Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 42. Tawaran Jadi Pengasuh


__ADS_3

Adinda tersenyum, “Berarti saya harus berhenti kuliah dan lebih baik balik pulang ke kampung!”


Ciiit!


Akram mengerem mobilnya mendadak hingga Caca hampir saja terjatuh dari pangkuan Adinda, “Astaghfirullah, Tuan. Hati-hati mengemudinya! Apa ada kucing lewat? Kenapa berhenti mendadak?”


“Bunda takuut!” cicit Caca mempererat pelukannya pada gadis yang sempat kaget karena Akram berhenti dadakan.


“Iya, Sayang … tenang ya, ada bunda di sini kok!” ucap Adinda mengelus punggung si kecil dan mendekapnya lebih kuat.


“Maafkan papa, Sayang … tadi ada ayam lewat,” kilah Akram coba berdusta.


“Ayam? Masa di jalan raya kayak begini ada ayam lewat sih? Aneh banget jawaban Tuan,” sergahnya tak percaya.


“Jadi kamu rencana mau pulang ke kampungmu?” Akram masih melihat ke arahnya.


“Hemm, itu adalah opsi yang paling baik di dalam pikiranku sekarang. Bagaimanapun juga, Bunda dan kakakku harus tahu keadaanku sekarang,” lanjutnya ikut menatap lelaki yang duduk di balik setir kendali mobil.

__ADS_1


“Kalau kamu sampai pergi, bagaimana dengan anak saya?” Akram masih menikmati wajah cantik nan sederhana berbalut hijab itu, terasa mendamaikan hati.


“Tapi saya juga nggak mungkin tinggal di rumah Anda terus. Saya ini seorang istri yang sedang bermasalah dengan suaminya. Walau mungkin dalam waktu dekat akan mengurus dan mengajukan gugatan cerai tetap saja sangat tak pantas kalau saya serumah dengan Tuan. Saya harus tetap menjalani hidup walau nanti sudah berstatus janda dan mungkin saya akan berhenti kuliah selamanya.” Adinda mengalihkan pandang, menatap jalanan sepi karena sekarang waktunya orang sedang berkutat dengan pekerjaan.


“Jangan pernah berhenti untuk berharap pada masa depan. Sebaiknya kamu tetap melanjutkan kuliah, bekerjalah dengan saya! Jika kamu mau menjadi pengasuh Caca maka saya yang akan membiayai seluruh kuliahmu sampai tamat, jika kamu menganggap semua itu berlebihan maka kamu juga bisa menjadikannya sebagai utang yang nanti bakal kamu bayar dengan cara bekerja dan dipotong gaji di perusahaan saya! Bagaimana?” Sedang berusaha mati-matian mencari alasan agar perempuan yang sudah mampu mencuri hati Putri kecilnya itu tetap bersedia tinggal bersamanya dan juga Caca.


Adinda tidak menjawab pertanyaan Akram, perempuan itu lebih memilih diam hingga mobil yang dikendarai oleh pria itu sudah memasuki pekarangan rumahnya.


“Tunggu, Adinda!” seru Akram memegangi tangan gadis itu saat Adinda hendak turun.


“Beri saya waktu untuk memikirkannya,” sahut Adinda singkat.


“Baiklah kalau begitu keinginanmu, tapi tolong esok pagi kamu sudah memberikan jawabannya!” Akram seolah memohon pada sang gadis yang di mata Akram hanyalah seorang istri yang diselingkuhi oleh suaminya.


Akhirnya kedua orang itu turun dari mobil dan ketika Akram ingin mengambil alih sang putri dari gendongan Adinda, gadis itu tidak mau sama sekali dilepaskan walaupun Akram sudah berusaha membujuknya.


“Caca sama Papa dulu ya, Nak! Kasihan bundanya keberatan karena menggendong Caca, lihat tuh badan Bundamu kan sangat kecil Gimana kalau nanti dia sampai sakit kayak kemarin?” Akram terpaksa melakukan segala cara mimisan Putri berpindah ke gendongannya.

__ADS_1


“Caca ndak mau Bunda cakit lagi!” sahutnya dengan merentangkan kedua tangan hingga Akram bisa menggendong nya dan membawa kedua perempuan beda usia itu masuk kembali ke dalam rumah.


“Loh, kok cepat sekali baliknya? Adinda kamu nggak jadi —” Kalimat nyonya Ramindra terhenti seketika di saat Akram menggelengkan kepala, memberikan isyarat agar sang mama tidak melanjutkan pertanyaannya.


“Ya sudah, kalau begitu kamu masuk lagi ke kamarmu ya!” titah sang nyonya yang langsung diangguki Adinda karena memang gadis itu merasa butuh ketenangan.


“Makasih, Nyonya. Kalau begitu saya pamit dulu!” Gadis itu akhirnya undur diri lalu melangkah pergi memasuki kamar yang sebelumnya ia tempati.


Saat Gadis itu membuka pintu kamar, beberapa detik kemudian seorang pelayan laki-laki membawakan tas ransel dan koper miliknya, “ ini mau bapak bawakan masuk ke kamar sekalian, Neng?” tanya pelayan itu dengan ramah.


Adinda membuka pintu kamar itu lebih lebar lalu mempersilahkan sang pelayan memasukkan barangnya, “Makasih banyak ya Pak, udah bantuin bawa koper saya,” ucapnya tersenyum dengan ramah.


“Itu sudah jadi tugas bapak kerja di sini, Neng. Semoga Neng Adinda betah tinggal di rumah ini, apalagi sepertinya Nona kecil sangat menyukai kehadiran Eneng! Bapak permisi dulu,” pungkasnya sebelum membalikkan badan keluar dari kamar yang ditempati Adinda.


Adinda menutup pintu kamarnya, lalu merebahkan tubuh di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar, “Bunda … akhirnya apa yang aku takutkan terjadi juga! Apa yang harus Dinda lakukan sekarang? Dinda nggak mungkin mau kembali sama Mas Reza yang hobinya bermain wanita bahkan membawa perempuan itu sampai masuk ke dalam kamar di rumah yang kami tempati bersama.”


Kelopak mata gadis itu akhirnya menumpahkan bulir-bulir bening yang sudah sejak tadi setia melewati pipi bahkan sejak dari rumah Reza.

__ADS_1


“Apa aku terima aja ya, tawaran dari Tuan Akram untuk menjadi pengasuh anaknya?”


__ADS_2