Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 62. Perasaan Berbeda


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Adinda setelah menunaikan shalat fardhu subuh, langsung turun ke bawah dan masuk ke area dapur, padahal sudah ada para pelayan yang sigap dan begitu lues mengerjakan segala apa yang ada di rumah mewah itu. Namun, Adinda meminta tolong pada seluruh pelayan yang bekerja di dapur untuk meninggalkan area itu karena dia yang ingin mengeksekusi segala masakan pagi ini sekedar untuk membuktikan pada seorang Akram, bahwa dirinya tidak hanya mampu mengasuh seorang anak kecil, tapi dirinya juga bisa menaklukkan perut semua penghuni rumah ini.


“Kayaknya pagi ini aku mau bikin omelet isi wortel dan juga sawi sebagai teman makan nasi goreng spesial. Aku juga akan membuat sandwich untuk Caca, sepertinya tadi di dalam kulkas juga ada selada, sosis, keju slice tambah dadar telur dan sedikit irisan tomat, mudah-mudahan aja Caca nya suka!” Adinda memutuskan untuk membuat sarapan simpel saja yang penting rasanya enak dan disukai oleh penghuni rumah.


Dalam waktu 45 menit semua masakan menu sarapannya telah terhidang di atas meja dan kedua bola mata Adinda menatap kagum dengan hasil karya tangannya sendiri.


“Alhamdulillah, akhirnya bisa selesai juga. Semoga lidah penghuni rumah ini sesuai dengan masakanku,” harap Adinda bermonolog sendiri dengan tangan yang tetap bekerja meletakkan piring di setiap depan kursi.


Gadis itu berharap dengan kehadirannya di rumah besar ini bukan hanya bekerja sebagai seorang pengasuh Semata, tetapi juga mampu membuat orang-orang yang tinggal bersamanya merasa bahagia kenal dengannya. Gadis itu sangat berharap, jika dirinya bisa dihargai tanpa memandang statusnya.


“Maaf, non … itu non Caca manggil terus dari tadi sambil nangis minta bunda. Kami gak bisa mendiamkannya karena pas bangun liat non Dinda nggak ada, langsung si nona kecil histeris. Bunda hilang lagi katanya,” ucap salah seorang pelayan yang datang dengan nafas terengah-engah menghampiri Adinda di dapur.


“Astagfirullah, kok bisa?” tanya Adinda tanpa menunggu jawaban sang pelayan, perempuan gatel itu langsung berlari kecil menaiki undakan anak tangga untuk melihat keadaan Caca.

__ADS_1


Ceklek!


“Bundaa!!” Caca yang ada di dalam gendongan Baby Sitternya langsung saja memberontak minta turun dan merentangkan kedua tangannya ke arah Adinda sembari menangis tersedu sedan.


“Bunda ke mana kok ndak ada waktu Caca bangun tidul, Bunda mau pelgi diam-diam ninggalin Caca lagi, ya?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir mungilnya si kecil di sela isak tangisnya membuat Adinda menenggelamkan kepala Gadis kecil itu di ceruk lehernya yang mengenakan hijab instan warna hitam.


Dia benar-benar tak menyangka kalau Caca begitu takut akan kehilangannya.


“Bunda kan udah janji kalau nggak bakal ninggalin Caca lagi, cup cup cup ya … kalau Caca nangis terus berarti nggak sayang ama bunda lagi dong!” bujuk Adinda berusaha memenangkan si kecil.


“Caca mau sama Bunda telus telus, Caca ndak mau ditinggal, hoaaa!”


Adinda juga merasa sangat bingung dengan perubahan Akram yang terlihat jauh lebih bijak walau terkadang mulutnya masih susah banget untuk dihubungi.

__ADS_1


“Kalau Caca mau sama bunda terus terus … ada syaratnya ya, Nak.” Adinda mulai berusaha membuat si kecil belajar dengan namanya tanggung jawab.


“Calat? Calat itu apa, Bunda? Caca mau calat juga, bial Bunda ndak pelgi lagi kayak dulu!” Tangis si kecil langsung saja mereda, membuat Adinda tersenyum tipis.


“Syaratnya sangat mudah, Caca harus janji dulu untuk berhenti menangis,” pinta Adinda dengan suara lembut.


Gadis kecil yang menggemaskan itu memang mampu membuat siapa saja melihatnya bakal tergoda.


“Caca janji, Bunda. Kita punya lahasia hihihi,” beo si kecil.


“Syaratnya Caca harus selalu sehat dan tersenyum untuk bunda,” jawab Adinda mengusap-usap kepala anak majikannya.


“Oocee, ciapa takut?” tantang anak kecil itu dengan gaya seperti seorang pria arogan.

__ADS_1


Nyonya Ramindra yang menyaksikan keakraban dua manusia beda usia itu merasa sangat terharu. Adinda sudah seperti ibu kandung dari cucunya sendiri. Begitu pun Akram yang juga bisa melihat ketulusan dari mantan istri Reza itu pada putrinya.


Akram yakin kalau kali ini perasaannya tak salah setelah merasa cemas saat Adinda panas sedikit saja. Bukankah itu pertanda kalau ada sesuatu yang terjadi di dalam hatinya?


__ADS_2