Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 79. Berdamai Dengan Keadaan


__ADS_3

Akram benar-benar merasa sangat kesal pada sahabat baiknya yang bernama Romeo itu, bagaimana tidak … pria yang berprofesi sebagai polisi tersebut benar-benar dengan sengaja menguji kesabarannya dan juga tentang ego yang dia punya. Lelaki itu hanya bisa melihat nanar pada mobil Romeo yang mulai menghilang dari pandangan yang katanya akan pergi pulang tapi Akram malah sedikit tidak mempercayainya.


Dengan cepat lelaki itu keluar dari restoran menuju mobilnya. Dirinya tak ingin kehilangan jejak kepergian Adinda dan sang putri begitu saja tanpa mengetahui kemana mereka sekarang?


“Gue yakin Romeo gak akan mungkin menyia-nyiakan waktu yang ada untuk ngedeketin Adinda, apalagi kalau sampai dia tau Adinda itu pintar masak. Aduh, Romeo memang cowok sialannn, parahnya pengasuh itu pun sangat baik sama dia. Sangat tak mungkin kalau gue sampai baku hantam dengan Romeo untuk memberinya peringatan!” sungut Akram bicara sendiri sembari mengemudi.


Lelaki itu terlihat mengeraskan rahangnya ketika mengingat adegan di taman hiburan tadi, sebab Dia sangat yakin kalau saja dirinya tak sampai tepat waktu, bisa jadi sebenarnya Romeo memang sedang mencuri kesempatan untuk merasakan manisnya bibir si janda dari Reza Madani.


“Awas aja kalau lo berani-berani mengajak Adinda untuk jadian maka gue pasti bakalan ngebuat lo menyesal seumur hidup!” ancamnya kembali bermonolog sendiri, padahal Romeo sama sekali tak bisa mendengarkan umpatan dan juga ancaman dari mulutnya.


Duda satu anak itu terus saja mengikuti mobil yang dikendarai Romeo dan dahinya langsung berlipat ketika mengetahui persimpangan ke arah tempat tinggalnya, dilewati begitu saja dan itu sungguh membuatnya semakin merasa jengkel.

__ADS_1


“Dasar teman gak punya akhlak, bisa-bisanya dia mau membohongi gue! Awas aja lo nanti ya!” umpat Akram dengan memukul setir kendali mobil sekedar untuk melampiaskan rasa kesalnya terhadap sahabat sendiri.


Akram benar-benar tidak menyangka jika sahabat baiknya itu dengan begitu tega mendustainya, hanya demi seorang pengasuh yang notabene juga seorang janda dari desa.


Sementara itu, di dalam mobil yang dikendarai oleh Romeo, Caca sibuk berceloteh meminta sang bunda untuk bermain ke tempat lain karena merasa hari masih terlalu siang untuk kembali.


“Bunda, kita main lagi yuk!” ucapnya memberitahukan.


“Emangnya Caca mau main ke mana lagi, Sayang? Bukankah tadi udah puas naik wahana permainan sama Om Romeo lalu Caca mau main apa lagi?” Adinda dengan begitu lembut mengusap pucuk kepala sang bocah dan hal itu diperhatikan oleh Romeo lewat kaca spion mobil bagian dalam jika perempuan itu begitu tulus dan ikhlas saat mengasuh anak dari sahabatnya, semua itu sangat mudah bisa ditebak sama Romeo dari cara Adinda memandang Caca dan juga perlakuan pengasuh itu pada si kecil.


Pria itu kembali menoleh lewat kaca spion bagian dalam mobil untuk mengetahui apakah Adinda dan Caca setuju dengan rencananya. Belum sempat Adinda menyahuti tetapi Caca lebih dulu berseru riang menyetujui usulan yang diberikan sahabat papanya.

__ADS_1


“Caca mau ke pantai! Kita ke pantai, asikkk!” ucap gadis kecil itu dengan riang gembira memperlihatkan sorot mata bahagia seolah-olah kehidupannya tak pernah punya beban sama sekali.


Begitulah sifat anak kecil yang selalu ceria jika memang pengasuhannya baik di dalam keluarga. Terkadang kita lupa sebagai seorang wanita karir dengan pola pengasuhan anak di rumah dan menyerahkan segalanya hanya pada pengasuh sang anak dan ketika si anak sudah menginjak usia remaja maka anak itu akan mulai bisa memilah dan memilih, mana orang yang menyayanginya dengan tulus ikhlas dan mana orang yang hanya memberinya kepuasan dunia.


“Om Lomeooo, kita cetuju main ke pantaiii. Caca boleh mandi ya, Bunda? Boleh ya, boleh yaaa ya ya ya,” bujuk si kecil merengek pada pengasuhnya.


“Kalau Caca mau mandi di pantai, boleh saja asalkan papa mengizinkan. Bunda takut kalau di cuaca panas begini Caca mandi-mandi di laut karena yang ada nanti bisa sakit, terus Bunda deh yang disalahin sama Papanya Caca. Bunda minta ijin sama papa dulu ya?” Adinda mulai mengambil ponselnya dan melakukan panggilan telepon dengan majikannya.


Namun, beberapa kali gadis itu menghubungi, sayangnya sang tuan abai dengan panggilan darinya.


“Tuan Akram tak menjawab, Pak Romeo, jadi saya gak berani memberi ijin untuk Caca bermain air laut,” ujarnya.

__ADS_1


“Kalau gitu biar nanti saya yang hubungi. Kamu tenang aja, Caca gak bakal kenapa-napa asalkan perginya sama kita.” Romeo menoleh pada Caca dengan wajah yang cemberut.


Pria itu tersenyum melihat si kecil yang kecewa pada Ayah dan bundanya.. Dia yakin hal itu bisa dimanfaatkannya.


__ADS_2