Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 108


__ADS_3

“Hey … kok malah bengong sih?” Reno menarik pergelangan tangan sang janda hingga membuat Adinda tersentak kaget, mengarahkan kedua matanya pada tangan yang saling bertautan.


‘Astagfirullah, apakah aku nggak salah melakukan semua ini?’ batin Adinda di dalam hati. Gadis itu dengan cepat melepaskan tangannya karena merasa tak nyaman.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menyipit, melihat pemandangan yang benar-benar menyesakkan jiwanya dengan kedua tangan yang terkepal di sisi tubuhnya.


‘Beraninya kamu menikungku dari belakang, Reno! Jadi ini gara-garanya kamu keluar dari perusahaan karena ingin mengejar mantan istriku, caramu terlalu murahan,’ umpat Reza di dalam hati.


Reza benar-benar tidak rela sang mantan istri bergandengan tangan dengan pria lain, bahkan Reno terlihat sangat melindunginya, “apa mereka berdua menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih? Adinda nggak mungkin mau kan berhubungan dengan Reno? Kenapa mereka bisa jalan bersama bahkan terlihat begitu mesra. Padahal selama hidup dengan aku … Adinda selalu saja menjaga jarak.” Reza sepertinya hanya ingin membenarkan semua perbuatan dan juga kesalahan yang pernah ia lakukan, tanpa mengingat apa saja perjanjian yang pernah diinginkannya terpaksa ditandatangani oleh mantan istrinya waktu itu, sungguh Reza berhak benar seperti manusia yang amnesia dengan perbuatan jahat yang pernah dilakukannya terhadap Adinda.


“Maaf,” cicit Adinda dengan tetap tersenyum agar Reno tak tersinggung kecil.

__ADS_1


Mereka berdua berjalan menuju kotak ATM yang ada. Reza membiarkan Adinda masuk dan tak ingin mengetahui seberapa besar tabungan perempuan itu karena memang bukan urusannya. Sesaat matanya melihat di seberang jalan seperti mengenal mobil silver milik Pak Suryo.


“Apa itu Pak Suryo kali, ya?” monolognya masih mencari keberadaan sang pemilik mobil.


Reno sama sekali tidak merasa curiga jika yang mengendarai mobil itu bukanlah pak Suryo, melainkan mantan suami Adinda sendiri, hanya saja Reza dengan cepat bersembunyi di balik mobil yang tadi ia kendarai ketika mengetahui Adinda telah masuk ke dalam tempat mesin ATM karena dirinya tidak ingin jika sampai Reno bisa melihatnya. Perasaannya begitu kacau ketika melihat kebersamaan Adinda dengan Rena, hatinya terasa begitu sakit! Sesal, satu kata itu sangat ditujukan untuknya.


‘Kamu pasti akan kaget kalau aku masih setia mengirimkanmu uang belanja bulanan walaupun kita sudah tak lagi bersama, aku baru menyadari jika kamu adalah wanita yang sangat berharga dan telah ku sia-siakan. Maafkan aku Adinda karena aku baru jatuh cinta setelah kamu meninggalkanku.” Reza mengusap sudut matanya yang berair, merasa begitu sakit melihat kebersamaan dua orang yang sangat dikenalnya.


‘Ternyata selama ini Adinda tinggal bersama Reno, bukan sama Tuan Akram,’ pikirnya di dalam hati karena memang sebelumnya dia menganggap Adinda benar-benar bekerja di rumah Akram Juliana Ramindra seperti yang pernah Adinda katakan ketika mereka sama-sama berada di Sukabumi.


Sedangkan Adinda benar-benar membulatkan kedua bola matanya ketika melihat saldo yang ada di dalam tabungan miliknya – tepatnya saldo tabungan yang pernah diberikan oleh mantan suaminya.

__ADS_1


“Tiga ratus tujuh puluh juta?!” pekik nya dengan mulut yang ditutup dengan tangan sendiri.


Gadis itu berulang kali mau ucek-ucek matanya untuk memastikan kalau penglihatannya tak salah tapi nominal yang tertera tetap tak berubah.


“Mas Reza pasti ada kesalahan dalam mengirim uang untukku saat dulu!” Gadis itu mencoba lagi menghitung uang yang seharusnya menjadi nafkah untuknya serta uang kuliah yang dijanjikan Reza saat mereka masih bersama, tapi tetap saja uang itu melebihi nominal yang seharusnya.


“Aku harus menanyakan semua ini pada Mas Reza, aku nggak mau memakan sesuatu yang bukan hakku!” monolognya lagi sembari menggigit bibir bawahnya diiringi gelengan kepala, karena seumur hidup, ini adalah pertama kali buat Adinda memiliki uang sebanyak ratusan juta.


Sementara itu, Roland mendapatkan amukan dari atasannya padahal jelas-jelas kepergian Adinda tak ada sangkut paut dengannya.


“Nasib nasib, andai saja gajinya tak besar, pasti udah gue tinggal tuh bos arogan, bisanya cuma nyalahin orang setiap sebentar sementara dirinya sendiri tak mampu mengurus diri, apalagi mau mengurus calon ibu tiri untuk nona Caca!” gerutu Roland di ruang kerjanya karena baru saja mendapatkan perintah untuk mencari keberadaan sang pengasuh putrinya. Siapa lagi kalau bukan Adinda yang kembali pergi dari rumahnya akibat tingkahnya sendiri yang tak bisa menjaga mulut dengan baik.

__ADS_1


“Aha … gue tau bagaimana cara mencari keberadaan calon nyonya Akram itu!”


__ADS_2