Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 109


__ADS_3

“Aha … gue tau bagaimana cara mencari keberadaan calon nyonya Akram itu!” Roland berseru senang ketika mengingat apa yang pernah ia lakukan saat Adinda pernah kabur sebelumnya, dan sebagai seorang asisten pribadi dirinya langsung saja meletakkan sebuah Mini chip kecil secara samar pada koper gadis itu.


Roland sangat yakin jika keberadaan alat yang sangat mini tersebut akan berguna suatu saat yang ternyata sekarang benar-benar terbukti adanya. Pria itu langsung saja tersenyum membayangkan kalau dirinya hanya dalam hitungan detik akan bisa mengetahui dimana keberadaan Adinda saat ini, hanya saja Roland ingin tahu terlebih dahulu, apa penyebab janda kembang itu kembali pergi dari rumah atasannya.


“Sepertinya gue harus menyamar terlebih dahulu sebelum memberitahukan sang bos dimana keberadaan Adinda sekarang, karena bisa jadi semua ini kesalahan Tuan Akram sendiri yang telah membuat janda cantik dan menarik itu menjauh dirinya, dasar bos menyebalkan.” Roland memasukkan kedua telapak tangan ke saku celananya, berbalik dan melangkahkan kaki menuju jendela yang ada di ruang kerjanya, menatap ke arah bawah gedung tempatnya bekerja dengan senyuman tipis yang tercetak jelas di bibir seksinya.


“Sepertinya ini akan sangat menarik karena gue sangat tahu jika Adinda nggak bakalan pernah pergi dari rumah Nona Caca, andai si Arogan itu tak banyak tingkah!” ucapnya kemudian.


Setelah puas menatap puncak-puncak gedung perkantoran padat yang terlihat jelas dari atas, tepatnya di ruang kerjanya,  Roland kembali menarik kursi kerjanya lalu mulai memainkan jarinya di atas keyboard laptop dengan senyum tipis tersungging di bibirnya.


“Jalan Merdeka? Apa yang dilakukan Adinda di sina?” Roland mengusap pelipisnya, berpikir sejenak kantor apa saja yang ada di Jalan Merdeka.

__ADS_1


Lelaki itu akhirnya mencari titik lokasi secara detail di mana areal Adinda saat ini berada. Mata lelaki itu bisa melihat dengan jelas jika Mini chip yang ia sematkan di koper milik sang pengasuh anak atasannya itu, ternyata terlihat sedang bergerak.


“Apa dia ingin pulang kampung ke Sukabumi? Tapi jalannya bukan ke sana? Mau kemana sih sebenarnya perempuan itu?” monolognya risau.


Kedua matanya terus saja mengikuti gerakan kemana arah perginya sang janda pengasuh.


***


‘Apa dengan cara begini dia mengharapkan supaya aku mau rujuk kembali dengannya?’ pikir Adinda di dalam hati benar-benar merasa dilema, antara menghubungi sang mantan suami atau mengabaikan begitu saja seluruh uang yang dikirimkan Reza selama ini.


‘Sebenarnya berapa jumlah uang yang jadi hak halal untukku? Kalau dihitung itu dengan tambahan masa iddah uang itu masih berselisih puluhan juta. Astaghfirullah … kenapa Mas Reza melakukan semua ini?’ batinnya sembari memejamkan kedua mata menahan emosi yang bergejolak di dalam jiwa.

__ADS_1


Reno yang sejak tadi setiap saat mencuri pandang pada wanita yang duduk di sebelahnya, merasa bingung dengan tingkah Adinda setelah keluar dari ATM salah satu bank nasional. Pikirannya dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan tentang apa yang membuat perempuan itu tiba-tiba saja bermuram durja.


Ehem!


Deheman lelaki itu sontak saja membuat Adinda membuka mata dan langsung menoleh ke samping.


“Apa yang terjadi, Adinda? Kenapa kamu berubah setelah melihat isi tabunganmu? Apa Reza membohongimu dan sama sekali tak pernah menafkahimu selama ini, maksud saya sebelum kalian berpisah?” tanya Reno dengan beruntun karena begitu banyak pertanyaan yang tersimpan di dalam benaknya saat ini.


“Mas Reza malah membuat saya merasa bingung. Ternyata dia masih mengirimi saya uang sampai sekarang, atau entahlah … sebab buku tabungan masih ada dalam koper dan saya nggak mungkin minta tolong pihak bank untuk memprint kan buku itu sekarang, biar tahu berapa jumlah uang yang dia kirimkan tiap bulan untuk saya. Apa maksudnya coba memberikan uang dengan nominal yang tidak sesuai dengan perjanjian pernikahan kami?” Adinda masih menatap ke samping menunggu komentar yang mungkin saja terlontar dari bibir Reno.


“Nanti kamu bisa pergi ke bank sebentar biar tahu hasil cetak data buku tabunganmu supaya hatimu lebih lega dan mengetahui berapa nominal setiap bulan Reza mengirimmu uang. Dan jika kamu merasa tidak berhak … kamu bisa mengembalikannya tanpa harus bertemu dengan orangnya, karena saya yakin kamu belum siap untuk bertemu dengan Pak Reza, bukan?” Reza kembali fokus melihat jalanan kota, hatinya merasa teriris. Entah kenapa tak suka jika Reza masih memberikan perhatian penuh pada mantan istrinya.

__ADS_1


Saat mereka membisu, tiba-tiba saja ada panggilan masuk di ponsel Reno tetapi laki-laki itu tetap abai karena masih fokus memperhatikan jalan yang ada di depan. Namun, ponsel itu kembali berdering dengan nomor kontak yang tidak dikenalnya, mengarahkan layar ponsel kepada Adinda dengan dahi yang berkerut.


__ADS_2