
Dokter Raihan ke luar dari kamar Akram dengan senyum yang masih membekas di bibirnya. Lelaki itu menutup pintu dengan wajah sedikit kaget karena melihat nyonya Ramindra ternyata masih berdiri di depan pintu kamar putranya, begitu pun dengan Adinda yang juga ikut menemani sang nyonya besar di rumah tersebut karena merasa ikut khawatir dengan kondisi kesehatan sang tuan majikan.
“Gimana keadaan Akram, Raihan? Adikmu itu bikin saya jengkel saja, entah apa penyakit yang ia derita tapi sama sekali tak mau dibawa ke rumah sakit! Apa dia baik-baik saja?” tanya nyonya Ramindra dengan mimik yang masih panik karena takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap duda satu anak itu.
Raihan tersenyum tipis tetapi dia tak mungkin mengatakan jika Adik kelasnya masa SMA itu sebenarnya hanya berpura-pura sakit saja demi mengambil perhatian dari pengasuh putrinya.
Raihan pun menoleh pada Adinda, “Apakah kamu bisa membuat bubur untuk si Akram?” tanya Dokter Raihan sekedar mengalihkan perhatian agar perempuan itu cepat pergi sehingga dia bisa bicara empat mata dengan nyonya Ramindra.
Raihan melihat jelas jika Adinda bukanlah perempuan yang sempurna seperti Kebanyakan wanita-wanita yang selama ini mengejar-ngejar duda satu anak itu, tapi di matanya ternyata pengasuh putri dari Adik kelasnya tersebut memiliki daya tarik yang tidak dipunyai oleh gadis lain. Raihan menganggap Adinda hanyalah seorang gadis biasa yang sederhana bahkan wajahnya pun sama sekali tidak terlihat dipoles dengan make up tebal kecuali hanya sekedar bedak tipis yang menghiasi wajahnya.
__ADS_1
“Namamu, Adinda kan?” tanya Raihan hanya sekedar memastikan saja karena dia belum berkenalan langsung dengan perempuan yang mampu membuat sang adik kelas masa SMA yaitu seperti orang gila yang rela melakukan sandiwara sampai harus memakai kulit cabe segala.
“Eh iya, dokter … saya Adinda, pengasuhnya nona Caca.” Adinda sedikit menganggukkan kepala tanda hormat pada dokter yang baru memeriksa tuannya, di mana sudah pasti dokter tersebut memiliki pengaruh besar di dalam keluarga ramindra sehingga Gadis itu tak ingin melakukan kesalahan sedikit pun.
Adinda sebenarnya sedikit merasa heran karena dokter itu belum menjawab pertanyaan sang tuan rumah tapi malah bertanya padanya seakan menyuruhnya untuk membuatkan bubur untuk tuannya tapi kenapa harus memastikan namanya segala?
“Tentu saja,” sahut Adinda yang langsung melirik pada nyonya Ramindra, “kalau begitu, Dinda ke dapur dulu ya, Ma,” ucap Dinda pada perempuan yang sama sekali tak pernah mau dipanggil nyonya dan lebih merasa bahagia jika dirinya dipanggil mama oleh Adinda.
Mendengar panggilan Adinda terhadap nyonya Ramindra, membuat dahi Raihan jadi berlipat, sampai-sampai kedua alisnya pun naik ke atas dengan bertaut karena merasa heran kenapa pengasuh tersebut dengan begitu lancang memanggil nyonya besar di rumah itu dengan sebutan mama.
__ADS_1
“Dia memanggil tante dengan sebutan mama?” Raihan menatap wajah nyonya Ramindra yang langsung menganggukkan kepala mengiyakan jika yang dipertanyakan sama dokter Raihan betul adanya.
“Raihan, kamu itu nggak usah berbelit-belit jika memang memiliki pertanyaan yang ada di dalam kepalamu itu karena tante saat ini lebih penasaran dengan kondisi Akram. Sekarang cepat katakan, apa sebenarnya yang terjadi sama Akram sampai-sampai anak tante itu seperti orang jadi-jadian saja dengan memakai koyo cabe segala! Coba deh kamu ingat, pernah nggak sih melihat anak itu menggunakan koyo cabe dengan alasan sakit kepala?” Nyonya Ramindra menaikkan sebelah alis matanya menunggu jawaban dari Raihan yang jelas-jelas tahu pasti seluk beluk kesehatan dari keluarga besar Ramindra, termasuk dengan kondisi tubuh seorang Akram.
“Anak tante itu hanya bersandiwara saja karena ingin mengambil hati Adinda!”
Pyarr!
Nampan yang ada di tangan Adinda jatuh ke lantai ketika mendengar pernyataan dokter Raihan terhadap nyonya Ramindra.
__ADS_1