali tidak menyukai dirinya memanggil dengan sebutan Nyonya.


Di teras tiba-tiba saja sudah terlihat si kecil Caca dengan raut wajah yang sangat ceria berlari ke arah kedatangan Adinda, hal itu tentu saja membuat Akram benar-benar merasa bahagia karena ternyata usaha yang ia lakukan tidak sia-sia hingga sampai menyusul Adinda ke daerah Sukabumi. Padahal selama ini pria itu paling benci yang namanya mengejar wanita, jangankan untuk mengejar wanita didatangi seorang perempuan ketika dirinya sedang minum alkohol di salah satu klub malam saja, lelaki itu akan langsung memarahi sang Manager Club.


Pria itu memang tak suka perempuan agresif, apalagi perempuan yang suka mengejar lelaki dengan tanpa tahu malu, padahal seharusnya seorang wanita itu harus elegan dan mau diburu oleh lelaki, bukannya malah suka memburu karena semua itu akan terlihat seperti wanita murahan.


"Bunda, Caca udah cembuh, jadi mulai cekalang Bunda ndak boyeh pigi pigi lagi dali lumah, coalnya Caca ndak punya teman,” ucap gadis mungil itu dengan suara cadelnya setelah menghambur begitu saja ke dalam pelukan Adinda, seolah-olah sudah terlalu rindu terhadap perempuan yang sekarang sigap menggendongnya.


"Oke deh, anak Bunda yang paling cantik! Insya allah, bunda mulai sekarang nggak bakalan pernah lagi ninggalin Caca, karena bunda akan bekerja di sini sebagai pengasuh Caca,” beritahu Adinda yang malah membuat si gadis kecil menengadahkan kepala, melihat wajah perempuan yang dianggap sebagai Bundanya itu dengan tatapan heran minta penjelasan.


"Pengacuh? Pengacuh itu apa, Bunda?" Dahi gadis mungil itu terlihat berlipat dan itu sungguh sangat menggemaskan di mata Adinda hingga Gadis itu tak sungkan lagi mendaratkan sebuah kecupan di kepala anaknya Akram.


Cup!


"Maksudnya begini, Sayang. Mulai sekarang bunda yang akan selalu berada bersama Caca di rumah ini dan bunda nggak bakalan pernah pergi lagi, apakah Caca senang mendengarnya?" tanya Adinda yang langsung diangguki si gadis kecil.

__ADS_1


“Benalan?” tanya gadis itu dengan binar cerah di kedua bola matanya.


“In syaa Allah, beneran,” ulang Adinda meyakinkan si kecil.


Bagaimana mungkin Caca tidak merasa senang dengan kehadiran Adinda setiap saat di dekatnya, karena ditinggal sebentar saja Gadis itu sampai sakit parah hingga terpaksa dibawa ke rumah sakit. Setelah Caca mendengar perkataan Adinda yang akan selalu tinggal bersamanya membuat gadis kecil itu tersenyum ceria.


"Holeee Caca ndak akan cendilian lagi, Caca udah punya Bunda yang baik hati!" ungkap sang gadis kecil dengan mata berbinar cerah karena merasa sangat bahagia dengan apa yang dikatakan sama Adinda.


"Caca nggak kangen nih sama papa, kok dari tadi yang dipeluk cuman Bunda saja?" tanya Akram dengan wajah yang dibuat-buat seperti orang sedang kesal.


Raut wajah penuh kesedihan yang diperlihatkan sama Akram, sontak membuat Caca langsung memberontak ingin turun dari gendongan Adinda dan menarik ujung baju yang dikenakan Akram.


"Caca cayang sama Papa dan juga cayang cama Bunda … gendong!" pinta si gadis kecil itu dengan mengembangkan kedua tangannya, meminta sang papa untuk segera mengangkat tubuhnya ke udara agar bisa berada dalam gendongan hangat sang papa tercinta.


"Assalamualaikum mama,” sapa Adinda ketika netranya melihat sang Nyonya rumah sedang merentangkan tangan padanya sehingga Adinda pun langsung memeluk wanita paruh baya itu karena bagaimanapun juga jasa Nyonya Ramindra lumayan besar terhadapnya, apalagi dia bisa merasakan ketulusan hati seorang ibu dalam setiap ucapan dan juga perbuatannya.


"Wa'alaikumussalam warahmatullah, gimana tadi perjalanan dari Sukabumi? Semuanya baik-baik saja kan? Kamu nggak mual atau mabuk perjalanan?" cerca nyonya Ramindra melihat wajah Adinda yang sedikit pucat.


"Alhamdulillah Dinda baik-baik aja kok, Ma," sahut Adinda tak ingin membuat perempuan baik hati itu berpikir yang tidak tidak terhadap kesehatannya.


"Kalau kamu baik-baik saja, kenapa wajahmu terlihat pucat, nak?" Nyonya Ramindra meletakkan punggung tangannya ke dahi Adinda tanpa rasa sungkan seolah wanita paruh baya itu memang seperti ibu kandungnya Adinda sendiri, dan itu sungguh membuat sudut hati seorang Akram ikut merasakan hal yang sama, cemas.

__ADS_1


“Dahimu panas! Ayo buruan masuk dan istirahat di kamarmu,” ajak sang nyonya menggandeng gadis itu masuk.


“Cepat telpon dokter, Akram!” titah nya setelah menoleh sesaat ke belakang pada putranya.


“Memang kamu apain sih, Dindanya kok bisa sampai sakit segala?” cerca sang mama dengan raut khawatir.


‘Ini pasti semalam Adinda gak tidur dan masuk angin,’ batin Akram yang semalam sempat mendengar isak tangis dari kamar gadis itu ketika larut malam.


“Ma, aku nggak ngapa-ngapain Adinda, tanya aja sendiri sama janda itu!” sahut Akram keceplosan dadn itu sungguh terdengar tidak mengenakkan.


“Akram! Jaga ucapanmu!” geram nyonya Ramindra.


‘Astaga, mulut gue kenapa kasar begini sih?’ sesal Akram dalam hati, dia tau kalau sekarang Adinda pasti akan membuat jarak semakin jauh dengannya.


“Bunda napa, Papa?” tanya Caca bingung melihat wajah tegang sang papa dan omanya.


“Bundanya sakit, Nak. Caca sayang sama bunda, gak?” Ide terlintas di otaknya yang sedikit licik.


“Cayang dong, Papa.”


“Kalau sayang ….” Akram mendekatkan bibir ke dekat telinga putri kecilnya lalu membisikkan sesuatu.

__ADS_1


“Oce, Papa!”


__ADS_2