
Namun, Akram memperlihatkan raut wajah yang berubah. “Saya tidak setuju!” tegasnya singkat.
“Maaf, Tuan. Sepertinya saya tidak bisa untuk menyetujui penolakan anda karena bagaimanapun juga saat ini saya harus menyelesaikan semua masalah yang ada di dalam rumah tangga saya sendiri. Tolong anda mengerti dengan posisi saya saat ini,” pinta Adinda berusaha bicara dengan tidak menyinggung laki-laki arogan yang sekarang menatapnya tajam.
“Ada apa denganmu, Akram? Sejak kapan dirimu punya sifat seperti Caca? Jangan bilang kau berubah hanya karena takut ditinggalkan Adinda? Apa perkiraan mama, benar?” Nyonya Ramindra menatap wajah sang putra dengan penuh selidik.
Selama ini Akram terkeenal sebagai manusia yang memiliki karakter dingin tak mau diganggu dan tak suka bergaul dengan sosok makhluk bernama perempuan, tapi apa yang terjadi sejak Adinda tanpa sengaja ditabrak oleh mobilnya saat itu? Akram bagai seorang manusia yang baru terlahir kembali sejak merana diringgal pergi oleh sang istri dengan pria lain.
“Mama jangan asal bicara karena Akram hanya merasa kalau Adinda sangat tak pantas bersanding dengan pria sampah tukang selingkuh! Seseorang yang suka selingkuh tidak akan pernah bisa berubah jika yang diselingkuhi memberikan maafnya dengan mudah. Aku hanya tak mau kalau Adinda sampai masuk ke lubang yang sama seperti diriku,” ungkap lelaki itu akhirnya menyampaikan apa yang selamai ini ingin disampaikannya.
“Oh ya, Nyo – eh, Mama. Apa saya boleh meminjam ponselnya sebentar?” tanya Adinda yang berencana akan memberitahukan sang mertua perempuan.
Gadis itu pun menyerahkan Caca pada Nyonya Ramindra setelah menerima ponsel, lalu mulai melakukan panggilan telepon.
“Halo assalamualaikum, Ibu. Gimana kabar Ibu dan Bapak sekarang, apa semuanya baik-baik saja?” Adinda memang sosok menantu idaman di mata Ibu Suryo walaupun gadis itu hanyalah seorang anak dari pelayan di rumahnya tetapi ibu Suryo sama sekali tak pernah memperlakukan Adinda bak seorang pembantu.
__ADS_1
[Wa’alaikumussalam. Apa ini Adinda, Sayang? Kamu kemana aja, Nak? Ibu dan bapak cemas memikirkanmu]
“Iya Bu, ini Adinda sengaja nelpon ibu karena ingin memberitahukan kalau Insya Allah jam 08.00 pagi ini, Adinda mau pulang ke rumah. Apa Ibu sama bapak kira-kira bisa menjadi penengah untuk menyelesaikan masalah antara Dinda dan Mas Reza?” tanya gadis itu dengan nada sangat hati-hati karena takut sang mertua akan memarahinya sebab sudah beberapa hari yang lalu tak pernah pulang ke rumah.
[Alhamdulillah … akhirnya kamu mau pulang juga, Nak. Reza sudah mencarimu kemana-mana dan tampilannya itu sekarang udah kayak gelandangan saja! Kasihan dia, sejak kepergianmu dia seperti tak mau mengurus dirinya sendiri bahkan sekalipun tak pernah datang ke kantor untuk bekerja. Kerjaannya di rumah selalu bermenung setiap hari dan tubuhnya juga semakin kurus. Parahnya sejak kemarin, Reza tak mau keluar kamar kata mbok Siti] Ibu Suryo terdengar sedikit terisak saat menceritakan sosok Putra semata wayangnya yang mengalami perubahan drastis sejak ditinggal istrinya .
“Maafkan Adinda ya Bu, aku nggak ada niat untuk pergi sama sekali dari kasih sayangnya ibu dan bapak Suryo, hanya saja waktu keluar dari kantornya Mas Reza … aku mengalami kecelakaan dan langsung dilarikan ke rumah sakit,” cerita Adinda dengan sengaja menyembunyikan penyebab dari terjadinya kecelakaan itu.
[Ibu sama Bapak udah tahu semua kok Adinda, jadi kamu tak perlu menutup-nutupinnya lagi! Baiklah, ibu akan langsung pergi ke rumah kalian bersama Bapak, kamu hati-hati di jalan ya nak! Oh iya ada satu lagi, tolong maafkan lah suamimu, beri dia kesempatan untuk memperbaiki diri]
Adinda terdiam sejenak, dirinya merasa tak bisa mengabulkan permintaan sang mertua karena malah semakin ragu untuk kembali bersama Reza.
“Kalau kamu mau pulang ke rumah suamimu maka saya akan ikut mengantarkan untuk memastikan bahwa kamu akan baik-baik saja saat bertemu dengan sampah itu nanti!” putus Akram setelah krasak krusuk dan mendapat ancaman dari mamanya ketika Adinda sibuk menelpon sang mertua.
“Tapi kalau kamu pergi, bagaimana dengan nasib Caca? Putriku benar-benar terlihat sangat menyukai dan juga menyayangimu, serta berharap sekali kalau dirimu itu adalah bundanya!” lanjut Akram dengan pandangan nanar penuh harapan.
__ADS_1
Adinda berjalan mendekati Caca yang sedang sibuk bermainan sendok di atas lantai, memberikan makan untuk boneka berbie kesayangannya. Adinda memperhatikan Gadis kecil itu lalu mengusap-usap kepalanya.
“Caca, bunda mau pergi dari sini tapi Caca harus janji gak boleh nangis karena Insya Allah nanti bunda akan datang lagi ke sini untuk bertemu dengan Caca.” Gadis itu menangkup kedua pipi bakpao menggemaskan milik Caca lalu mendaratkan kecupan di kiri dan kanannya.
Namun, saat Adinda ingin menggendong putri kecil itu, tiba-tiba saja kedua bola mata batita tersebut langsung saja berkaca-kaca dengan bibir yang mulai bergerak-gerak hendak mengeluarkan tangisannya.
“Caca mau ikut cama Bundaaa … Caca ndak mau ditinggal lagi kayak kemalen-kemalen. Papa boong! Kata papa, Bunda ndak bakal ninggalin Caca lagi. Papa bilang bunda akan ada telus buat temanin Caca bobok.”
Hoaaa!
Hoaaa!
Tangis gadis kecil itu akhirnya pecah juga, dan itu sungguh membuat hati Akram terasa sangat sakit sekali. Andai saja nyonya Ramindra tidak ikut campur dengan apa yang dilakukan putranya, maka pria itu sudah pasti akan membelenggu gadis bernama Adinda agar mau selalu berada bersama putri kecilnya.
“Cemua olang jahat cama Caca! Papa cama bunda juga jahat, ndak ada yang cayang cama Caca lagi, hiks hiks.”
__ADS_1
Akram ikut berjongkok di dekat putrinya dan juga Adinda, meraih tubuh mungil yang masih terisak itu ke dalam pelukannya, lalu menatap sendu pada wajah gadis yang sedang tertunduk di dekat mereka.
“Apakah kamu tega menghancurkan impian putri kecilku yang merindukan sosok seorang bunda?”