
Akram diam tanpa suara ketika mereka sudah sampai di rumah utama, lelaki itu sepertinya sudah mati kutu ketika berbicara sembarangan di hadapan Adinda hingga dirinya lebih memilih berpuasa mulut agar tak ada satupun kata-kata yang keluar dari bibirnya karena merasa takut Adinda akan kembali membuatnya tak mampu untuk melawan bicara.
‘Aku memang yang telah membuat Caca lahir ke dunia karena dia memang anak kandungku dan lahir dari benih yang ku tanam pada istriku, tapi mama dan papa kan memaksaku untuk bekerja di perusahaan keluarga hingga aku sendiri tak punya waktu untuk putriku, jadi Di mana letak kesalahanku sebagai seorang ayah?’ Akram menatap langit-langit kamarnya memikirkan kalimat yang keluar dari bibir Adinda tadi sebelum mereka pergi memakai soto bersama Caca Sasmita Ramindra.
Baru juga duda beranak satu itu ingin memejamkan mata, tiba-tiba saja ponsel yang tadi diletakkannya di atas nakas bergetar.
“Halo, Roland. Ada apa menelpon saya?” tanya lelaki itu tanpa basa-basi dan berdiri berjalan ke arah balkon kamarnya. Laki-laki itu fokus ingin mendengar apa yang terjadi di Perusahaan hingga sang asisten pribadi menelponnya segala, padahal seluruh pekerjaan yang ada di kantor sudah dipasrahkan pada asistennya itu.
__ADS_1
[Maaf mengganggu Anda, tuan Akram. Di kantor ada Pak Reza Madani yang sedang mencari anda tetapi Ketika saya tanyakan kepentingannya, dia bilang ingin menyampaikan hal penting untuk anda, Jadi apa yang harus saya katakan sekarang?]
Roland menceritakan kedatangan mantan suami Adinda itu ke kantor bosnya, dan sungguh sang asisten pribadi merasa kesal karena Reza memaksa tidak akan pergi dari sana sebelum bertemu dengan Akram.
“Kalau lelaki sampah itu tak mau pergi, Biarkan saja dia di sana sampai menjadi jamur dan tak usah kamu pedulikan, toh kita nggak ada urusan apa-apa sama dia kan?” sahut Akram malah tersenyum sinis memikirkan apa tujuan Reza ingin menemuinya.
[Tapi tuan, saya sudah bilang kalau anda tidak masuk kerja dan ke kantor hari ini, sayangnya Pak Reza tak mau mendengar sama sekali. Dia malah memberikan ancaman sama saya. Kalau tuan Akram tidak datang dalam satu jam ke kantor maka dia akan berbicara pada karyawan yang ada di perusahaan, jika anda seorang duda yang merebut istrinya hingga mereka bercerai!] cerita Roland mengabarkan apa yang telah dikatakan Reza barusan, bahkan mantan suami Adinda itu tersenyum penuh kemenangan memperhatikan Roland menelpon atasannya.
__ADS_1
Akram berdecak kesal mendengar ancaman yang dikatakan Roland terhadapnya. Padahal jelas-jelas tadi dirinya bertemu dengan lelaki sialan itu di supermarket, tapi kenapa sekarang Reza sengaja mencarinya ke kantor? Apa sebenarnya yang sedang direncanakan Reza untuknya sampai harus memberikan ancaman kalau dirinya ingin merebut Adinda yang sekarang telah menjadi mantan istri dari lelaki itu.
“Ya sudah, kamu temani saja dia berbincang-bincang tentang apa saja sesuka hatimu sampai nanti ada seseorang yang akan membuatnya mendapatkan surprise terindah! Saya sedang banyak pekerjaan di rumah,” ucap Akram sebelum mengakhiri panggilan telepon.
Lelaki itu berjalan mondar-mandir di samping jendela kamarnya, lalu datanglah ide yang brilian di dalam kepalanya.
‘Kenapa aku dianggap sebagai perebut istrinya? Jelas-jelas sudah menjadi mantan, dasar pria sampah tak tahu diri! Sepertinya aku harus memberinya sedikit pelajaran biar tak mudah mengumbar ancaman pada orang lain!’ pikir Akram yang langsung mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang yang bekerja sebagai seorang polisi dengan pangkat yang sudah tinggi sebagai AKP.
__ADS_1
“Halo, Pak Bimo. Saya sedang ada masalah sedikit di perusahaan, ada seorang pria bernama Reza memberikan ancaman dengan cara ingin memfitnah saya di depan seluruh karyawan kantor, jadi tolong suruh anak buah anda ke sana untuk memasukkan pria itu ke balik jeruji besi, dua malam saja!” titah Akram pada seseorang yang di teleponnya.