
“Eh ada putri cantik di sini, mau minuman punya tante, gak? Rasanya enaaak sekali.” Reviana sudah berdiri di dekat Caca dengan salah satu tangan menyerahkan minuman Boba seperti yang tadi dimiliki Caca tetapi ditinggalkan oleh bocah kecil itu karena panik kehilangan bundanya.
"Ndak mau, Caca cuma mau minum dali Bunda aja. Emang nya Tante ini ciapa, kok milip ondel-ondel cih. Liptiknya melah dalah kayak pampil, apus dong Tante, ngeliii Caca liatnya," celetuk bocah itu dengan lancarnya tanpa dosa, tidak mengetahui roman wajah Reviana yang sudah berubah merah padam karena malu akibat celotehan seorang bocah kecil yang sok tahu menilai penampilannya.
Akram yang mendengar pernyataan Putri kecilnya, berusaha mengalihkan wajah ke arah lain karena tak tahan ingin menyemburkan tawa tapi lelaki itu tidak melakukannya sekedar untuk menjaga wibawa. Padahal ingin sekali rasanya lelaki itu tertawa terbahak-bahak mendengar ungkapan Jujur dari mulut anaknya.
"Caca nggak boleh ngomong gitu, Sayang. Tante itu berbusana sesuai dengan pekerjaannya, mungkin dia seorang wanita karir makanya harus menggunakan lipstik supaya bisa menunjang penampilannya agar terlihat jauh lebih cantik," tegur Adinda menasehati Putri asuhnya agar tidak sembarangan mengatai orang lain, apalagi orang itu memiliki umur yang jauh di atasnya bahkan sangat pantas menjadi ibunya.
"Oh gitu ya, Bunda, Caca kila tante ini ceolang badut, soalnya bedak yang dipake cama tante cangat tebal kayak popok dedek bayi hehehe." Bocah kecil itu bukannya meminta maaf atau pun terdiam setelah dinasehati Adinda, tapi ucapannya malah semakin nyelekit di hati, membuat Reviana yang kesal langsung saja pergi tergesa dengan menghentak-hentakkan kakinya, merasa jengkel dengan anak kandung nya Akram.
__ADS_1
Hahaha! Hahaha!
Akhirnya tawa Akram bergema juga hingga beberapa pasang mata menoleh padanya, tapi dengan cepat lelaki dewasa itu kembali mengubah raut wajahnya, memperlihatkan roman cool berkarisma.
Ekhem!
"Papa ketawa kelas cekali, Bunda bilang itu ndak boyeh, coalnya nanti bica ngundang cetan datang ke cini. Emangnya Papa mau ada cetan belcama kita? Caca ndak mau ada cetan, takut nanti dibawa ke hutan!” lanjut sang bocah kecil.
“Caca anak pintar dan cantik, tapi kalau ngomong sama papa nggak boleh begitu ya? Nanti kepintarannya bisa hilang dong!” Adinda mencoba untuk memasuki dunianya sang bocah.
__ADS_1
“Sayang, kalau papa misalnya ke kantor terus oma ada kepentingan juga. Caca bisa jadi anak pintar gak? Apa Caca nanti saat kita pulang ke rumah mau tidur sendiri, kasian bunda kalau Caca selalu bersamanya,” ucap Akram entah untuk apa.
Adinda merasa bingung kenapa Akram mempertanyakan hal sepele seperti itu pada putrinya, padahal jelas-jelas dirinya adalah seorang pengasuh yang tentu saja sangat wajar jika anak yang diasuhnya menginginkan tidur bersamanya.
“Maaf sebelumnya tuan, tapi saya nggak pernah merasa keberatan sama sekali ketika Caca mengajak tidur bersama, karena itu juga merupakan salah satu kewajiban saya sebagai pengasuhnya,” sela Adinda di antara perbincangan antara sepasang anak dan ayah itu.
Caca memajukan bibirnya, terlihat membentuk kerucut dengan raut wajah kesal dan Adinda terkekeh ketika memperhatikan bibir si kecil karena merasa gemas.
“Ndak mau. Bukannya waktu itu Papa cendili yang makca Caca bial bobok cama Bunda? Papa bilang kalau Caca ndak tidul cama Bunda nanti Bundanya pelgi lagi … telus ninggalin Caca celamanya, makanya Caca ndak mau bobok kalau ndak ada bunda!” tegas sang bocah tanpa melihat wajah papanya yang merah padam bak kepiting rebus.
__ADS_1
‘Dasar anak si alan, eh anaku. Kenapa anakku tega bikin malu papanya kayak gini?