
“Maafkan aku, Adinda … maaf, jangan tinggalkan aku lagi!” mohon lelaki itu dengan suara serak dengan lancang meletakan dagunya di bahu wanita yang langsung terpaku diam.
“Lepaskan tangan kotor Anda dari tubuh Adinda sebelum tangan itu saya patahkan!” raung Akram dari jarak yang masih lumayan jauh setelah memperdengarkan suara baling-baling helikopter dengan sedikit kegaduhan bisingnya. Akram terlihat berlari mengejar ke arah sepasang manusia yang terlihat menempel karena Reza masih saja mendekap tubuh Adinda yang sedang menegang dari belakang, Akram pun akhirnya tak sanggup melihat wanita yang sebenarnya sudah sangat dipujanya dengan aura yang menakutkan, seolah-olah ada asap sedang mengebul di atas ubun-ubunnya akibat pemandangan yang menyakitkan mata dan juga hatinya.
Lelaki itu bergerak Mbak kilat yang sedang menyambar, menarik kerah baju mantan suami Adinda dengan tangannya yang kokoh.
“Kau memang binatangg yang tak bisa dikasihani! Apa belum cukup kau menyakitinya?!” Akram bicara sarkas dengan suara bariton yang sangat dingin. Tidak ada ekspresi wajah bahkan matanya seolah tidak berkedip sedikitpun, “bukankah kau sudah mencampakkan berlian yang harusnya kau lindungi seperti seonggok sampah tak berharga? Saya hanya ingin mengambil Berlian itu agar bisa tetap terjaga dengan baik tanpa retak sedikit pun!” Tiba-tiba saja tangan yang tadinya hanya hendak mencengkram kerah baju Reza, berubah jadi mencekikk leher lelaki itu.
Hanya membutuhkan hitungan detik saja, wajah Reza langsung berubah kemerahan. Bahkan urat-urat lehernya terlihat berubah membesar seketika, kening pria itu juga langsung mengerut menahankan rasa sakit luar biasa seolah-olah liang lahat telah tergambar jelas di depan mata. Akram melepaskan cengkraman tangannya sembari memberikan bogeman mateng ke perut Reza dengan kekuatan penuh hingga Reza tersungkur di aspal.
__ADS_1
Brug!
Reza meringis dengan tangan memegangi perutnya. Terasa ngilu dan nyeri. Lehernya juga terasa sangat sakit dari bekas cekikan yang Akram melakukan barusan, ternyata kekuatan duda yang satu itu benar tak main-main. Reza melihat sorot mata Akram seperti ibliss yang siap membumihanguskan lawannya! Akram belum puas untuk melampiaskan sakit hatinya, berjongkok di depan Reza dan langsung meninju Wajah pria yang sedang mengusap-usap leher bekas cekikan darinya.
“Haruskah saya benar-benar meratakan perusahaanmu dengan tanah, baru kau mau berhenti mengejar calon istri saya?” bisik Akram dengan suara yang sangat pelan sehingga kalimat yang diucapkan hanya bisa didengar oleh Reza sebab si tuan Arogan tidak ingin Adinda mendengarnya, bisa-bisa Adinda akan semakin keras kepala dan Akram tak menginginkan semua itu terjadi. Pikirnya dengan senyum tipis. Dasar duda narsis.
Reza hanya bisa menelan saliva dengan berat, lelaki itu jadi terbatuk-batuk untuk menormalkan deru napas yang sempat terasa hendak berhenti dari paru-parunya. Ingin membalas tapi tubuhnya terlalu lemah hingga untuk berdiri saja dirinya merasa belum mampu.
Sedangkan Akram melangkah dengan santai sembari menepuk-nepukkan kedua telapak tangannya, seolah baru saja membersihkan kotoran yang menempel pada celana yang dikenakan.
__ADS_1
Sesaat, duda satu anak itu berbalik untuk melihat kondisi tubuh Reza yang lumayan mengenaskan akibat ulahnya, lelaki itu menyeringai sinis merasa sama sekali tidak menyesal telah membuat Reza menjadi babak belur karena itu masih terasa belum setimpal dengan sakit hati yang membuatnya sampai hadir di Puncak Bogor jelang malam ini, bahkan ketika mengarahkan mata pada sekeliling, ternyata matahari sama sekali sudah tak kelihatan walau sekedar samaran dari jingga merah cahayanya.
‘Dasar lelaki brengsekk tak punya otakkk, kenapa kau tak matii saja! Enak bener setelah bercerai dengan Adinda dan membuangnya begitu saja, sekarang mau mencurinya dariku! Langkahi dulu dulu hidupku kalau sudah jadi mayat baru kau bisa mendapatkannya lagi,’ batinnya merutuki Reza.
Akram dengan cepat merengkuh tubuh Adinda yang menegang karena melihat adegan perkelahian yang hampir saja menghilangkan nyawa mantan suaminya. Gadis itu hanya bisa membekap mulut dengan tubuh kaku, serta wajah yang sangat pucat saat melihat adegan di depan matanya. Bahkan Adinda sama sekali tidak menyadari kalau sekarang tubuh mungilnya telah berada di dalam pelukan sang duda arogan.
“Are you alright?” Pria itu menangkup kedua pipi Adinda hingga tangan kekarnya membingkai wajah pucat yang terasa begitu dingin, membuat Akram tanpa ragu membopong tubuh Adinda dan melarikannya pada arah helikopter dengan baling-baling yang masih saja berputar menunggu tuannya.
“Kembali ke Jakarta!” titahnya kemudian.
__ADS_1
Jangan lupa yang ikutan event memberikan ulasan bintang lima pada karya ini dan beri komentar yang menarik, tentu juga wajib mengikuti dua akun Mimin GC Putri Tanjung karena ava event nanti ada sama mereka. Semoga suka dan terima kasih.