Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 87


__ADS_3

“Akram … bagaimana kalau sekarang kita ke rumah sakit saja untuk mengetahui sakit apa yang sebenarnya sedang kamu derita, nak? Lihatlah, keringatmu keluar sebesar biji jagung!” Nyonya Ramindra dengan sengaja berucap seperti itu supaya Akram bisa gelagapan karena wanita paruh baya tersebut meyakini, jika apa yang ia ucapkan pasti membuat anaknya itu merasa tak tenang.


Uhuk! Uhuk! Uhuk!


Akram langsung saja terbatuk, seolah-olah baru saja tersedak oleh air ludahnya sendiri saat mendengar ucapan sang Mama yang mengajaknya pergi ke rumah sakit. Bagaimana mungkin duda satu anak itu berani pergi untuk ke rumah sakit, sementara dirinya merupakan orang yang sangat sehat luar biasa.


“Gak usah lah, Ma … palingan nanti kalau udah istirahat bakal sembuh sendiri,” elak Akram yang tak ingin jika sampai ketahuan akal bulusnya hanya karena persoalan cemburu tak berdasar.


Cemburu tapi tak mau mengakui. Cemburu tetapi tak punya hubungan apa pun dengan sang janda perawan. Namun, merasa sakit hati saat wanita itu pergi bersama pria lain.

__ADS_1


“Jangan begitu, Tuan … jika anda dibawa ke rumah sakit maka seandainya ada penyakit berbahaya yang datang maka lebih cepat akan terdeteksi, jadi kita bisa mengantisipasi tentang apa yang harus dilakukan ke depannya. Jangan pernah menyepelekan penyakit ringan. Seharusnya Tuan mengetahui jika semua penyakit berbahaya itu diawali dengan penyakit ringan yang terabaikan.” Adinda kembali berbicara tanpa diminta dan sungguh akan menjadi Serba Salah karena dirinya pasti akan ketahuan jika sampai di bawah ke rumah sakit, apalagi kalau sampai diperiksa oleh dokter yang tidak dikenalnya. Bukankah itu namanya dia sedang mencari mati dan menggali kuburannya sendiri?


“Papa kenapa nggak mau ke lumah cakit? apa Papa takut dicuntik cama bu doktel? Caca aja pelnah dicuntik cama ibu bidan, tapi Caca ndak nanyis tuh! Maca Papa yang udah tua takut ke lumah cakit untuk dicuntik, Oma bilang olang yang takut dicuntik itu olang nya lleebaiii” Caca kembali beraksi dengan menggemaskan, mengedipkan mata beberapa kali merasa bingung kenapa orang dewasa seperti Papanya bisa takut untuk pergi ke rumah sakit?


“Nanti kalau papa dicuntik … Caca bakal peluk papa bial ndak cakit lacanya. Oma bilang kita ndak boyeh cengeng kao dicuntik, coalnya dicuntik itu laca digigit cemut, maca Papa kalah cama caca?” celetuk bocah kecil itu dengan lucunya membuat mereka semua yang ada di kamar Akram sontak tertawa tapi hanya Roland yang terpaksa keluar kamar untuk meledakkan tawanya karena tidak pernah mengira jika sang bos sampai berkorban menggunakan koyo cabe demi totalitas sandiwara.


“Kayaknya tuh asisten tuan Akram jadi sedeng deh saking banyaknya kerjaan kantor.”


“Kasian juga ya, ganteng-ganteng entar malah kurang setengah hahaha,” timpal pelayan lain.

__ADS_1


“Hust! Kalian ini gak tau masalahnya jangan pada sok tau, itu pak Roland tertawa karena tuan Akram pake koyo cabe,” beritahu Neni si teteh mantan Babysitter yang sudah berubah jadi pelayan itu.


“Pakai koyo cabe?” beo mereka semua karena merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan Neni.


“Apa dan Akram lagi sakit gigi?” tanya salah satu dari mereka tetapi Neni langsung menggelengkan kepala.


“Tuan Akram bilang, beliau sedang sakit kepala makanya sampai make koyok cabe tanpa tahu dahsyatnya rasa selembar koyo itu, enggak tahu deh apa jadinya sekarang kulit tampannya Tuan Akram hihihi.” Gadis itu pun akhirnya ikut tertawa karena tadi matanya sempat melirik, jika Tuan majikan di rumah ini terlihat menahan sesuatu tetapi kemungkinan besar merasa malu untuk mengakuinya.


“Terus yang anehnya lagi, saat Tuan Akram bilang dirinya selalu merasakan kesakitan dan diajak sama Nyonya besar ke rumah sakit, Tuan malah nggak mau sama sekali! Aneh nggak sih? Apa jangan-jangan yang dibilang Non Caca itu beneran lagi, kalau Tuan Akram itu takut sama jarum suntik.”

__ADS_1


__ADS_2