
“Akram benci perselingkuhan!”
“Tapi dia bukan istrimu!!” tegas sang mama memukul telak pikiran yang sering bercokol di dalam kepalanya.
Mendengar orang bertengkar persis di depan pintu kamar yang ditempatinya, membuat Adinda akhirnya memutuskan untuk keluar tapi matanya melihat wajah damai si kecil yang tadi sempat menangis ternyata sudah menutup mata dengan nyenyaknya.
“Lucu sekali kamu, Nak. Kita tak punya ikatan apa-apa tapi kenapa aku merasa sayang denganmu,” monolog Adinda mengecup singkat kening si mungil Caca.
Adinda pun beranjak dan pergi keluar kamar untuk melihat apa sebenarnya yang sedang terjadi antara Nyonya Ramindra dengan putranya, tentu saja Gadis itu tidak berniat untuk ikut campur urusan keluarga mereka tetapi suara keras keduanya bisa saja membangunkan Caca yang baru saja memejamkan mata.
Ceklek!
“Eh, ada Nyonya,” sapanya basa-basi, padahal Adinda tahu jika wanita paruh baya itu baru saja memarahi anak lelakinya.
__ADS_1
“Maaf ya, Adinda … mama mengganggu istirahatmu tapi mama gak mau anak mama yang duda ini mengintipmu,” ucap Nyonya Ramindra yang langsung mendapatkan pelototan mata putranya.
“Ma! Aku tak mengintipnya, Ma,” bela Akram tak terima, “Mama jangan asal nuduh begini dong! Kalau nggak percaya, Mama bisa tanya langsung sama Adinda kalau Caca yang merengek minta bundanya,” lanjutnya menjelaskan.
Bisa-bisanya wanita yang telah melahirkannya itu memberikan tuduhan palsu persis di depan mata kepalanya sendiri. Bukankah itu sama saja namanya sang mama menjatuh nama baiknya di depan sang wanita?
“Helleh, bisa saja itu rencanamu sendiri yang menjadikan Caca sebagai kambing congek buat tumbal, padahal kamu sendiri yang mau ketemu Adinda,” balas Nyonya Ramindara tak mau kalah.
Adinda yang melihat dua wajah sepasang ibu dan anak itu secara bergantian, hanya bisa menghembuskan napas pasrah, karena ternyata keduanya sama-sama memiliki sifat yang sangat keras kepala alias tak ada yang mau mengalah.
“Wahh, yang bener kamu, Dinda?” Nyonya Ranindra mendorong pintu kamar yang ada di belakang Adinda lalu melihat sang cucu yang ternyata memang sudah terlelap begitu damai di atas tempat tidur.
Wanita paruh baya itu merasa tidak percaya kalau Caca yang biasanya akan rewel minta bunda sebelum tidur, ternyata langsung saja merasa sangat senang setelah bertemu dengan istri seseorang yang dipanggil nya dengan sebutan bunda.
__ADS_1
“Cucu saya ini, biasanya sangat susah diajak tidur. Dia akan memberikan banyak alasan dengan berbagai alasan tapi liatlah sekarang! Caca sepertinya merasa sangat bahagia,” ucap nyonya Ramindra mengelus lembut punggung cucunya yang tidur miring ke arah lain.
“Akram, kamu kenapa malah bengong? Buruan pindahin putrinya ke kamarnya!” titah sang nyonya pada anaknya.
Akram mengangguk pelan tapi Adinda dengan cepat mengangkat tangannya, “Biarkan saja Caca tidur sama saya malam ini. Kasian karena tadi sempat menangis dan kayaknya cucu Anda kelelahan,” pinta Adinda.
Gadis itu tak ada niat apa-apa, hanya saja merasa kasihan sama si kecil yang terlalu mendambakan kehadiran seorang wanita untuk dipanggilnya bunda.
“Kamu yakin mau tidur dengan cucu saya?” Nyonya Ramindra menatap Adinda dalam, merasa ragu kalau nanti di tengah malam cucunya akan kembali rewel dan membuat wanita yang menjadi tamu di rumahnya, merasa terganggu.
“In syaa Allah yakin, Nyonya,” sahut Adinda tulus.
“Ya sudah, kalau begitu biar makan malam mu diantarkan pelayan saja ke sini,” ucap sang empunya rumah memberitahukan.
__ADS_1
“Ayo, Akram jangan ganggu mereka!” titah sang Nyonya yang tak bisa dibantah.
‘Mama mengganggu usaha anak dudanya aja! Gak tau apa, kalau si otong udah lama berpuasa?’ gerutu Akram di dalam hati.