
“Gue bukan pecundang tapi hanya berusaha sedang mengetahui apakah gue emang suka sama Adinda atau hanya sekedar kagum?” Lelaki itu bermonolog sendiri dengan tangan yang terkepal kuat menahan sesak di dalam dadanya.
Siapa juga yang akan merasa senang saat melihat orang yang sedang diincarnya sibuk bercanda gurau dengan sahabatnya sendiri. Sungguh begitu terasa menyakitkan saat di mulut berkata tak butuh tapi di hati merasa tersakiti. Salah sendiri punya gengsi yang terlalu tinggi. Akram seperti cacing kepanasan melihat putrinya dipangku Romeo dan Adinda sedang sibuk bagai seorang ibu yang menyendokkan air kelapa muda pada mulut Caca. Dirinya merasa begitu kesal melihat itu semua karena seharusnya dialah orang yang berada di sana, bukan Romeo.
“Gue gak mungkin suka sama Adinda, gue hanya kagum karena dia satu-satunya wanita yang bisa dekat dengan Caca!” Ya, Akram tidak menyadari ada perasaan lain yang sedang bersemayam di dalam jiwanya. Matanya masih fokus kala Roland telah tiba di dekat ketiga orang yang bagaikan keluarga kecil nan harmonis itu.
Ada rasa sakit yang menyelimuti jiwanya kala melihat semua adegan yang terpapar jelas di depan mata, keluarga bahagia. Itulah yang pantas untuk dijadikan judul sebuah novel jika memang ada penulis di sekitar sana, membuat Akram yang sedari tadi jadi penonton ingin sekali menggantikan posisi Romeo saat memangku Putri kandungnya.
“Lo emang sahabat yang gak tau diri! Beraninya modus mengajak Caca tapi isinya hanya ingin berdekatan sama Adinda,” lirihnya dengan suara tercekat melihat tawa Adinda yang terukir untuk Romeo.
Bibirnya mulai menyeringai kala melihat kedatangan Roland yang menghampiri Adinda. Ponselnya berdering dan itu merupakan panggilan dari Roland — asisten yang terpaksa melakukan kemauan gila atasannya. Bahkan lelaki itu memaksa Roland agar melakukan panggilan telepon terhadapnya, setelah berada di dekat Adinda hanya untuk mendengar apa saja yang diucapkan pengasuh putrinya itu.
“Selamat sore, Ibu Adinda. Saya disuruh sama Tuan Akram untuk menjemput anda dan juga Nona Caca,” ucap Roland begitu formal menoleh sesaat terhadap sahabat sang atasan.
__ADS_1
Sebenarnya Roland merasa tidak mengerti kenapa atasannya itu begitu posesif terhadap pengasuh putrinya. Padahal mereka tidak memiliki hubungan apa pun kecuali hanya sekedar tinggal satu atap semata dan juga hubungan antara tuan dan majikan.
“Selamat sore juga Pak Roland. Kenapa saya dan Caca harus pulang bersama Pak Roland? Bukankah tadi jelas-jelas Tuan Akran sendiri yang mengijinkan kami untuk pergi bersama pak Romeo, bahkan tadi kami sempat bertemu di areal taman bermain. Apakah terjadi sesuatu dengan tuan Akram? Apa beliau dalam kondisi baik-baik saja?” tanya Adinda penuh selidik, merasa sedikit cemas dengan kedatangan asisten Akram yang sengaja menyuruhnya pulang sekarang juga.
Wajah gadis itu terlihat jelas menggambarkan kepanikan dan hal itu terpapar jelas di mata Akram yang berdiri tak jauh sebagai penguntit, hingga membuat hati duda satu anak itu terasa menghangat saat mendengar kalimat yang terlontar dari bibir wanita itu. Akram tersenyum tipis saat mengetahui kalau masih ada wanita yang mencemaskan dirinya tanpa adanya hubungan apa pun. Selama ini dirinya merasa sendiri dan setiap wanita yang berusaha mendekatinya sudah pasti tak ada yang tulus padanya kecuali hanya demi harta dan kekayaan yang dimilikinya.
‘Terbuat dari apa hati lo itu, Adinda? Apa lo tak pernah merasa curiga sama gue? Gue … gue akhh! Gue gak mungkin suka sama dia, gue hanya kagum dengan sifat keibuan yang dimilikinya. Ya, pasti hanya itu saja.”
“Apa kamu yakin kalau tuan Akram sedang baik-baik saja?” ulang Adinda dengan sorot mata penuh kekhawatiran.
Gadis itu teringat akan perkelahian antara Romeo dan juga Akram di taman hiburan jelang tadi siang, dirinya hanya sedikit khawatir dengan keadaan tuan yang memberinya gaji setiap bulan itu.
“Om Loland … apa papa Caca cakit? Apa Om udah bawa ke lumah cakit? Oma bilang, kalau cakit halus belobat dan mau dicuntik, makanya Caca cekalang mau banyak makan kalna takut dicuntik pak dotel,”sela Caca yang langsung saja membuat Romeo yang memangku gadis kecil itu jadi tertawa.
__ADS_1
Melihat gelagat cemas di mata Adinda malah membuat Roland ingin membantu tuannya agar mereka semakin dekat karena Roland sangat yakin, jika Akram sebenarnya punya rasa terhadap gadis yang pernah menjadi korban tabrakan sopir Akram itu sendiri.
“Tadi Tuan Akram menelpon saya dan mengatakan kalau kepalanya terasa sangat sakit dan beliau juga merasa cemas dengan putrinya yang belum pulang ke rumah, makanya menyuruh saya untuk menjemput anda,” terang Roland penuh dusta yang begitu meyakinkan.
Akram yang mendengar itu semua malah tersenyum lebar. Ide bawahannya itu sangat bagus dan dia akan segera pulang untuk meluruskan permainan yang dimulai bawahannya itu.
“Om gak tau, Sayang … supaya semua jelas, ayo kita pulang terlebih dahulu!” ajak Roland yang langsung menggendong Caca. Matanya menatap tak suka pada Romeo.
“Tuan Romeo, saya hanya mau mengatakan satu hal. Jangan pernah ingin memetik bunga yang sudah ada pemiliknya!” ancamnya dengan tatapan tajam.
“Saya ini seorang polisi yang pantang untuk mengambil sesuatu yang bukan hak saya, jadi kamu tenang saja, selagi Adinda nyaman dengan kehadiran saya … maaf saya tak akan pernah meninggalkannya!”
“Apa!?”
__ADS_1