Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 56. Salah Bicara


__ADS_3

Adinda berpamitan pada sang Bunda sebelum kembali ke kota Jakarta dengan status yang sudah menjadi seorang janda. Sekarang gadis itu sudah berada di dalam mobil yang baru saja bergerak keluar dari perkampungan rumahnya.


“Oh ya, Tuan, nanti kita berhenti sebentar ya untuk membeli oleh-oleh buat nyonya Ramindra.” Adinda menoleh ke samping meminta pada lelaki yang menjadi sopirnya itu agar nanti berhenti sebentar karena dia tidak mungkin kembali ke Jakarta tanpa buah tangan dari daerah Sukabumi.


“Boleh, pokoknya kamu ambil saja apa kiranya oleh-oleh yang sering dibawa orang ke kota lain untuk sanak saudaranya dari Sukabumi! Nanti biar saya yang bayar,” jawab Akram tanpa menoleh karena lelaki itu sedang fokus melihat jalanan.


Sekitar 30 menit kemudian, mobil itu berbelok pada salah satu kios jajanan khas Sukabumi. Mereka berdua turun padahal Adinda sudah melarang Akram agar cukup menunggunya di dalam mobil saja tetapi lelaki Arogan itu sama sekali tak mau mendengarnya. Adinda mengambil kue mochi, pisang Cakra, kue jahe dan juga sagon bakar karena makanan itu yang menjadi salah satu ciri khas daerah Sukabumi di samping beberapa cemilan kering lainnya.

__ADS_1


“Kita beli bolu pisang ini juga beberapa, sekalian bisa dijadikan cemilan untuk di jalan!” Akram meraih tiga kotak bolu pisang dan memasukkannya ke dekat belanjaan Adinda. Pria itu juga terlihat antusias ke kios sebelah yang menyediakan buah-buahan dan membelinya beberapa kg. Setelah semua belanjaan dibayar mereka berdua pun kembali masuk ke dalam mobil dan Adinda merasa kesal karena lelaki itu ngotot ingin membayar semua buah tangan itu sendiri.


Sepanjang perjalanan menuju Jakarta Adinda hanya diam tanpa bicara kecuali Sekali-kali menanggapi cerita Akram yang selalu ada saja sebagai bahan obrolan. Mulai dari cerita tentang kelahiran Caca hingga dirinya yang menduda sampai sekarang dan belum pernah sekali pun berdekatan dengan seorang wanita, sampai dirinya bertemu dengan Adinda.


“Begitulah kisah hidup saya selama ini yang sangat jauh dari wanita walau saya jujur sering menghabiskan waktu dengan dunia malam dan berteman dengan minuman keras serta mabuk-mabukan tapi saya masih menjaga diri dari perempuan!” pungkas Akram menutup cerita kelamnya.


Adinda sejak tadi menjadi pendengar yang sangat setia, menyahuti sekedarnya saja ketika merasa diperlukan.

__ADS_1


Akram terkekeh kecil, semburat senyum terlihat indah terukir di bibirnya yang merekah bahkan giginya terlihat begitu putih bersih mengeluarkan aroma mint segar.


“Kamu terlalu berlebihan menilai saya, Adinda! Saya sama sekali tak pernah mengejarmu tapi saya melakukan semua ini hanya demi Putri kecil saya — Caca. Dia butuh sosok seorang ibu yang mampu membuatnya merasa nyaman, dan saya menemukan semua itu pada dirimu,” ucapnya menerangkan secara tidak langsung, kalau lelaki itu sama sekali tak punya rasa terhadapnya kecuali hanya sekedar demi anaknya semata.


Adinda terlihat mengangguk paham dan di dalam hatinya harus digaris bawahi bahwa dirinya bukan siapa-siapa dari seorang akrab jadi dia harus membentengi diri sebaik mungkin agar tidak pernah terpesona dengan ketampanan sang duda taipan.


“Saya bintangi ya, Tuan. Apa yang kita bicarakan barusan akan tersimpan di sini dan tak akan pernah saya lupakan, sebagai bahan patokan untuk memberi batasan antara kita sebagai atasan dan bawahan!” sahut Adinda dengan bijak mengarahkan jari telunjuk pada pelipisnya, bahkan Gadis itu memperlihatkan semburat garis lengkung di bibirnya yang indah dan terlihat tipis nan manis.

__ADS_1


Secara tidak langsung Gadis itu pun akan menyimpan di dalam otaknya secara baik statusnya sebagai seorang pengasuh di mata Akram.


‘Dasar Akram bego, ngapain coba aku tadi ngomong kayak begitu? Kalau sudah begini … nggak mungkin kan tiba-tiba saja kalau nanti aku ngomong suka sama dia? Ini semua gara-gara aku yang terlalu Gengsi, lagian apa kata dunia kalau sampai seorang Akram jatuh cinta pada gadis seperti Adinda yang notabene janda muda, tapi kenyataan di hatiku ini kenapa berbeda ya dengan lidahku yang bicara?’ Akram merasa kesal dan juga menyesal pada dirinya sendiri yang tak mampu mengucap kata sesuai dengan di dalam hati karena semua bertolak belakang dengan pikirannya.


__ADS_2