
“Saya hanya ingin —” Lelaki itu menjeda ucapannya tetapi tatapan kedua bola mata itu terlihat sedang berkabut.
"Loh Akram, kamu kok ada di sini, anakmu merengek sejak tadi mencari Papanya!" Tiba-tiba saja suara Nyonya Ramindra mengagetkan dua manusia yang sedang berada di kamar Adinda, sontak saja Adinda berusaha dengan cepat mendorong tubuh jangkung yang tadi sempat merengkuh pinggangnya agar tak jatuh.
"Iya Ma, Akram akan langsung pergi ke sana untuk melihat Caca!" Pria itu dengan cepat berlalu pergi keluar dari kamar Adinda, sementara nyonya Ramindra merasa curiga terhadap sang putra yang berstatus duda ditinggal istrinya.
Wanita paruh baya itu melihat ke arah dalam kamar Adinda di mana Sang Perempuan masih mengenakan mukena di tubuhnya, menandakan bahwa Adinda baru saja menunaikan ibadahnya dan itu membuat hati seorang Nyonya Ramindra merasa lega.
"Maaf nak Adinda, apa kamu nggak apa-apa?" Wanita paruh baya itu melangkah masuk mendekati gadis yang masih berdiri persis di dekat kaki ranjang di mana wajah sang perempuan terlihat sedikit pucat, mungkin merasa ketakutan terhadap putranya.
__ADS_1
"Saya nggak apa-apa, Nyonya. Hanya saja saya sedikit bingung dengan tingkah Tuan Akram yang tiba-tiba saja mengetuk pintu kamar saya dan dia juga seperti yang Nyonya lihat tadi, sepertinya saya lebih baik esok hari pergi dari rumah ini karena memang tidak seharusnya saya berada di sini. Di tambah lagi status saya sekarang masih sebagai istri dari Reza Madani dan sangat tidak pantas jika saya tinggal satu atap dengan seorang duda." Adinda berjalan ke arah pintu lalu menutupnya, setelah itu mulai membuka mukena yang tadi sempat masih melekat menutupi tubuhnya.
Nyonya Ramindra terpana melihat kecantikan seorang perempuan yang katanya berstatus sebagai istri seorang pengusaha muda bernama Reza Madani, terlihat begitu cantik apalagi saat mukena itu terlepas dari rambutnya, hingga memperlihatkan surai hitam yang panjang sepinggang bergelombang.
'Ya Allah … wanita cantik begini kenapa disia-siakan sama Pak Reza, apa dia nggak sadar kalau istrinya begitu baik? Bahkan Akram saja yang baru pertama kali mengenalnya, terlihat langsung jatuh cinta pada Adinda tapi sayang ternyata Adinda bukan seorang janda ataupun gadis melainkan masih berstatus istri dari seseorang.' Nyonya Ramindra membatin di dalam hati sembari berusaha menepis pikirannya yang sudah mulai memiliki angan punya menantu secantik dan sebaik Adinda, apalagi sang cucu begitu dekat dengannya bahkan saking inginnya memiliki seorang ibu, Caca menganggap wanita itu sebagai Bunda.
"Baik, Nyonya. Dinda janji akan langsung mengabarkan jika nanti telah mendapatkan kontrakan. Mungkin Dinda akan berhenti kuliah dulu sementara untuk mencari kerja," sahut Adinda.
"Kamu panggil mama saja! Jangan lagi memanggil nyonya karena mama sudah menganggapmu seperti anak sendiri. Apalagi Caca juga sudah menganggapmu sebagai Bundanya, berarti kamu itu sudah menjadi anak mama! Ingat ya, di sini kamu tidak sendirian, ada Mama yang selalu bisa kamu andalkan!" Nyonya Ramindra kembali memeluk tubuh mungil nan kurus itu.
__ADS_1
"I-iya Ma, besok pagi-pagi Insya Allah aku akan pergi dari sini dan setelah mendapatkan kontrakan akan langsung menghubungi Mama dan memberitahukan tempat tinggalku yang baru, tapi tolong jangan beritahu sama Tuan Akram!" pinta Adinda dengan wajah penuh permohonan.
"Atau mungkin lebih baik kamu menempati salah satu rumah mama yang ada di Jakarta Selatan, rumah itu masih terawat tetapi mama ke sana paling-paling hanya satu kali dalam dua bulan, itu pun terkadang masih tidak sempat hanya sekedar untuk melihat-lihat saja. Mama janji nggak akan memberitahu Akram tentang keberadaanmu, asalkan kamu bisa jaga diri di sana baik-baik!" ucap Nyonya Ramindra memberikan idenya, dengan maksud hati wanita paruh baya itu masih bisa mempertemukan sang putra jika nanti status Adinda sudah berubah menjadi janda.
"Tapi Ma, aku nggak mau merepotkan," sahut Adinda merasa tak enak hati karena keluarga besar Ramindra sudah terlalu baik padanya.
"Mana ada kata repot untuk seorang ibu pada anaknya? Kamu ini ada-ada saja, mama malah akan sangat bahagia karena Mama nanti masih bisa bertemu denganmu dan Mama janji akan membawa Caca ke sana setelah kamu tinggal di Jakarta Utara! Selesaikanlah urusanmu dengan suamimu itu, jangan sampai kamu salah dalam memutuskan sesuatu karena Mama juga tak ingin ikut campur, tapi kalau kamu memang butuh sandaran dan butuh bantuan untuk mendengarkan ceritamu, Adinda tinggal bilang saja sama mama maka Mama akan datang ke rumahmu!" janji nyonya Ramindra membuat kesepakatan.
“In syaa Allah, Ma.”
__ADS_1