Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 64. Bermain di Timezone


__ADS_3

Di sinilah Adinda sekarang, berada di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta tepatnya di pusat bagian permainan lantai paling atas. Mereka berjalan bertiga sudah seperti keluarga kecil saja, di mana Caca bergelayut manja pada salah satu tangan Akram dan juga genggaman tangan Adinda, sehingga siapa pun yang memandang mereka sudah pasti memikirkan bahwa ketiga nya merupakan keluarga kecil harmonis yang sedang sangat bahagia.


“Papa Papa, ayo kita main mobil bayap, ciapa yang kalah halus jongkok campai mobil di palkilan,” ucap si kecil dengan tatapan berbinar, menantang Papanya dengan permainan yang sudah pasti membuat Akram tak akan mau melakukannya.


“Eh? Papa nggak bisa main mobil balap sayang, coba deh Caca main sama bunda aja ya nanti biar Papa yang cari jajan kalau bunda sama Caca udah capek,” elak Akram berusaha mencari alasan karena memang dirinya paling tak bisa jika harus ikut-ikutan bermain Timezone seperti anak kecil. Akram tak bisa membayangkan kalau sampai ada salah seorang klien atau Mitra kerjanya, melihat seorang CEO perusahaan ternama melakukan permainan anak kecil seperti itu. Buat makan semua itu hanya akan membuatnya malu.


“Tapi Caca maunya main bayap mobil cama Papa bukan cama Bunda!” kekeh si kecil dengan mengerucutkan bibirnya ke depan hingga malah membuat Adinda tak mampu lagi menahan tawa, karena di matanya wajah Caca benar-benar seperti si Gembul yang menggemaskan.


Akram sebenarnya sedikit kaget mendengar permintaan putrinya yang di luar logika, mengajaknya bertarung bermain mobil balap dengan salah satu tantangan yang mengerikan. Bagaimana kalau dirinya benar-benar mengalami kekalahan? Bukankah sama saja itu mempermalukan dirinya sendiri? Akram menggelengkan kepala tegas.

__ADS_1


“Caca main sama bunda aja ya, sayang? Papa harus menelpon seseorang dulu dan itu sangat penting, karena nanti hasil pembicaraan Papa dengan teman Papa itu bisa mendapatkan uang yang banyak buat Caca beli mainan dan juga bisa beli segala macam yang Caca suka bersama Bunda,” bujuknya lagi masih sedang berusaha agar Caca tak memintanya ikut bermain permainan di Timezone yang sungguh tak masuk akal untuknya.


Adinda yang melihat kalau Akram sedikit terpojok oleh permintaan putrinya sendiri, langsung mengajak Caca berbicara seperti seorang ibu yang sedang membujuk putrinya.


“Caca cantik, mau main apa? Biar bunda yang nemenin Caca tapi bunda nggak pandai main mobil balap.” Adinda mengetuk-ngetuk dahinya memperagakan seperti seseorang yang sedang sibuk berpikir dan hal itu membuat si kecil Caca menjadi semakin merasa penasaran.


Adinda ikut tersenyum lebar. Gadis itu tentu saja bersedia jika Caca mengajaknya untuk bermain capitan boneka karena itu merupakan salah satu permainan yang paling suka dikerjakannya saat masih bersama Rara. Tiba-tiba saja ingatan Adinda melayang akan sosok sahabat yang sudah hampir sebulan ini tak pernah ia temui, terngiang jelas di dalam kepalanya.


‘Andai saja aku mendengarkan apa yang kamu ucapkan dan kamu nasehati padaku, pasti sekarang aku belum menjadi seorang janda yang masih perawan!’ sesal Adinda di dalam hati ketika mengingat sosok sahabat yang pernah berusaha menasehatinya agar tidak menuruti perkataan Bunda Hanum untuk menerima pinangan tanpa cinta dan menikah tanpa rasa dengan Reza Madani.

__ADS_1


Sayangnya waktu itu Adinda hanya memikirkan perasaan keluarga pak Suryo yang sudah sangat membantu dirinya dan keluarga. Mana mungkin iya tega mematahkan semangat seorang pak Suryo yang sudah menggebu-gebu. Ditambah lagi permintaan Bunda yang sangat sulit untuk dirinya tolak, sebab bunda Hanum memohon padanya agar mereka mau membalas budi baik pak Suryo pada keluarga mereka selama ini.


“Bunda kok melamun, lagi mikilin papa, ya? Telus kita jadi nggak main jepit boneka bial Caca tambah banyak bonekanya?” Caca begitu polosnya mengira Adinda memang merupakan pasangan dari papanya.


“Boleh deh! Ayo sekarang kita jalan ke sana karena anak cantik yang sholehah tidak akan minta gendong untuk bergerak. Kan Caca udah besar, ya.” Adinda kembali menguasai perasaan seorang anak kecil hingga begitu tertuju padanya.


“Kalau Caca digendong sama papa … apakah Caca ndak cantik dan ndak colehah lagi, Bunda?” Caca menatap intens wajah perempuan yang dipanggilnya Bunda lalu melirik ke arah lain di mana Akram sedang berdiri menjulang tinggi setelah tadi sempat ada drama penolakan bermain mobil balap dengan putrinya.


“Loh, Pak Akram! Ternyata anda suka bermain di Timezone juga?”

__ADS_1


__ADS_2