Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 61. Janji Adinda


__ADS_3

Saat dini hari tiba, tepatnya ketika semua penghuni rumah sedang terlelap dibuai mimpi, Akram malah kembali naik ke lantai dua. Entah kenapa perasaannya kurang enak sebelum mengetahui bagaimana keadaan Adinda sekarang, apalagi sang putri bersikeras ingin tidur bersama wanita yang dianggapnya sebagai sang bunda. Akram juga tak bisa memaksa Caca untuk berpisah sama Adinda karena putrinya itu baru pulih dan juga tak ingin sedikit pun berjauhan sama mantan istri Reza Madani itu.


Ceklek!


“Adinda nggak mungkin terbangun kan, jam segini?” desis Akram bermonolog sendiri.


Pria itu berdiri menatap perempuan yang bukan mahramnya tapi kenapa hatinya merasa cemas sebelum mengetahui kondisi perempuan itu. Dengan langkah perlahan, pria itu pun mendekati ranjang besar tempat berbaring Adinda dan putrinya.


“Ckck, wajahmu ternyata imut juga kalau sedang tak mengomel,” ujarnya bicara sendiri sembari menatap wajah Adinda. Lelaki itu tersenyum kala memperhatikan perempuan yang haram untuk dipikirkannya tapi apa daya, panah asmara tanpa sengaja telah mencap ke jantung hatinya.


“Kenapa kamu harus hadir dalam hidupku, sih? Kau datang tak terduga, parahnya lagi kamu itu ternyata istri dari seseorang, huh … ada apa dengan mataku hingga melihatmu seperti seorang gadis yang masih polos?” lanjut Akram mulai semakin dekat dan sudah berdiri persis di samping tubuh Adinda.

__ADS_1


Adinda yang sebenarnya sudah tertidur pulas jadi terbangun karena mendengar deritan suara pintu, sontak saja kaget dan langsung membuka matanya tapi ketika melihat sosok Akram yang berdiri menjulang tinggi di ambang pintu, membuat perempuan itu berpura-pura tidur dengan mengintip lewat celah pejaman matanya untuk mengetahui apa gerangan maksud lelaki itu masuk ke dalam kamarnya.


"Syukurlah suhu badannya sudah turun," ucap lelaki itu setelah meletakkan punggung tangannya di dahi Adinda hingga membuat detak jantung perempuan yang baru saja disentuh Akram semakin berpacu lebih cepat, beruntung Adinda tidur tetap mengenakan hijabnya karena takut kejadian waktu perempuan itu didatangi kamarnya oleh Akram sebelum esoknya dia pergi dari rumah Nyonya Ramindra dan memilih pulang ke kampungnya — kembali terjadi selama Caca bersamanya.


Ternyata Akram masuk untuk memastikan keadaan Adinda lalu lelaki itu berjalan mengitari tempat tidur bagian ujung, berpindah mendekati sang putri dan menjatuhkan sebuah kecupan di dahi putrinya.


"Tidurmu nyaman sekali Nak setelah bertemu dengan Bundamu, eh astaga, Adinda padahal bukan siapa-siapamu, Sayang. Papa benar-benar nggak pernah menyangka kalau kamu begitu menyukai Adinda tapi papa juga merasa bingung, perempuan yang tidur bersamamu ini bukanlah bunda kandungmu! Apa yang harus papa lakukan sekarang?" Akram bermonolog lagi sembari mengusap-usap pucuk kepala putrinya dengan sayang.


Mendengar apa yang dikatakan Akram pada putrinya membuat Adinda berpura-pura memiringkan tubuh menghadap ke dinding, padahal sebenarnya dia takut ketahuan kalau Akram sampai melihat kedua kelopak matanya bergerak-gerak karena memang perempuan itu sudah terbangun dan mendengar seluruh perkataan Akram dengan baik.


‘Apa duda ini trauma karena istrinya yang meninggal dan mengira setiap perempuan yang akan dinikahinya bakal mati juga? Pendek bener jalan pikirannya, tapi masa ia sih, dia suka padaku?’ batin Adinda bertanya seolah tak percaya.

__ADS_1


Satu hal yang Adinda ketahui jika lelaki itu sangat pongah dan arogan tetapi juga begitu dingin pada lawan bicaranya walau dengan Adinda lisannya berbeda. Namun, Adinda sudah bisa lumayan mengenal karakter seorang Akram yang hanya akan lembut berkata pada orang-orang yang dianggapnya dekat, termasuk dirinya sendiri kadang-kadang masih sering diberikan perkataan yang menyesakkan di hati.


“Andai saja bundamu tak meninggal sewaktu melahirkanmu, Nak. Papa yakin dia pasti akan sangat bahagia memiliki gadis mungil yang pintar dan juga hebat sepertimu! Semua itu salah papa karena tak bisa menjaga kalian berdua ….” Akram terdengar sedikit terisak, membuat Adinda ikutan mengeluarkan air mata, merasa sedih mendengar kisah pilu seorang gadis kecil yang tak pernah bertemu langsung dengan wanita yang melahirkannya.


‘Aku janji akan memberikan kasih sayang untukmu, walau kamu bukanlah anak kandungku. Akan kubuat kamu selalu tersenyum mulai esok hari,’ batin Adinda berjanji di dalam hati pada anak perempuan yang sudah mendapat gelar piatu itu dan dia tak ada niat sama sekali ingin menggantikan posisi sang wanita yang telah melahirkannya.


Adinda hanya ingin memperlihatkan pada gadis kecil dan cantik bernama Caca, jika kasih sayang seorang ibu bisa didapatkan lewat dirinya tanpa harus melahirkannya karena memang Adinda juga sudah merasa jatuh cinta pada gadis batita itu.


“Doakan papa semoga kamu benar-benar mendapatkan bunda baru yang menyayangi setulus hati dan akan memperlakukanmu seperti anak kandungnya sendiri, karena papa hanya ingin mencari bahagiamu tanpa harus memikirkan perasaan papa lagi,” pungkas Akram kembali menjatuhkan sebuah kecupan di dahi putrinya yang masih terlelap dan terbuai mimpi.


Akram berdiri lalu menatap punggung perempuan yang sedang membelakangi putrinya, “Semoga kamu akan mendapatkan kebahagiaan setelah terlepas dari suami sampahmu!” Akram pun berlalu keluar dari kamar dan Adinda langsung memberikan tubuh meningkatkan tangannya di perut si kecil serta ikut mendaratkan sebuah kecupan di dahi Caca.

__ADS_1


“Insya Allah akan ku buat kamu merasakan memiliki seorang ibu, walaupun aku bukan Bundamu!”


__ADS_2